Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 April 2016

Buka 4 Fakultas, UNU Kalbar Siap Terima Mahasiswa Perdana

Pontianak, PonPes Al-Amin Pabuaran. Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Kalimantan Barat (Kalbar) secara resmi berdiri bersamaan dengan ditandatanganinya Prasasti Universitas Nahdlatul Ulama oleh Wakil Presiden RI H Muhammad Jusuf Kalla, Sabtu (31/1), dalam momen peringatan hari lahir ke-89 NU di Jakarta. Prasasti itu menjadi simbol bagi berdirinya 23 perguruan tinggi NU di berbagai daerah di Tanah Air.

"Alhamdulillah, Pak Wapres sudah meresmikan UNU Kalbar. Itu berarti juga tahun ini kita siap menerima mahasiswa perdana. Kita mulai mempersiapkan segala sesuatunya mulai dari sekarang," kata Rektor UNU Kalbar Dr Agung Hartoyo M Pd di kantornya, Senin (2/2).

Buka 4 Fakultas, UNU Kalbar Siap Terima Mahasiswa Perdana (Sumber Gambar : Nu Online)
Buka 4 Fakultas, UNU Kalbar Siap Terima Mahasiswa Perdana (Sumber Gambar : Nu Online)


Buka 4 Fakultas, UNU Kalbar Siap Terima Mahasiswa Perdana

Ia menambahkan, pihaknya tengah mengisi kepengurusan atau personel UNU Kalbar, mulai dari dekan fakultas, ketua program studi, kepala biro, tenaga administrasi, keuangan, perpustakaan, laboratorium, tenaga informasi teknologi, dan sebagainya.

UNU merupakan universitas kelima di Kalbar, selain Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak, Universitas Panca Bhakti (UPB) Pontianak, Universitas Muhammadiyah Pontianak (UMP), dan Universitas Kapuas (Unka) Sintang. "Kita sama-sama memberikan kontribusi untuk kemajuan pendidikan di Kalbar. Untuk itu, mohon dukungan dari seluruh masyarakat agar UNU Kalbar bisa diterima," harap Agung.

PonPes Al-Amin Pabuaran

PonPes Al-Amin Pabuaran

Begitu berdiri, UNU Kalbar langsung membuka empat fakultas, antara lain Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Fakultas Pertanian (Faperta), Fakultas Teknik (FT), dan Fakultas Ekonomi (Fekon). "Semuanya umum," ujarnya.

Keempat fakultas itu terdiri dari 10 program studi (prodi). Untuk FKIP terdiri tiga prodi, yakni Prodi Guru Sekolah Dasar (PGSD), Pendidikan Matematika, dan Pendidikan Bahasa Inggris. Kemudian, Faperta terdiri empat prodi, yakni Prodi Agribisnis, Prodi Manajemen Sumber Daya Perairan, Prodi Agro Teknologi, dan Prodi Teknologi Hasil Perikanan.

"Untuk Fakultas Ekonomi hanya satu prodi, yakni Prodi Akuntansi. Sedangkan untuk Fakultas Teknik terdiri dua prodi, yakni Prodi Sistem Informasi dan Prodi Ilmu Lingkungan. Ini untuk tahap awal. Apabila nanti berkembang, bukan tidak mungkin kita menambah prodi, bila perlu fakultas," urai Agung yang dosen FKIP Untan ini.

Kampus sementara UNU Kalbar berada di Gang Jeruk Jalan KH Ahmad Dahlan, di samping kantor PMI Provinsi Kalbar. UNU Kalbar menerapkan sistem perkuliahan modern meski fasilitas kampus masih sederhana.

"Sistem perkuliahan menggunakan aplikasi yang dibuat oleh PBNU. Semua akan terkoneksi, baik materi kuliah, tugas belajar, sampailah pada soal keuangan. Dengan adanya sistem ini, untuk akreditasi menjadi sangat mudah. Tinggal buka aplikasi, semua akan terekam dengan jelas," beber Agung.

Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kalbar ini berharap, pembukaan mahasiswa perdana UNU Kalbar mendapat respons positif. Bagi masyarakat yang ingin memasukkan anaknya kuliah di UNU, tunggu pengumuman resminya. "Nanti akan kita publikasikan secara luas ke masyarakat soal pendaftaran mahasiswa baru. Termasuklah segala persyaratannya," ujarnya. (Rosadi/Mahbib)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/57375/buka-4-fakultas-unu-kalbar-siap-terima-mahasiswa-perdana

PonPes Al-Amin Pabuaran

Senin, 06 Oktober 2014

Kecewa: Demo 212 Bukan Soal Iman Tapi Kebencian

PonPes Al-Amin Pabuaran - Alhamdillah kita bersyukur aksi sholat Jumat bersama berjalan lancar. Sejujurnya, mungkin saya satu-satunya orang yang tidak bahagia dengan aksi demo oleh jutaan masa itu. Anda boleh menyayangkan pernyataan saya, boleh menyesalkan atau menganggap saya munafiq sekalipun.

Kecewa: Demo 212 Bukan Soal Iman Tapi Kebencian
Kecewa: Demo 212 Bukan Soal Iman Tapi Kebencian


Kawan-kawan, aksi 1-3 itu bukan soal Islam yang menyatukan, tapi soal berhasilnya upaya dan kucuran dana untuk pendangkalan ajaran dan pemahaman.

Aksi 1-3 itu bukan soal girah Islam yang tergugah tapi soal pemahaman agama yang salah arah dan salah kaprah.

Aksi 1-3 itu bukan soal aksi damai dan berjalan tertib tapi semata-mata kabinet yang solid dan presiden yang smart yang membuat pimpinan aksi tidak bisa berkutik.

Aksi 1-3 bukan soal jihad tapi soal ambisi dan kebencian yang terakumulasi.

Aksi 1-3 bukan soal membela ayat suci tapi soal umat yang sudah semakin jauh dari sentuhan dan keteladanan para kiai. Akhirnya mereka belajar Islam dari dai produk Saudi.

Aksi 1-3 akibat polarisasi Pendidikan Umum dan Islami, saat tumbuh interest terhadap Islam mereka sudah diapit dimbimbing wahabi.

Aksi 1-3 bukan soal aksi damai atau anarki tapi soal wahabi takfiri yang masih lemah di hadapan kuatnya NKRI.

Aksi 1-3 bukan soal kebangkitan mayoritas tapi hasil publisitas dengan dana tak terbatas, tv, radio, majalah, rohis-rohis kampus, terus menerus sampai mengikis habis identitas. Tak lagi jelas, demarkasi antara NU, Muhammadiyah, Persis, FUI, dan lain-lain ormas.

Aksi 1-3 ini kebangkitan kembali masyumi yang pernah terlibat makar permesta, dan menajamnya kembali simpul-simpul pembeda antar ormas agama dengan bahan-bahan perdebatan yang tak ada habisnya sebenarnya hampir saja di era kita itu semua mereda.

Aksi 1-3 adalah gambaran bagaimana ajaran yang benci negara, anti bhineka tunggal ika yang dahulu kita hawatirkan bersama, dan kita anggap musuh negara, kita lihat telah diturunkan, diwariskan, diajarkan pada putra-putri, murid kita dan pengikut mereka.

Aksi 1-3 adalah kuatnya hegemoni tirani ustadz minoritas yang membungkam para Kiai yang berintegritas, dahulu kita mintai fatwa kita ikuti perkataannya, kini entah karena apa diam membisu tanpa kata. Seolah Gus Mus, Mbah Moen, Buya Syafii, Habib Luthfi, Sanusi Baco, Mbah Yai Din - Mbah Yai da dan ratusan nama lainnya seolah sudah tiada dari kehidupan kita.

Aksi 1-3 adalah wajah dimana otoritas kalah dengan publisitas. Kiai kita yang dianggap tidak menaikan rating, tidak mampu membeli slot acara televisi, jikapun ada seperti Prof Quraish karena tidak sejalan dengan mereka para dai oportunis dengan paham agama minimalis pak Quraish tidak mereka gubris.

Aksi 1-3 adalah menunjukan semakin banyak kesadaran untuk menjalankan ajaran, cucu, anak, mantu, ayah, kakek nenek terbukti satu keluarga dengan beberapa wajah generasi turun ke jalan namun sayang apa tidak keterlaluan jika saya ngomong mereka salah jalan karena mereka salah mengambil sumber pengajaran.

Aksi 1-3 ini mengabarkan memang benar sejak "khalifah", raja-raja, sultan-sultan mereka bisa naik dan turun jabatan karena demonstran yang disulut oleh sentimen keagamaan.

Jika kini barat mengalami aneka fase peradaban dengan berbagai pencapaian yang mengagumkan, maka umat Islam dari dulu hingga kini masih sama, mereka bisa bangkit karena sentiman keagamaan dan sedikit saja hasutan.

Misalnya Ahok melakukan kekejian Al-Quran telah dinistakan Ayo, mari kita penjarakan atau kita bunuh supaya agama tidak terkalahkan. Pak, bu kalau begini bukan soal iman tapi soal kebencian yang dibalut ratapan dan doa kepada Tuhan.

Ada ribuan kata yang ingin saya tuliskan, tapi mungkin Anda tak akan membacanya, karena Anda lelah setelah terobsesi menonton berjam-jam siaran langsung para demonstran.

Saya akhiri saja dengan seruan, ayo tata organisasi kita dari PB hingga ranting. Biar urusan proyek dan bancaan sumbangan kita pikirkan belakangan.

Hidupkan pengajian dirumah dan di madrasah, kita ajarkan Islam ramah dengan datang ke persatu-satu tiap rumah. Buka wawasan, bangkitkan kewaspadaan jangan sampai, kampung, dusun, kecamatan, kota bahkan negara jangan sampai terjamah paham yang salah.

Ya Rasulallah tunjukan pada kami Islam ramat, Islam yang menyatukan kami, suku-suku bangsa, agama dan kepercayaan rakyat, sesuai wasiat para pendiri bangsa, agar kami teguh memegang amanat. [PonPes Al-Amin Pabuaran]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/kecewa-demo-212-bukan-soal-iman-tapi-kebencian.html

Minggu, 18 Mei 2014

Konfercab NU Surabaya Berlangsung Demokratis

Surabaya, PonPes Al-Amin Pabuaran. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Surabaya menggelar Konferensi Cabang (Konfercab), akhir pekan (7/6), di Pesantren Al-Fatich Osowilangon Surabaya, Jawa Timur. Saat pemilihan pemimpin baru, konferensi lima tahuna ini berlangsung demokratis.

Konfercab diisi dengan sidang komisi organisasi, dan komisi rekomendasi. Pada malam hari, dalam sidang pleno dilaksanakan pemilihan yang dipimpin oleh utusan PWNU Jatim. Komisi bahtsul masail dibahas satu minggu sebelum acara. Kalau dibahas di konfercab tidak mencukupi waktunya," kata KH Asyhar Shofwan, Ketua SC Konfercab NU Surabaya saat ditemui PonPes Al-Amin Pabuaran.

Konfercab NU Surabaya Berlangsung Demokratis (Sumber Gambar : Nu Online)
Konfercab NU Surabaya Berlangsung Demokratis (Sumber Gambar : Nu Online)


Konfercab NU Surabaya Berlangsung Demokratis

Rais syuriah dan ketua tanfidhiyah PCNU Surabaya dipilih melalui pemungutan suara. Pemilik hak suara berjumlah 213 suara, representasi dari Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) dan Pengurus Ranting NU (PRNU) di kota setempat. Prosesi pemungutan suara dimulai dengan penyaringan bakal calon dan calon.

"Sesuai dengan peraturan dalam AD/ART, bakal calon yang sah menjadi calon sekurang-kurangnya didukung 40 suara, maka dengan ini nama yang menjadi calon rais syuriah adalah KH Dzul Hilmi dan KH Mas Sulaiman sama memperoleh 100 suara," kata Rubaidi pimpinan sidang pleno saat membacakan hasil pemilihan.

PonPes Al-Amin Pabuaran

KH Mas Sulaiman dalam proses pemilihan selanjutnya terpilih sebagai Rais Syuriah PCNU Surabaya dengan 113 suara. Sedangkan pada pemilihan ketua tanfidhiyah, H Ali Burhan memperoleh suara tertinggi mengungguli calon lainnya, H Saiful Chalim (petahana).

Dengan hasil pemilihan ini maka saya sebagai pimpinan sidang menetapkan KH Mas Sulaiman (sebagai Rais Syuriah) dan H Ali Burhan (sebagai Ketua Tanfidhiyah) NU Cabang Surabaya periode 2015-2020," kata Rubaidi.

PonPes Al-Amin Pabuaran

Keduanya telah menyatakan kesediaan dan menandatangi kontrak jamiyah. "Terima kasih kepada seluruh pengurus MWC dan Ranting yang telah memberikan amanah dan mandat ini. Saya berjanji akan menyerap aspirasi dari ranting," kata Ali Burhan, ketua tanfidhiyah terpilih.

Menurutnya, ranting NU di Surabaya terlihat aktif ketika momen konfercab tiba, tetapi tidak pada hari biasa. "(Memperbaiki kondisi) inilah yang saya prioritaskan," katanya. (Rofii Boenawi/Mahbib)

Foto: KH Mas Sulaiman, Rais Syuriah PCNU Surabaya terpilih, membaca doa penutupan

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/60053/konfercab-nu-surabaya-berlangsung-demokratis

Selasa, 13 Agustus 2013

Penderita HIV/AIDS Tak Boleh Didiskriminasi

Jakarta, PonPes Al-Amin Pabuaran. Para penderita Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deviciency Syndrome (HIV/AIDS) harus dihargai karena mereka masih bisa berkarya kepada masyarakat meskipun mengidap suatu penyakit berbahaya. Mereka tidak boleh didiskriminasi dan harus diberdayakan, kata John Alubwaman dari Komite Penanggulangan AIDS dalam seminar yang digelar Pengurus Wilayah Fatayat NU DKI Jakarta.

Walaupun bisa menular, interaksi dengan penderita HIV/AIDS melalui kontak biasa, makanan atau minuman, kolam renang, telpon, atau gigitan nyamuk tidak membahayakan. HIV/AIDS menular melalui seks tidak aman, penggunaan alat suntik, tato, tindik secara bergantian, melalui transfusi darah dan dari ibu ke bayinya.

Sampai bulan Maret 2006 tercatat 10.156 penderita HIV/AIDS di Indonesia dengan kecenderungan peningkatan yang besar. Di Jakarta 64-70 persen penderita HIV/AIDS timbul karena penggunaan jarum suntik secara bergantian akibat penggunaan Narkoba, tandasnya.

Penderita HIV/AIDS Tak Boleh Didiskriminasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Penderita HIV/AIDS Tak Boleh Didiskriminasi (Sumber Gambar : Nu Online)


Penderita HIV/AIDS Tak Boleh Didiskriminasi

Untuk wilayah DKI Jakarta, John menunjukkan pada Juni-Desember, terdapat 317 penderita HIV/AIDS baru yang melaporkan. Para pekerja seks komersial yang jumlahnya sekitar 120-160 ribu di Jakarta juga sangat rawan sebagai media untuk menularkan penyakit ini.

Ini merupakan fenomena gunung es, banyak sekali penderita HIV/AIDS yang tidak melaporkan dan secara diam-diam menularkannya kepada fihak lain, tuturnya.

HIV/AIDS sangat susah untuk dideteksi dan hanya dapat dipastikan melalui tes darah. Sampai saat ini orang yang memiliki resiko tinggi terhadap penderita HIV/AIDS kebanyakan masih enggan memeriksakan dirinya.

PonPes Al-Amin Pabuaran

Salah satu upaya pemerintah untuk mengurangi penderita HIV/AIDS adalah memberikan obat secara gratis dan penggunaan jarum suntik sekali pakai. Bahkan untuk pecandu Narkoba disediakan mogadon agar mereka tidak menggunakan jarum dan pelan-pelan bebas sebagai pecandu, tuturnya.

Penggunaan kondom sebenarnya merupakan upaya untuk mengurangi risiko bagi mereka yang tak bisa menahan diri. Menurut ajaran agama, memang upaya yang paling ideal adalah menghindari seks bebas, tapi realitasnya di masyarakat kan beda, katanya.

Sementara itu Ketua PW Fatayat NU DKI Hj. Karimah Hamid berpendapat bahwa keluarga memiliki peran yang sangat penting sebagai tempat untuk mensosialisasikan nilai-nilai yang paling intensif dan menentukan, terutama bagi para remaja. Farum lain yang dapat digunakan adalah pengajian dan majelis taklim, remaja masjid, rohis dan lainnya. (mkf)

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/5641/penderita-hivaids-tak-boleh-didiskriminasi

PonPes Al-Amin Pabuaran

PonPes Al-Amin Pabuaran

Minggu, 17 Februari 2013

Dakwah Multikultural ala Gus Zaim

Rembang, PonPes Al-Amin Pabuaran. Orang Tionghoa di Kauman menganggap kyai dan para santrinya itu disebut kaum galak. Tapi setelah Abah Zaim buka pondok di sini, kami jadi mengerti kyai dan santrinya itu baik, pandai bergaul, suka lucu-lucu.

Demikian dikatakan Thiam Pie (67 tahun), warga Kauman, Lasem, Rembang-Jawa Tengah. Thiam Pie adalah keterunan Tionghoa yang menjadi Muslim. Ia mengaku kepincut dengan Islam dengan model dakwah yang dilakukan pengasuh pesantren Kauman KH Zaim Ahmad Syakir, alias Gus Zaim.

Thiam Pie mengatakan, kelompok jelek ada di mana-mana, tapi juga pasti ada orang baiknya. Islam, kata Thiam Pie, ya ada yang jadi teroris, tapi tidak mewakili Islam sedunia.

Situ boleh saja bicara orang Islam galak. Mungkin karena ketemunya orang galak. Jangan digebyahuyah. Kan begitu tho Mas? jelasnya.

Dakwah Multikultural ala Gus Zaim (Sumber Gambar : Nu Online)
Dakwah Multikultural ala Gus Zaim (Sumber Gambar : Nu Online)


Dakwah Multikultural ala Gus Zaim

Saya bergaul dan mempraktekkan Islam. Jadi saya merasakan kedamaiannya. Orang yang menganggap Islam jelek itu karena ndak gaul. Lihat saja di sini, antara Islam dan yang bukan ndak ada problem. Saling mengisi di sini. Tolong menolong biasa saja, lanjut Thiam Pie bin Nyoo Eng Tjong.

Di Jawa, Lasem-Rembang merupakan daerah yang kental nuansa Tiongkok, selain Surabaya dan Semarang. Menurut catatan sejarah, mereka sudah mulai bermukim di Jawa sekitar abad ketigabelas, semasa Dinasti Mieng, di bawah Laksamana Cheng Ho.

PonPes Al-Amin Pabuaran

Di Kauman, jejak orang-orang Tiongkok masih sangat kental. Di sana, aristektur bangunan, tradisi, ritual, makanan, hingga Klenteng masih dapat ditemui dengan mudah. Warga Tionghoa Lasem kebanyakan bermarga Tan dan Liem, sisanya Nyoo, Koo, Tjan, Oei, Han, dan lain-lain

Kebersamaan masyarakat Jawa dengan orang China, Arab sudah berlangsung lama. Akulturasi dan asimilasi berjalan hingga hari ini. Dari mulai perpaduan arsitek. Banyak arsitek Jawa ada ornamen Chinanya, banyak bangunan China disentuh ornamen Jawa dan sebagainya. Dan hingga urusan perkawinan ada di sini, papar Gus Zaim, yang pesantrennya menempati bangunan bekas orang Tionghoa.

Gus Zaim mengatakan, orang Tiongkok yang datang ke Jawa kebanyakan kaum Adam. Saya membayangkan, yang datang bawa istri cuma hanya para perwira saja. Dari situ masuk akal kalau mereka pada kawin campur, jelasnya.

Sekarang kita bingung, ini orang Lasem asli, campuran, atau Tionghoa? Itu, Yusril Ihza Mahendra pernah datang ke sini. Dia bingung membedakan. Jangankan dia, kita yang di sini saja bingung. Ya akhirnya kita bilang, manusia itu sama, kecuali keimanannya, lanjutnya.

Pesantren Kauman di Lasem, mungkin satu-satunya pesantren yang ada di tengah-tengah komunitas Tionghoa. Dan Gus Zaim mungkin satu-satunya pengasuh pesantren yang menyowankan santri barunya pada ketua rukun warga setempat yang notabene, Tionghoa dan bukan Islam.

PonPes Al-Amin Pabuaran

Gus Zaim bercerita, Tiap santri baru, pasti diantar sowan ketua RW. Ketua RW di sini namanya King Ho, orang di sini memanggilnya Semar. Santri-santri di sini saya anjurkan berbaur dengana China. Saya waktu pertama kali datang ke sini ya sowan-sowan mereka. Alhamdulillah mereka terima dengan baik. Insya Allah dapat pahala..hahaha..

Tapi jangan salah ya, saya datang ke Kauman tidak berniat bangun pesantren. Tujuanya bener-bener pindah rumah. Tidak ada terbersit pengen bangun pesantren. Saya hampir dua tahun nolak santri. Kalau ngajar ya ke pesantren Al-hidayah, Soditan sana, tegasnya.

Tidak berhenti sekedar bergaul, para santri pesantren Kauman juga ikut layat jika ada tetangga Tionghoa meninggal. Gus Zaim mewajibkan santri putranya untuk takziyah.

Kalau ada China yang meninggal, santri laki-laki saya wajibkan takziyah. Dan saya suruh mereka mendoakan mayit. Begini doanya, semoga si mayit mendapatkan tempat yang layak. Itu saja, jelasnya.

Dari keramahan Gus Zaim dan para santrinya, empat keluarga Tionghoa masuk Islam, dua keluarga dari Kecamatan Lasem dan dua keluarga dari Rembang. Keluarga Thiam Pie adalah salah satunya. Ia masuk Islam tahun 2005 bersama seorang istri dan seorang anaknya.

Bapak masuk Islam namanya ditambah Muhammad. Jadi Muhammad Thiam Pei, uangkap Halimah, istri Thiam Pie.

Dulu di sini ndak ada kiai. Setelah ada Abah Zaim suasananya lain. Beliau merangkul kami dengan baik. Hebat Abah Zaim itu, layat, silaturahim, menjenguk orang sakit. Kalau tidak bisa suruh Munawir mewakilinya. Mereka di rumah duka hingga sampai kuburan, jelas Thiam sambil mengacungkan ibu jarinya.

Thiam yang bermarga Nyoo bercerita tentang perubahan dirinya, Abah Zaim itu senang bimbing orang jahat. Setelah saya punya agama jadi tidak mudah terpengaruh. Kita orang biasa main perempuan, judi, dan sebagainya. Tapi sekarang tidak. Saya sekarag hidup sehat, meski kena struk.

Thiam mengaku tidak pernah aktif di partai politik. Mereka selamat dari kejaran Orde Baru karena tidak terlibat PKI. Orang China di Lasem, kata Thiam, tak memiliki pekerjaan selain mencari uang. Sejak kecil saya itu bangun jam tiga, bantuin orang tua. Matahari terbit itu rejeki datang. Ini ajaran orang kuna dulu, ungkapnya.

Partainya ikut kiai. Abah Zaim NU ya ikut NU. Orang seneng Abah Zaim karena beliau tidak ikut partai, tambahnya.

Gus Zaim melakukan semuanya dengan kesederhanaan. Tanpa ada rugumen yang mendakik-dakik. Podo-podo menungso. Titik, kata Gus Zaim. Pastinya ia memiliki landasan normatif, tapi ia hanya mengungkapkan satu hadits yang sudah dikutip di bagian awal tulisan ini.

Ada satu hal yang berkesan di hati Gus Zaim, yaitu uswatun hasanah yang diberikan almarhum KH Bisri Musthofa, ayah dari KH Musthofa Bisri. Lalu Gus Zaim cerita.

Gus Mus pernah bercerita. Ketika ada orang Tionghoa yang meninggal. Anaknya datang ke Mbah Bisri (KH Bisri Musthofa, ayah Gus Mus, red.) dan mengatakan bapaknya berwasiat kalau meninggal agar dishalati santri.

Mbah Bisri tidak bingung. Ia mencari santrinya yang belum shalat Ashar. Lalu disuruhlah para santri shalat Ashar di dekat mayit yang China tadi. Di dekatnya lho ya, bukan di depannya. Wah, itu keluarga si mayit seneng sekali, ayahnya meninggal dishalati para santri, ada sujudnya, ada rukunya, ada duduknya..hahaha...

Penulis: Hamzah Sahal

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/33617/dakwah-multikultural-ala-gus-zaim

PonPes Al-Amin Pabuaran

Kamis, 09 Juni 2011

Agus Sunyoto: Penulis Kreatif

Lahir di Surabaya pada 21 Agustus 1959 dari pasangan K Ng H Amir Arifin dan Hj Dalicha. Sebagaimana lazimnya arek kampung Surabaya, pendidikan informal diawali di madrasah dan langgar kampung di bawah asuhan H Mochammad Ali dan Kiai Mochammad Sulchan.

Sejak SMP mengikuti pendidikan ilmu hikmah di Pesantren Nurul Haq Surabaya di bawah asuhan KH M. Ghufron Arif yang dilanjut kepada KH Ali Rochmat di Wedung, Demak, Jawa Tengah. Tahun 1994 masuk Pesulukan Thariqah Agung (PETA), Kauman, Tulungagung di bawah asuhan KH Abdul Jalil Mustaqiim dan KH Abdul Ghofur Mustaqiim.

Agus Sunyoto: Penulis Kreatif (Sumber Gambar : Nu Online)
Agus Sunyoto: Penulis Kreatif (Sumber Gambar : Nu Online)


Agus Sunyoto: Penulis Kreatif

Pendidikan formal sejak tingkat dasar dan menengah diselesaikan di Surabaya. Bercita-cita menjadi seniman, selepas lulus dari SMAN IX Surabaya melanjutkan ke IKIP Surabaya pada Fakultas Keguruan Sastra dan Seni jurusan Seni Rupa lulus 1985. Tahun 1986 melanjutkan pendidikan ke Fakultas Pasca Sarjana IKIP Malang jurusan Pendidikan Luar Sekolah lulus 1989.

Tulis menulis diawali saat kelas II SMA dibelikan bapaknya mesin ketik untuk latihan menulis. Tahun 1983 dua cerpen yang diikutkan Pekan Seni FKSS IKIP Surabaya dinyatakan sebagai pemenang ke-2 dan ke-3. Itu memacu semangat menulis karena pemenang cerpen dari jurusan seni rupa. Tahun 1984 mulai menulis artikel dan cerpen di Harian Jawa Pos yang dilanjutkan dengan menulis cerbung berjudul Orang-orang Bawah Tanah pada tahun 1985.

PonPes Al-Amin Pabuaran

Tahun 1986 1988 bekerja sebagai wartawan Jawa Pos sambil menulis cerbung dan cerpen serta artikel. Namun setelah ketemu dengan penulis novel N.H.Dini yang mengenalkan kepada profesionalitas dalam berkarya membuatnya pamit mundur dari Jawa Pos untuk menjadi penulis profesional. Sejak bekerja sebagai penulis freelance, menulis cerpen dan cerbung serta artikel di sejumlah surat kabar seperti Jawa Pos, Surabaya Post, Surya, Republika, Merdeka. Sebagai penulis freelance banyak melakukan penelitian ilmiah di bidang sosial, sejarah, antropologi, pendidikan, agama, dan budaya.

Ternyata betul, setelah freelance ratusan tulisan dengan ragam bentuk penulisan lahir dari tangan Agus Sunyoto. Di antarnya Ajaran Tasauf dan Pembinaan Sikap Hidup Santri Pesantren Nurul Haq Surabaya: Studi Kasus, tesis tidak dipublikasi pada Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Pasca Sarjana IKIP Malang, tahun 1990. Lubang-lubang Pembantaian: Pemberontakan FDR/PKI di Madiun 1948, penelitian bersama Maksum dan Zainuddin tahun 1989 diterbitkan PT Grafiti Press, Jakarta, 1990. Sunan Ampel: Taktik dan Strategi Dakwah Islam di Jawa abad XIV-XV Masehi, hasil penelitian studi literatur tahun 1990 diterbitkan Lembaga Penerangan dan Laboratorium Islam (LPLI) Sunan Ampel, Surabaya, 1991. Banser Berjihad Melawan PKI, hasil penelitian kualitatif tahun 1995 diterbitkan Lembaga Kajian dan Pengembangan (LKP) Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur, Surabaya, 1995.

PonPes Al-Amin Pabuaran

Karya selanjutnya Darul Arqam: Gerakan Mesianik Melayu, hasil penelitian kualitatif tahun 1990-1996 diterbitkan Kalimasahada Press, Malang, 1996. Wisata Sejarah Kabupaten Malang, hasil penelitian studi literatur dan lapangan tahun 1998-1999 diterbitkan Lingkaran Studi Kebudayaan, Malang, 1999. Pesona Wisata Sejarah Kabupaten Malang, hasil penelitian studi literatur dan lapangan tahun 1999-2001 diterbitkan Pemerintah Kabupaten Malang, 2001. Sunan Ampel Raja Surabaya: Membaca Kembali Dinamika Perjuangan Dakwah Islam di Jawa Abad XIV-XV M, hasil studi literatur tahun 2003-2004 diterbitkan Diantama, Surabaya, 2004. Kajian Sejarah Kiai Tumenggung Pusponegoro Bupati Gresik Pertama 1688 1696, hasil penelitian studi literatur dan lapangan tahun 2008 diterbitkan Balitbangsa Pemerintah Kabupaten Gresik, 2008. Sunan Ampel Bupati Surabaya I: Melacak Jejak Dakwah Islam Cina-Campa di Nusantara, hasil penelitian literatur dan lapangan tahun 1999-2009, dalam proses editing. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar, Diktat pegangan mahasiswa Program Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Brawijaya, 2007. Ilmu Logika: Sebuah Pengantar, Diktat pegangan Mahasiswa Program Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Brawijaya, 2007. Muslim Tradisional dan Sejarah Kebangsaan di Indonesia, Diktat pegangan kader PMII, 200. Serat Kekancingan Tedhak Turunipun Kiaii Tumenggung Poesponegoro Bupati Gresik I, diterbitkan Yayasan Poesponegoro Surabaya, 2010. Islam Nusantara: Eksistensi Islam Tradisional Dalam Pusaran Sejarah Indonesia, hasil penelitian studi literatur dan lapangan 2007-2011, dalam proses editing. Walisongo: Rekonstruksi Sejarah Yang Disingkirkan, diterbitkan Transpustaka, Jakarta, 2010. Atlas Walisongo: Buku Pertama Yang Mengungkap Walisongo Sebagai Fakta Sejarah, Diterbitkan Pustaka Iman (Mizan Group), Jakarta, 2012. Pengantar Filsafat dan Logika Ilmu, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya, Malang, 2013. Jejak Berdarah Wahhabi di Nusantara, Diterbitkan Nourabook (Mizan Group), proses cetak.

Agus Sunyoto menulis cerita bersambung di Harian Jawa Pos, yaitu Anak-anak Tuhan, dimuat bersambung 1985, Orang-orang Bawah Tanah 1985, Kiai Ageng Badar Wonosobo, 1986, Khatra, Khatra, 1986, Hizbul Khofi, 1987. Khatraat, 1987, Sumo Bawuk, diterbitkan sebagai buku Jawa Pos, 1988. Gembong Kertapati, 1988. Vi Daevo Datom, 1989, Angela, 1989, Sastra Jendra Pangruwat Diyu, dimuat bersambung di Harian Surabaya Post, 1989. Tulisan tersebut diterbitkan jadi buku berjudul Sastra Jendra Hayunigrat Pangruwating Diyu oleh LKiS, Jogjakarta, 2012.

Kabban Habbakuk, dimuat bersambung di harian sore Surabaya Post, 1990, Bait al-Jauhar, bersambung di Jawa Pos, 1990, Angin Perubahan, 1990 dan Misteri di Snellius, 1992 dimuat bersambung di harian sore Surabaya Post, Dajjal, dimuat bersambung di Harian Surya, 1992. Diterbitkan LKiS, Yogyakarta, 2006. Kabut Kematian Nattaya, dimuat bersambung di Surabaya Post, 1994. Daeng Sekara, bersambung di Surabaya Post, 1995. Diterbitkan DIVA Press, Jogjakarta, 2010. Sang Sarjana, dimuat bersambung di harian sore Surabaya Post, 1996. Rahuwana Tattwa, dimuat bersambung di Radar Kediri (Jawa Pos Group), 1999. Rahuvana Tattwa diterbitkan dalam bentuk buku oleh LKiS, Yogyakarta, 2006. Ratu Niwatakawaca, dimuat bersambung di Radar Kediri (Jawa Pos Group), 2001. Aji Saka -Dewata Cengkar, dimuat bersambung di Radar Kediri (Jawa Pos Group), 2002 - 2003. Titisan Darah Baruna, dimuat di Radar Kediri (Jawa Pos Group), 2004. Pedang Di Langit Kalingga, dimuat di Radar Kediri (Jawa Pos Group), 2005. Rakai Mataram Ratu Sanjaya, dimuat di Radar Kediri (Jawa Pos Group) 2007-2009. Suluk Abdul Jalil: Perjalanan Ruhani Syaikh Siti Jenar, 2 jilid, terbitan LKiS, Yogya, 2003. Sang Pembaharu: Perjuangan dan Ajaran Syaikh Siti Jenar, 3 jilid, diterbitkan LKiS, Yogyakarta, 2004. Suluk Malang Sungsang: Konflik dan Penyimpangan Ajaran Syaikh Siti Jenar, 2 jilid, diterbitkan LKiS, Yogyakarta, 2005.

Suluk Majenun Sudrun: Perjalanan Ruhani Sukma Kawekas, dimuat bersambung di Harian Rakyat Merdeka edisi Jawa Tengah-Yogyakarta, 2009 & Mingguan Scandal 2010. Rakai Hino Pu Sindok, dimuat bersambung di Radar Kediri (Jawa Pos Group), 2010-2011. Suluk Majenun Sudrun, dimuat bersambung di Radar Kediri (Jawa Pos Group), 2011-2012. Sufi Ndeso versus Wahabi Kota, diterbitkan Noura Book (Mizan Group), Jakarta, 2012. Ambruknya Menara Gading Sekolah, dimuat bersambung di Radar Kediri (Jawa Pos Group), 2013. Malapetaka Sekolah, dimuat bersambung di Radar Kediri (Jawa Pos Group), 2013-2014

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/51071/agus-sunyoto-penulis-kreatif

PonPes Al-Amin Pabuaran

Rabu, 15 Desember 2010

Haji Mabrur Bukan Urusan Kita

Mekkah, PonPes Al-Amin Pabuaran. Naib Amirul Haj, KH Hasyim Muzadi, menilai kemabruran seorang jamaah haji hanya bisa diputuskan oleh Allah SWT, dan bukan manusia, apalagi harus dimasukan ke dalam undang-undang.

"Kemabruran itu hak Allah. Manusia hanya berupaya memenuhi syarat-syarat haji agar mendapatkan hajinya diterima Allah dan menjadi mabrur. Itu hak Allah bukan hak manusia," kata Hasyim di Makkah, Selasa (25/10).

Haji Mabrur Bukan Urusan Kita (Sumber Gambar : Nu Online)
Haji Mabrur Bukan Urusan Kita (Sumber Gambar : Nu Online)


Haji Mabrur Bukan Urusan Kita

Dalam pembacaan kesimpulan pertemuan tim pengawas haji DPR gelombang I yang dibacakan Wakil Ketua Komisi VIII, Ahmad Zainuddin, terungkap rencana DPR untuk membuat standar kemabruran haji. Standar ini kemudian akan dimasukkan ke dalam revisi Undang-Undang (UU) Nomor 13 tahun 2008 pelaksanaan haji.

Dikatakan Hasyim yang juga Rais Syuriyah PBNU, jika DPR berkeinginan membantu kemabruran haji seseorang, lebih baik menamakannya syarat-syarat haji saja.

PonPes Al-Amin Pabuaran

"Jangan yang menyangkut urusan transendental. DPR itu mau nyaingi Tuhan apa gimana?," katanya.

Ditegaskannya, yang menentukan kemamburan haji adalah Allah, jadi manusia hanya berkewajiban memenuhi syarat, rukun, dan wajibnya haji. Serta menghindari larangannya.

PonPes Al-Amin Pabuaran

"Setelah berupaya, semoga Allah menjadikan kita sebagai haji yang mabrur," ujarnya.

Jadi, menurutnya jangan sampai salah kaprah menentukan standar kemabruran haji."Tidak boleh membuat istilah kemabruran haji itu, nanti Kementerian Agama mengeluarkan sertifikat mabrur lagi," tegasnya.

DPR selain mewacanakan kemabruran haji juga merencanakan penghentian jamaah haji risti (risiko tinggi), dalam upaya menekan angka kematian.

Standar kemabruran haji ini akan dimasukkan ke dalam revisi Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Haji.

Anggota Komisi VIII, Ali Maschan Musa, saat ditanya wartawan perihal wacana ini mengatakan, standar kemamburan haji di antaranya adalah perubahan perilaku jamaah haji usai pulang dari Tanah Suci.

"Ya, seperti yang diajarkan Kanjeng Rasul lah," ungkap politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu.

Rencananya, revisi UU Nomor 13 ini akan dibahas mulai Januari 2013. Tak hanya wacana kemabruran haji, wacana penyetopan jamaah risti juga akan dibahas di dalam revisi UU ini. Selain itu juga akan dimasukkan hasil evaluasi untuk penyelenggaraan haji 2012.

Redaktur : Hamzah Sahal

Sumber : Antara

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/34474/haji-mabrur-bukan-urusan-kita

PonPes Al-Amin Pabuaran

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PonPes Al-Amin Pabuaran sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PonPes Al-Amin Pabuaran. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PonPes Al-Amin Pabuaran dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock