Minggu, 04 September 2011

Pertahankan Budaya dan Sejarah Jogja!

Yogyakarta, PonPes Al-Amin Pabuaran. Barisan pemuda dan pecinta budaya yang tergabung dalam Foris (Forum Pemuda Peduli Keistimewaan DIY), menggelar aksi damai di kawasan titik nol kilometer, Yogyakarta, Senin sore (6/5) kemarin.

Sedikit berbeda dengan aksi demonstrasi pada umumnya, kali ini massa menggelar aksi dengan mengenakan pakaian tradisional; kebaya dan blangkon. Juga diiringi dengan alunan musik tradisional dan lenggokan para penari tradisional. Tak hanya itu, massa aksi juga membentangkan seluruh foto para sultan kraton Jogja yang terbingkai dalam figura, dari sultan pertama hingga sekarang.

Pertahankan Budaya dan Sejarah Jogja! (Sumber Gambar : Nu Online)
Pertahankan Budaya dan Sejarah Jogja! (Sumber Gambar : Nu Online)


Pertahankan Budaya dan Sejarah Jogja!

Muhammad Abduh Zulfikar, selaku koordinator umum memaparkan, bahwasannya ada empat hal utama yang menjadi tuntutan dan pernyataan sikap dari Foris. Empat hal itu seluruhnya mengajak para kawula muda untuk:

PonPes Al-Amin Pabuaran

Pertama, tetap mengingat bahwa kesultanan Ngayogyakarto Hadiningrat adalah penerus kerajaan mataram Islam Jawa yang toleran dan plural.

Kedua, menghargai nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh para pendiri kasultanan.

Ketiga, menuntut dan memastikan untuk dimasukkannya gelar lengkap sultan, yaitu Ngarso Dalem Sampean Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Ngalaga Ngabdurahman Sayidin Panatagama Khalifatullah Ing Ngayogyakarta Hadiningrat, ke dalam Perdais (Peraturan Daerah Istimewa) DIY, berikut penjelasannya. Karena hal itu merupakan sumber inspirasi, motivasi, dan pedoman bagi seluruh kawula muda dalam mengisi dan mewarnai keistimewaan DIY.

PonPes Al-Amin Pabuaran

Keempat, menolak dan melawan upaya-upaya yang mengebiri gelar sultan dan membelakangi para leluhur, dengan tidak mencantumkan secara lengkap gelar sultan maupun dengan menyembunyikan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya kepada publik.

Gelar dipotong, berarti hianat terhadap para leluhur, tandas mahasiswa Universitas Gadjah Mada tersebut.

Sementara itu menurut salah satu massa aksi, Kadi yang berasal dari Pondok Pesantren Kaliopak Piyungan, Sleman, mengatakan bahwa memang sudah seharusnya para kawula muda mempertahankan ini, karena para leluhur membangunnya dengan kekuatan batin dan budaya yang tidak bisa diremehkan. Hal itu juga yang menjadikan Indonesia kaya akan budaya.

Pertahankan budaya dan sejarah Jogja! Karena itu merupakan roh bangsa, tegas Bapak berkepala enam yang mengenalkan dirinya sebagai relawan budaya pada sore itu.

Aksi damai tersebut berakhir pada pukul 17.00 WIB, dan ditutup dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, serta berjalan menuju kantor DPRD DIY guna menyampaikan aspirasi kepada para anggota dewan.

Redaktur : A. Khoirul Anam

Kontributor: Dwi Khoirotun Nisa

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/44273/pertahankan-budaya-dan-sejarah-jogja

PonPes Al-Amin Pabuaran

Menyajikan informasi secara lugas dan berimbang, disertai data-data yang akurat dan terpercaya.


EmoticonEmoticon

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PonPes Al-Amin Pabuaran sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PonPes Al-Amin Pabuaran. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PonPes Al-Amin Pabuaran dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock