Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Mei 2016

Ikhwanul Muslimin, Dari Pembubaran ke Pembubaran

Mesir, PonPes Al-Amin Pabuaran. Sebuah pengadilan di Mesir memerintahkan Ikhwanul Muslimin dibubarkan atau dilarang keberadaannya dan seluruh asetnya disita, sebagai kelanjutan dari tindakan keras oleh pemerintah yang didukung oleh militer pada pendukung presiden terguling Mohammad Morsi.

Keputusan yang dikeluarkan pada Senin, 23 September oleh Pengadilan Kairo melarang Ikhwanul Muslimin, dan institusi lain yang memiliki keterkaitan atau menerima dukungan finansial.

Ikhwanul Muslimin, Dari Pembubaran ke Pembubaran (Sumber Gambar : Nu Online)
Ikhwanul Muslimin, Dari Pembubaran ke Pembubaran (Sumber Gambar : Nu Online)


Ikhwanul Muslimin, Dari Pembubaran ke Pembubaran

Tidak ada kejelasan, apakah hal ini juga diaplikasikan untuk layanan amal dan sosial yang terkait dengan Ikhwanul Muslimin, termasuk sekolah dan rumah sakit.

Pengadilan tidak mengungkapkan alasan keputusan tersebut, tapi dipicu oleh gugatan yang diajukan oleh sayap kiri Partai Progresif Persatuan Nasional, yang dikenal sebagai Tagammu, yang menuduh Ikhwanul Muslimin sebagai teroris dan mengeksploitasi agama sebagai slogan politik.

PonPes Al-Amin Pabuaran

PonPes Al-Amin Pabuaran

Penyitaan aset dan pelarangan organisasi terkait, akan melemahkan jaringan Ikhwanul Muslimin di akar rumput. Keputusan pengadilan tersebut masih bisa diajukan banding.

Ikhwanul Muslimin dilarang dalam sebagian besar eksistensinya selama 85 tahun sebelum dilegalkan pada 2011 dan kemudian pada Maret 2013, didaftarkan sebagai non-governmental organization (NGO).

Organisasi ini didirikan oleh Hasan Al Banna pada 1925, pertama kali dilarang pada 1948 setelah kembali dari Palestina selama masa pemerintahan Raja Faruk.

Waktu itu, Ikhwanul Muslimin diperkirakan memiliki 2000 cabang dan 500 ribu anggota atau simpatisan.

Setelah menjalin kerjasama dengan kelompok penjabatan militer nasionalis pada 1952 untuk meruntuhkan monarki, bulan madu singkat berakhir pada 1954 ketika Ikhwanul Muslimin menentang konstitusi sekuler dari pemimpin kudeta.

Ikhwanul Muslimin, kembali dilarang dan waktu itu, ribuan anggotanya dipenjarakan, banyak diantaranya disiksa di penjara dan di kamp-kamp konsentrasi.

Penerus Nasser, Anwar Sadar, menjadi presiden Mesir pada 1970 dan secara bertahap membebaskan para anggota Ikhwanul Muslimin.

Organisasi ini ditoleransi sampai pada batas tertentu, tetapi secara teknis, tetapi illegal dan menjadi subyek penumpasan periodik, khususnya setelah penandatanganan, perjanjian perdamaian Mesir dengan Israel pada 1979.

Pada 1980-an, selama pemerintahan Husni Mubarak, banyak aktifis mahasiswa Islam bergabung dengan Ikhwanul Muslimin, yang membuat Ikhwanul Muslimin mendominasi asosiasi profesional dan mahasiswa di Mesir.

Selama sepuluh tahun selanjutnya, Ikhwanul Muslimin meminta diberlakukannya sistem politik yang lebih demokratis, meskipun menghadapi tindakan keras aparat keamanan sebagai kelompok dilarang selama era Mubarak.

Disamping larangannya pada 2013, Ikhwanul Muslimin mungkin memiliki anggota antara 300.000-1 juta, tetap sangat tidak populer diantara populasi Mesir lainnya yang berjumlah 85 juta. (onislam.net/mukafi niam)

Foto: Businessinsider.com

Dari (Internasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/47260/ikhwanul-muslimin-dari-pembubaran-ke-pembubaran

PonPes Al-Amin Pabuaran

Selasa, 21 Januari 2014

Dari :

 - PonPes Al-Amin Pabuaran
- PonPes Al-Amin Pabuaran


Kamis, 16 Mei 2013

Mayoritas Pembaca Duta Islam Setuju FPI Dibubarkan

PonPes Al-Amin Pabuaran - Puluhan kali redaksi PonPes Al-Amin Pabuaran menulis dan memuat laporan-laporan berita, opini, esai dan editorial yang membahas tentang FPI dan polemik-polemiknya. Pro-kontra pasti terjadi. Terutama ketika PonPes Al-Amin Pabuaran menulis laporan kritis atas dakwah FPI yang sangat merugikan citra umat Islam Indonesia.

Mayoritas Pembaca Duta Islam Setuju FPI Dibubarkan - PonPes Al-Amin Pabuaran
Mayoritas Pembaca Duta Islam Setuju FPI Dibubarkan - PonPes Al-Amin Pabuaran


Mayoritas Pembaca Duta Islam Setuju FPI Dibubarkan

Anda bisa cek di rubrik Radikalisme. Di sana banyak memuat rangkuman jejak FPI dan kelompok radikal yang sepaham dalam perjuangan yang disebut "nahi munkar". Melalui page PonPes Al-Amin Pabuaran dan juga Komunitas Islam Nusantara yang adminnya selalu simpatik men-share postingan PonPes Al-Amin Pabuaran, akhirnya konten redaksi dibaca puluhan ribu kali, bahkan ada yang ratusan ribu.

Sejak dua pekan terakhir, terhitung mulai 24 Januari-10 Februari 2017, PonPes Al-Amin Pabuaran menyediakan menu khusus poling atau jajak pendapat pembaca tentang polemik Front Pembela Islam (FPI).

Sejak digelar akhir bulan lalu, total pageview yang datang ke situs PonPes Al-Amin Pabuaran adalah 721.523 kali dengan rata-rata view harian 15-70 ribu. Puluhan ribu pengunjung inilah yang berkesempatan menjawab satu pertanyaan "Setujukah Anda Jika FPI Dibubarkan?".

Tidak ada paksaan atau saran dari redaksi untuk menggiring pembaca mengisi poling. Semuanya bisa berpartisipasi. Pertanyaan poling PonPes Al-Amin Pabuaran di atas sengaja dipilih mengingat sejauh ini FPI disebut sebagai ormas paling populer nomor 3 di Indonesia setelah Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, walaupun menurut survei pada Januari 2017 lalu, penduduk muslim Indonesia hanya sedikit yang mengaku berafiliasi dengan FPI. Angkanya hanya 0,2 persen.

PonPes Al-Amin Pabuaran melanjutkan survei maya melalui poling untuk membuat kesimpulan atas penelitian di atas. Dari 857 total peserta poling, 582 orang setuju FPI dibubarkan (67%). Sementara, 249 orang pembaca lainnya memilih menjawab tidak setuju. 26 orang di antaranya (3%), menjawab tidak tahu. Artinya, mayoritas pembaca ternyata tidak setuju kehadiran FPI.

Jika poling di atas bisa disebut sebagai indikasi masih adanya simpati moderatisme Islam di kalangan netizen, maka, paling tidak hal itu bisa membuat lega tim redaksi yang selama ini tak kenal lelah melawan radikalisme, terorisme dan segala bentuk gerakan pemecah belah kesatuan NKRI melalui postingan yang kadang, mohon maaf, sarkastik.

"Begal-begal politik" yang menggunakan agama sebagai dagangan murah memang harus dilawan dengan cara-cara, yang kadang harus thas-thes (langsung mengena). PonPes Al-Amin Pabuaran mengambil posisi dakwah tersebut di tengah situs-situs aswaja lainnya yang terkesan diam dan memilih hanya "bersyiar dalam ketekunan yang menenangkan".

Untuk menyadarkan, kadang memang harus dibentak, dipisuhi dan dipukuli. Risikonya jelas konflik. Tapi setelah itu, resolusi atas konflik akan terjadi jika terus ingin memperbaiki diri. PonPes Al-Amin Pabuaran, dalam posisi ini, siap dan sadar menerima risiko dibully dan dihujat, demi masyarakat Indonesia yang harus terus berpikir dewasa dan tidak ngamukan.

Terimakasih kepada para pembaca yang sudi meluangkan waktunya untuk mengisi poling sederhana PonPes Al-Amin Pabuaran. Jazakumullah khoirol jaza'. Maaf tidak bisa mengganti pulsa data-nya, maklum redaksi kami rata-rata santri, masih belajar dan mengaji. Salam waras dari DI. [PonPes Al-Amin Pabuaran]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/mayoritas-pembaca-duta-islam-setuju-fpi-dubarkan.html

Sabtu, 17 November 2012

Aneh, Jenderal Perang Ini Dipecat Tapi Berterimakasih

PonPes Al-Amin Pabuaran - Pada zaman pemerintahan Khalifah Syaidina Umar bin Khatab, ada seorang panglima perang yang disegani lawan dan dicintai kawan. Panglima perang yang tak pernah kalah sepanjang karirnya memimpin tentara di medan perang. Baik pada saat beliau masih menjadi panglima Quraish, maupun setelah beliau masuk Islam dan menjadi panglima perang umat muslim. Beliau adalah Jenderal Khalid bin Walid.

Namanya harum dimana-mana. Semua orang memujinya dan mengelu-elukannya. Kemana beliau pergi selalu disambut dengan teriakan, "Hidup Khalid, hidup Jenderal, hidup Panglima Perang, hidup Pedang Allah yang Terhunus." Ya! .. beliau mendapat gelar langsung dari Rasulullah SAW yang menyebutnya sebagai Pedang Allah yang Terhunus.

Dalam suatu peperangan beliau pernah mengalahkan pasukan tentara Byzantium dengan jumlah pasukan 240.000. Padahal pasukan muslim yang dipimpinnya saat itu hanya berjumlah 46.000 orang. Dengan kejeliannya mengatur strategi, pertempuran itu bisa dimenangkannya dengan mudah. Pasukan musuh lari terbirit-birit.

Itulah Khalid bin Walid, beliau bahkan tak gentar sedikitpun menghadapi lawan yang jauh lebih banyak.

Ada satu kisah menarik dari Khalid bin Walid. Dia memang sangat sempurna di bidangnya; ahli siasat perang, mahir segala senjata, piawai dalam berkuda, dan karismatik di tengah prajuritnya. Dia juga tidak sombong dan lapang dada walaupun berada dalam puncak popularitas.

Pada suatu ketika, di saat beliau sedang berada di garis depan, memimpin peperangan, tiba-tiba datang seorang utusan dari Amirul mukminin, Syaidina Umar bin Khatab, yang mengantarkan sebuah surat. Di dalam surat tersebut tertulis pesan singkat, "Dengan ini saya nyatakan Jenderal Khalid bin Walid di pecat sebagai panglima perang. Segera menghadap!"

Menerima kabar tersebut tentu saja sang jenderal sangat gusar hingga tak bisa tidur. Beliau terus-menerus memikirkan alasan pemecatannya. Kesalahan apa yang telah saya lakukan? Kira-kira begitulah yang berkecamuk di dalam pikiran beliau kala itu.

Sebagai prajurit yang baik, taat pada atasan, beliaupun segera bersiap menghadap Khalifah Umar bin Khatab. Sebelum berangkat beliau menyerahkan komando perang kepada penggantinya.

Sesampai di depan Umar beliau memberikan salam, "Assalamualaikum ya Amirul mukminin! Langsung saja! Saya menerima surat pemecatan. Apa betul saya di pecat?"

"Walaikumsalam warahmatullah! Betul Khalid!" Jawab Khalifah.

"Kalau masalah dipecat itu hak Anda sebagai pemimpin. Tapi, kalau boleh tahu, kesalahan saya apa?"

"Kamu tidak punya kesalahan."

"Kalau tidak punya kesalahan kenapa saya dipecat? Apa saya tak mampu menjadi panglima?"

"Pada zaman ini kamu adalah panglima terbaik."

"Lalu kenapa saya dipecat?" tanya Jenderal Khalid yang tak bisa menahan rasa penasarannya.

Dengan tenang Khalifah Umar bin Khatab menjawab, "Khalid, engkau jenderal terbaik, panglima perang terhebat. Ratusan peperangan telah kau pimpin, dan tak pernah satu kalipun kalah. Setiap hari masyarakat dan prajurit selalu menyanjungmu. Tak pernah saya mendengar orang menjelek-jelekkan. Tapi, ingat Khalid, kau juga adalah manusia biasa. Terlalu banyak orang yang memuji bukan tidak mungkin akan timbul rasa sombong dalam hatimu. Sedangkan Allah sangat membenci orang yang memiliki rasa sombong''.

''Seberat debu rasa sombong di dalam hati maka neraka jahanamlah tempatmu. Karena itu, maafkan aku wahai saudaraku, untuk menjagamu terpaksa saat ini kau saya pecat. Supaya engkau tahu, jangankan di hadapan Allah, di depan Umar saja kau tak bisa berbuat apa-apa!"

Mendengar jawaban itu, Jenderal Khalid tertegun, bergetar, dan goyah. Dan dengan segenap kekuatan yang ada beliau langsung mendekap Khalifah Umar.

Sambil menangis belaiu berbisik, "Terima kasih ya Khalifah. Engkau saudaraku!"

Bayangkan Sahabat…. Jenderal mana yang berlaku mulia seperti itu? Mengucapkan terima kasih setelah dipecat. Padahal beliau tak berbuat kesalahan apapun. Adakah Jenderal yang mampu berlaku mulia seperti itu saat ini?

Hebatnya lagi, setelah dipecat beliau balik lagi ke medan perang. Tapi, tidak lagi sebagai panglima perang. Beliau bertempur sebagai prajurit biasa, sebagai bawahan, dipimpin oleh mantan bawahannya kemarin.

Beberapa orang prajurit terheran-heran melihat mantan panglima yang gagah berani tersebut masih mau ikut ambil bagian dalam peperangan. Padahal sudah dipecat. Lalu, ada diantara mereka yang bertanya, "Ya Jenderal, mengapa Anda masih mau berperang? Padahal Anda sudah dipecat."

Dengan tenang Khalid bin Walid menjawab, "Saya berperang bukan karena jabatan, popularitas, bukan juga karena Khalifah Umar. Saya berperang semata-mata karena mencari keridhaan Allah."

***

Sebuah kisah yang sangat indah dari seorang Jenderal, panglima perang, ''Pedang Allah yang Terhunus''.

Kita bisa mengambil banyak hikmah dari kisah ini. Betapa rendah hati Sahabat Nabi yang mulia ini. Beliau penuh kemuliaan, punya jabatan, populer, dan tak pernah berbuat kesalahan. Namun, ketika semua itu dicabut beliau sedikitpun tak terpengaruh. Beliau tetap berbuat yang terbaik. Karena memang tujuannya semata-mata hanya mencari keridhaan Allah SWT. [PonPes Al-Amin Pabuaran]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/06/aneh-jenderal-perang-ini-dipecat-tapi-berterimakasih.html

Kamis, 20 Oktober 2011

Mustasyar PBNU Dorong Orang Kaya Tunaikan Zakat

Kudus, PonPes Al-Amin Pabuaran. Mustasyar PBNU KH Syaroni Ahmadi mengajak umat Islam yang memiliki kekayaan lebih untuk menunaikan kewajibannya. Menurutnya, setiap orang yang mempunyai harta benda simpanan maupun dagangan yang sudah mencapai satu nisab (senilai 77 gram emas) wajib mengeluarkan zakat.

Ajakan ini muncul dalam forum pengajian Tafsir Al Quran di Masjid Al Aqsha Menara Kudus, Jawa Tengah, Jumat (4/4) pagi.

Mustasyar PBNU Dorong Orang Kaya Tunaikan Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Mustasyar PBNU Dorong Orang Kaya Tunaikan Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)


Mustasyar PBNU Dorong Orang Kaya Tunaikan Zakat

Bagi yang tidak berzakat, terangnya, al-Quran menjelaskan barang yang tidak dizakati pada hari kiamat akan menjadi ular yang membelenggu leher pemilik harta tersebut. Makanya kalau sudah satu nisab, kita wajib berzakat. Bila belum ada kita harus perbanyak sedekah sehingga harta benda kita memberi kemanfaatan, ajak mbah Syaroni.

PonPes Al-Amin Pabuaran

Menerangkan surat At Taghobun ayat 14-16, ulama kharismatik yang biasa disapa Mbah Syaroni ini juga menjelaskan bahwa harta benda dan anak-cucu adalah ujian bagi setiap manusia. Oleh karenanya, didiklah anak menjadi shalih dan shalihah.

Perbanyaklah Shalawat

PonPes Al-Amin Pabuaran

Mbah Syaroni juga mengajak hadirin untuk memperbanyak bacaan shalawat, dzikir, dan tasbih di tengah kesibukan kerja. Dengan harapan, meraih kehidupan yang bahagia dan berlimpah pahala dari Allah.

Kendati pekerjaan itu berbeda beda, dari yang jadi pegawai, buruh hingga petani, jangan sampai melupakan dzikir, shalawat, dan tasbih. Karena Allah menjanjikan pahala dan sebuah taman yang indah di akhirat nanti, ujarnya.

Ia menambahkan, pada waktu keluar rumah untuk mengawali pekerjaan seyogianya kita berniat dan pasrah kepada Allah SWT. Yakni, sebagaimana diajarkan Nabi, membaca bismillahi tawakkaltu alallah (dengan nama Allah aku memasrahkan diri kepada-Nya).

Niat dan amalkan bacaan yang baik, semua langkah kita akan menjadi pahala,tandasnya lagi. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/51248/mustasyar-pbnu-dorong-orang-kaya-tunaikan-zakat

PonPes Al-Amin Pabuaran

Kamis, 06 Oktober 2011

Siapa Wahabi? Ini Ciri dan Akidah Wahabi

PonPes Al-Amin Pabuaran - Ciri-ciri wahabi sebetulnya sudah jelas. Namun, banyak dari para pengikut wahabi salafi di Indonesia selalu menyangkal tuduhan kalau mereka adalah wahabi. Bahkan menyebut dirinya pejuang tauhid dan sunnah. Jika ada yang mengelak dari tuduhan wahabi, Anda bisa mengidentifikasi ciri wahabi di bawah ini. Paling tidak ada 15 ciri akidah wahabi yang batil dan merusak iman.

Siapa Wahabi? Ini Ciri dan Akidah Wahabi
Siapa Wahabi? Ini Ciri dan Akidah Wahabi


1. Bukan semua individu yang meninggalkan bacaan Qunut itu dikira sebagai Wahabi, tetapi siapa saja yang menyerupakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan makhlukNya dan mensifatkanNya dengan anggota maka tidak diragukan lagi ia adalah Wahabi. (Lihat: Kitab Tanbihat Fi Rad ‘Ala Man Tawwala al-Sifaat, Karangan Ibn Baz, terbitan Riasah ‘Ammah Lilifta’, Riyad, hlm 19).

2. Bukan semua individu yang meninggalkan Shalat Sunnah Qabliyyah sebelum Jum’at itu dikira sebagai Wahabi, tetapi siapa saja yang mengkafirkan al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah serta menghalalkan darah mereka itu maka tidak diragukan lagi ia adalah Wahabi. (Lihat: Kitab Min Masyahir al-Mujaddidin Fi Islam, terbitan Riasah ‘Ammah Lilifta’, Riyadh, hlm 32. Kitab Fathul Majid karangan Abdul Rahman, terbitan Maktabah Darul Salam Riyadh, hlm 353. Kitab Manhaj Asya’irah fil Aqidah, karangan Dr Safar al-Hawali, hlm 5, 16 dan 29. Kitab Lal-Maturidiyyah Wamauqifuhum Minal Asma’ Wa Sifaat, karangan Syamsul Salafi al-Afghani, 10,11 dan 44. Kitab al-Tauhid, terbitan tahun 1423 H, hlm 66-67, dimana ulama Wahabi Soleh Fauzan al Wahhabi berkata: فهؤلاء المشركون هم سلف الجهمية والمعتزلة والأشاعرة “Maka golongan musyrik tersebut adalah salaf firqah al-Jahmiyyah, al-Muktazilah dan al-Asya’irah (Asy’ariyyah)”.

3. Bukan semua individu yang tidak mengumandangkan adzan sebanyak 2 kali pada hari Jum’at itu dikira sebagai Wahabi, tetapi siapa saja yang mengkafirkan umat Islam yang bertawassul dengan Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam dan menghalalkan darah serta harta mereka maka tidak diragukan lagi ia adalah Wahabi. (Lihat: Kitab al-Tauhid karangan Shaleh Fauzan, hlm 70).

4. Bukan semua individu yang meninggalkan majelis Tahlil (Tahlilan) kepada si mayyit itu dikira sebagai Wahabi, tetapi siapa saja yang mensifati Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan duduk bersemayam, menetap, bergerak, dan berpindah-randah maka tidak diragukan lagi ia adalah Wahabi. (Lihat: Kitab Fathul Majid, karangan Abdul Rahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab, cetakan Darul Salam, Riyadh, hlm 356. Kitab Fatawa Aqidah, karangan Ibn al-Utsaimin, hlm 742).

5. Bukan semua individu yang mendakwa dan mendengungkan dia mengikut al-Quran dan as-Sunnah itu dikira sebagai Wahabi, tetapi siapa saja yang mengkafirkan orang yang mengikut mazhab-mazhab yang muktabar (seperti madzhab Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Hanbali), menghalalkan darah mereka serta menganggap taqlid kepada imam-imam mazhab itu adalah syirik maka tidak diragukan lagi ia adalah Wahabi. (Lihat: Kitab al-Din al-Khalish, karangan al-Qanuji, jilid 1 hlm 140 dikatakan: تقليد المذاهب من الشرك “Mengikut mazhab-mazhab yang muktabar adalah syirik”. Dengan ini, mereka telah mengkafirkan mayoritas umat Islam di seluruh dunia pada hari ini dan umat Islam sebelumya yang beramal dan bertaklid kepada mazhab-mazhab yang empat).

6. Bukan semua individu yang membayar zakat Fitrah dengan mengeluarkan bahan makanan seperti beras itu Wahabi, tetapi siapa saja yang melarang atau mengharamkan perjalanan dengan tujuan untuk menziarahi maqam Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam itu, maka tidak diragukan lagi ia adalah Wahabi. (Lihat: Kitab Tahqiq Wal Idhoh Likathir Min Masail al-Haj Wa al-‘Umrah, hlm 88, 89, 90,dan 98).

7. Bukan semua individu yang meninggalkan ucapan Sayyidina “سيدنا” ketika bersholawat kepada Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam itu dikira sebagai Wahabi, tetapi siapa saja yang mengharamkan majelis Maulid Nabi dan mengkafirkan pelakunya maka tidak diragukan lagi ia adalah Wahabi. (Lihat: Kitab al-Tauhid, karangan Shaleh bin Fauzan, Riyadh, hlm 166 dan 120. Kitab Tahzir Min al-Bid’ah, karangan Ibn Baz, hlm 3, 4, 5 dan 5).

8. Bukan semua individu yang tidak mengamalkan membaca Quran Surah Yasin (Yasinan) pada malam Jum’at adalah Wahabi, tetapi siapa saja yang mengharamkan bacaan al-Quran kepada orang yang telah meninggal dunia maka tidak diragukan lagi dia adalah Wahabi. (Lihat: Kitab Taujihaat Islamiyyah, karangan Muhammad Zainu, Riyadh. Hlm 137

9. Bukan semua individu yang meninggalkan doa dan dzikir setelah shalat itu dikira sebagai Wahabi, tetapi siapa saja yang mengharamkan amalan bertabarruk dengan Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam dan menuduh orang yang melakukannya dengan syirik serta menghalalkan darah mereka maka tidak diragukan lagi ia adalah Wahabi. (Lihat: Kitab Islamiyyah La Wahhabiyyah, karangan Nashir bin ‘Abdul Kareem Al-‘Aqal, hlm 87. Kitab Tahzir al-Sajid Min Ittikhaz al-Qubur Masajid, hlm 68-69).

10. Bukan semua individu yang tidak melafadzkan niat (seperti niat shalat Usholli, niat Puasa Ramadhan, dll) itu dikira sebagai Wahabi, tetapi siapa saja yang meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala duduk atau bersemayam di atas ‘Arasy (langit) maka tidak diragukan lagi ia adalah Wahabi. (Lihat: Kitab Majalah Haji, Edisi 9 jilid 11, 1415 Hijriyyah, Makkah 73-74).

11. Bukan semua individu yang mengatakan bahwa pahala bacaan al-Quran (seperti hadiah Al-Fatihah) tidak sampai kepada si mayyit melainkan dengan cara berdoa itu dikira sebagai Wahabi, tetapi siapa saja yang mengingkari kenabian Adam ‘Alaihis Salam maka tidak diragukan lagi ia dalah Wahabi. (Lihat: Kitab al-Iman bil Anbiya’ Jumlatan, karangan Abdullah bin Zaid, cerakan Maktabah Islami, Beirut. Kitab Syarah Thalathah al-Ushul, karangan Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin, Dar al-Thurauyya Linnasyr, hlm 149).

12. Bukan semua individu yang melarang pembangunan di atas kuburan yang diwakafkan itu dikira sebagai Wahabi, tetapi siapa saja yang mengafirkan para Sufi dan menganggap pembunuhan terhadap golongan Sufi adalah suatu perkara yang wajib, maka tidak diragukan lagi ia adalah Wahabi. (Lihat: Kitab Majmu’ al-Mufid Min ‘Aqidah al-Tauhid, Maktabah Darul Fikr, Riyadh, hlm 102).

13. Bukan semua individu yang mensifati Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan istiwa’ dikira sebagai Wahabi, tetapi siapa saja yang mentafsirkan istiwa’ yang warid di dalam al-Quran dengan makna duduk bersemayam (الجلوس) maka tidak diragukan lagi ia adalah Wahabi. (Lihat: Kitab Nazarot Wa Ta’aqubat ‘Ala Ma Fi Kitab Al-Salafiyyah, karangan Shaleh bin Fauzan, Cetakan Darul Watan Riyadh, hlm 40).

14. Bukan semua individu yang tidak menyebut sifat 20 di dalam kitab-kitab mereka dikira sebagai Wahabi, tetapi siapa saja yang mensifatkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan anggota badan, maka tidak diragukan lagi ia adalah Wahabi. (Lihat: Kitab Tanbihaat Fi Rod ‘Ala Man Taawwala al-Sifat, karangan Bin Baz, hlm 19).

15. Bukan semua individu yang tidak mengusap tangan ke muka setelah berdoa dikira sebagai Wahabi, tetapi siapa saja yang mengharamkan ucapan Shodaqollohul ‘Adzim (صدق الله العظيم) setelah selesai membaca al-Quran, maka tidak diragukan lagi ia adalah Wahabi. (Lihat: Kitab Majalah Buhuth Islamiyyah, terbitan Riyasah Buhuth Al-‘Alamiyyah wa al- Ifta’, Edisi 45 tahun 1416 H, Riyadh, hlm 94. Kitab Taujihaat al-Islamiyyah, karangan Muhammad Zainu, hlm 81. Kitab al-Bahthu wa al-Istiqra’ Fi Bida’ al Qurra’, karangan Dr Muhammad Musa Nasr).

Melalui 15 perkara atau ciri yang telah disebutkan di atas, maka kita sebagai pengikut ahlussunnah wal jama’ah dapat dengan mudah membedakan dengan pasti hakikat sebenarnya sipakah Wahabi, mana yang termasuk golongan Wahabi dan mana yang bukan Wahabi.

Mungkin masih banyak lagi perkara atau ciri-ciri yang menandakan seseorang itu Wahabi atau bukan, bisa saja lebih dari 15 perkara di atas. Yang jelas, kelima belas ciri-ciri tersebut bisa dijadikan pedoman bagi kita untuk mendeteksi secara dini “kewahabian” dalam diri sendiri atau orang lain agar tidak terjerumus lebih jauh ke dalam firqah tersebut karena kadang kala seseorang itu sudah terpengaruh faham Wahabi tetapi tidak disadari.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melindungi kita dan keluarga kita dari fitnah akhir zaman, fitnah Syiah, fitnah Wahabi, fitnah Yahudi Nasrani, dan fitnah Dajjal. [PonPes Al-Amin Pabuaran]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/10/siapa-wahabi-ini-ciri-dan-akidah-wahabi-ini.html

Kamis, 29 September 2011

Mimpi Para Sahabat soal Nasib Sayyidina Umar di Kuburan

Setelah Sayyidina Umar bin Khattab wafat, para sahabat berjumpa khalifah kedua ini melalui mimpi. Mereka pun bertanya, Bagaimana Allah memperlakukanmu?

Dalam al-Aqthaf ad-Daniyyah dikisahkan Umar menjawab bahwa Allah telah mengampuni kekeliruan-kekeliruannya dan membebaskan siksa dari dirinya. Para sahabat menyahut dengan pertanyaan susulan. Apa penyebabnya? Apakah karena kedermawanan, keadilan, atau kezuhudanmu?

Umar menimbalinya dengan mengisahkan peristiwa di alam kubur. Sejenak usai ia dimakamkan, dua malaikat menghampirinya. Umar dalam perasaan takut luar biasa. Nalarnya hilang. Sebelum malaikat bertanya, tiba-tiba suara tanpa rupa terdengar.

Mimpi Para Sahabat soal Nasib Sayyidina Umar di Kuburan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mimpi Para Sahabat soal Nasib Sayyidina Umar di Kuburan (Sumber Gambar : Nu Online)


Mimpi Para Sahabat soal Nasib Sayyidina Umar di Kuburan

Tinggalkan hamba-Ku itu. Jangan bertanya apapun kepadanya (Umar). Jangan dibuat takut. Aku mengasihi dan membebaskan siksa darinya. Tatkala di dunia, ia pernah berbelaskasihan kepada seekor burung emprit.

Benar. Kisah burung emprit bermula ketika Umar tengah berjalan menuju alun-alun kota dan berjumpa anak kecil. Hati Umar sedih. Bocah itu terlihat sedang memagang burung emprit sembari memperlakukannya selayak mainan.

Umar tergerak untuk segera membeli binatang malang itu. Sekarang burung emprit sepenuhnya menjadi milik Umar. Untuk menyelamatkannya dari perlakuan buruk si bocah, khalifah kedua ini pun mengikhlaskan burung emprit terbang ke ke udara dengan merdeka.

Hal ini membuktikan bahwa ajaran Rasulullah SAW telah menancap kuat di hati dan perilaku Umar. Meski sering tampil garang, sahabat Nabi berjuluk Singa Padang Pasir itu tetap menunjukkan kelembutan hatinya.

PonPes Al-Amin Pabuaran

Pesan lain yang bisa ditangkap bahwa cakupan cinta kasih bersifat tanpa batas. Kepada pohon, sungai, tanah, makanan, pakaian, buku, burung, anjing, dan seterusnya. Terlebih manusia. Ini selaras dengan hadits riwayat Abdullah bin Umar.

Orang-orang yang berbelaskasih akan mendapatkan belas kasih dari Yang Maha Pengasih. Berbelaskasihlah kepada tiap makhluk di bumi, niscaya penduduk langit mengasihimu. (Mahbib Khoiron)

PonPes Al-Amin Pabuaran

Dari (Hikmah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/44918/mimpi-para-sahabat-soal-nasib-sayyidina-umar-di-kuburan

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PonPes Al-Amin Pabuaran sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PonPes Al-Amin Pabuaran. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PonPes Al-Amin Pabuaran dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock