Tampilkan postingan dengan label Pustaka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pustaka. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Januari 2017

Jeju, Permata Wisata Korea

Jakarta, PonPes Al-Amin Pabuaran. Jeju merupakan pulau terbesar di Korea Selatan yang memiliki otonomi khusus. Kini aktifitas utamanya adalah wisata dan pertanian. Setelah menjadi anggota salah satu tujuh keajaiban alam dunia bersama Komodo di Indonesia, pemerintah Jeju sangat aktif mempromosikannya untuk menarik turis datang ke pulau ini.

Sejak dahulu, tempat ini sudah dikenal sebagai pulau untuk bulan madu bagi warga Korea. Pada tahun 1970-an hanya ada satu penerbangan dari Seoul ke Jeju, kini setiap tahunnya, pulau ini dipadati oleh 10.5 juta turis, padahal penduduknya hanya 500 ribu jiwa. Pengelolaan tempat wisata secara profesional membuat wisatawan merasa nyaman dan puas dengan.

Jeju, Permata Wisata Korea (Sumber Gambar : Nu Online)
Jeju, Permata Wisata Korea (Sumber Gambar : Nu Online)


Jeju, Permata Wisata Korea

Dari bandara Gimpo, kami menggunakan pesawat Korean Air dengan waktu tempuh sekitar 1 jam penerbangan. Saya lihat tiketnya berharga 53.000 won. 1 won sekitar 10-11 rupiah, jadi kalau di rupiahkan harga tiket sekitar 550.000-600.000, sama dengan Indonesia, harga tersebut standar untuk penerbangan selama satu jam. Yang kami suka di bandara Korea, baik Incheon, Gimpo, atau Jeju, proses pengambilan bagasi sangat cepat. Begitu kami turun dari pesawat, hanya beberapa menit menunggu di tempat pengambilan bagasi, tas-tas bagasi sudah mulai muncul. Ini merupakan bagian dari tradisi kerja keras dan selalu ingin cepat orang Korea.

PonPes Al-Amin Pabuaran

Satu masalah yang kami hadapi di Korea adalah urusan toilet. Di bandara, hotel, atau tempat rekreasi, toilet selalu menggunakan sensor elektronik. Begitu selesai kencing, beberapa detik kemudian air akan mengucur membersihkan tempat buang air. Orang Indonesia yang terbiasa cebok agak susah dengan gaya toilet canggih ini. Akhirnya, kebiasaan kami ketika di toilet, yang semakin sering dari biasanya karena udara yang dingin, terpaksa geser kiri-geser kanan atau mundur dulu agar air mengucur dan kami bisa menampung sedikit air di tangan untuk cebok. Untuk temen-teman perempuan, mereka kemana-mana bahkan harus membawa botol aqua kosong kalau sedang di toilet. Secara berseloroh, kami menyebut toiletnya ngak Islami. Orang Indonesia dari kecil diajarkan membersihkan kelaminnya setelah kencing.

Kami terbang dari Gimpo pukul 12.30 waktu setempat dan tiba di Jeju satu jam kemudian. Selama di pesawat kami gunakan untuk sedikit terlelap menghilangkan kepenatan akibat perjalanan panjang. Begitu turun, kami kembali segar.

PonPes Al-Amin Pabuaran

Selamat datang Jeju, acara jalan-jalan dimulai. Dengan menggunakan bis, tujuan pertama adalah batu kepala naga yang dalam bahasa Korea dikenal dengan nama Yongduam (yong=naga), yang lokasinya tak jauh dari Bandara, kira-kira hanya memerlukan waktu 10 menit dari bandara.

Legenda menyatakan bahwa kurir raja naga dikirim ke Gunung Halla untuk mengumpulkan bullocho (herbal terkenal untuk memberikan hidup yang kekal). Utusan tersebut tewas oleh panah dari dewa gunung yang marah. Bagian tubuhnya tenggelam ke dalam air sementara kepala tetap di atas air ketika berusaha untuk kembali ke langit. Kalau menurut pendekatan ilmiah, batu berbentuk kepala naga ini merupakan hasil erupsi gunung berapi jutaan tahun lalu.

Masuk ke lokasi ini tidak di pungut tiket. Disini, kami belajar tentang tradisi dan kepercayaan orang Jeju. Banyak sekali rombongan wisatawan yang datang, terlihat dari seragam yang mereka kenakan. Tampaknya ada tradisi berwisata dengan baju seragam di Korea, beda dengan di Indonesia yang lebih memilih baju santai.

Kami hanya sebentar di lokasi ini, foto-foto. Saya sempat mengambil gambar Kiai Masdar, Prof Suwito, dan Prof Bambang Pranowo dengan latar belakang pantai dan gedung-gedung tinggi di seberangnya.

Kami selanjutnya bergerak ke Jalan Berhantu atau dalam bahasa lokal disebut Dokkaebi yang terletak di sebuah bukit di kaki gunung. Saya langsung terbayang Jabal Magnet di Arab Saudi yang katanya, karena tarikat magnet, mobil bisa jalan sendiri ke atas, melawan gravitasi. Jalan ini terkenal mulai tahun 1980-an ketika seorang sopir taksi mengantarkan satu pasangan yang sedang berbulan madu. Mereka berhenti di lokasi tersebut untuk foto-foto, tiba-tiba, mobil yang diparkir jalan sendiri, bukannya turun ke bawah, tapi malah naik ke atas dan mereka mengira ada hantu yang mengusiknya. Cerita tersebut akhirnya tersebar dari mulut ke mulut dan semakin banyak orang mencoba keajaiban tersebut. Karena semakin banyaknya orang mencoba, jalanan jadi macet dan pemerintah membuat jalan baru.

Pada titik yang ditentukan, sopir bis mematikan mesin, dan ajaib, bis seperti bergerak naik ke atas, pelan, pelan dan semakin lama semakin kencang sampai akhirnya sopir menghidupkan lagi mesinnya. Kami tidak ada yang turun dari bis untuk lokasi ini.

Bagaimana fenomena sesungguhnya dari kejadian ini. Sebenarnya, jalanan tersebut tidak menanjak, tetapi karena sekeliling jalan tersebut merupakan perbukitan, maka terjadi ilusi optik, seolah-olah jalan tersebut naik.

Kini tujuan selanjutnya adalah Sumokwon Theme Park yang didalamnya terdapat museum es, pertunjukan film lima dimensi.

Dengan tiket seharga 7.000 won atau USD 7, kami bisa masuk museum yang didalamnya dipenuhi dengan patung-patung yang dibuat dari es. Sebelum masuk, petugas memberi selimut. Begitu masuk dalam ruangan, patung-patung indah terpahat dari es. Bagi kami yang berasal dari daerah tropis, destinasi ini sangat menarik. Hanya dalam beberapa menit, tubuh sudah menggigil kedinginan. Untung saja sebelum berangkat, kami sudah siap dengan pakaian tebal dan kaos tangan, bisa sedikit membantu. Tangan terasa beku, sudah tidak bisa merasakan lagi sentuhan. Tapi, kesempatan ini tidak kami sia-siakan, semuanya segera jeprat-jepret memilih lokasi terbaik, bergaya dengan posisi terindah untuk kenang kenangan atau narsis-narsisan di media sosial. Ada yang dibentuk seperti gua dengan stalaktitnya yang runcing-runcing, seolah-olah akan patah dan menusuk, ngeri juga membayangkannya bagaimana kalau benar-benar patah esnya. Ada pula patung beruang dan patung tradisional Jeju, tapi yang paling menarik adalah berfoto di depan iglo, rumah dari salju berbentuk kubah khas orang Eskimo yang selama ini hanya bisa dilihat di foto dan video saja. Kami antri bergaya di depan pintu masuk berbentuk lengkung yang diatasnya dibuat patung beruang. profesor dan kiai juga turut ambil angle terbaiknya.

Untuk masuk harus sedikit merunduk. Saya masuk di dalam iglo tersebut dan didalamnya, tidak menjadi lebih dingin seperti bayangan saya semula. Didalamnya ada kursi dan ranjang yang terbuat dari es, kami bisa bergaya didalamnya, berfoto-foto sambil tiduran diatas es, he he he, dingiiiin.

Dalam museum, juga ada luncur-luncuran dari es. Beberapa anggota rombongan pun meluncur dari atas, sambil menjerit-jerit kecil sambil ketawa cekikikan diatas luncuran yang dingin, sementara kawan kami yang dibawah diminta mengambil fotonya. Yah, kami kembali ke masa kecil yang mengasyikkan.

Kami selanjutnya pindah ke lantai dua, untuk menyaksikan pertunjukan film lima dimensi, tentu saja dengan menggunakan kacamata khusus. Untuk nonton pertunjukan, tiketnya berharga 5.000 won atau USD 5.

Ruangan berbentuk melingkar dan ditangahnya kami duduk di bangku-bangku yang telah disediakan. Begitu lampu dimatikan, dunia bawah lain seolah-olah muncul di depan mata dengan ikan yang berseliweran. Inilah hasil teknologi dan kreatifitas manusia yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya, melampaui imajinasi.

Sebenarnya masih ada satu wahana lagi di lantai atas untuk berfoto-foto ria dengan background 3 dimensi, seolah olah kami sedang surfing, terkena seruduk banteng, ditengah-tengah panasnya lava, dan lainnya. Sayang, waktu sudah mepet karena ada jadual pertemuan dengan Jeju Tourism Organization (JTO).

Kami disambut oleh Jinki Hwang, Overseas Promotion Assistant Manager yang mempromosikan Jeju sebagai destinasi yang layak untuk dikunjungi. CNN menasbihkan Jeju sebagai Asias new best weekend gateway dengan julukan Hawaii of Korea. UNESCO menempatkan Jeju sebagai biosphere reserver (2002) World Natural Heritage (2007) dan Global Geoparks (2010).

Jeju juga sudah mulai membangun infrastruktur untuk wisatawan Muslim seperti layanan hotel untuk ruangan sholat dan penentuan arah kiblat serta makanan halal. Disini, sudah ada Cabang Federasi Muslim Korea, yang dipimpin oleh Shaikh Hji Bashir Kim Dae Yong, lulusan fakultas syariah Universitas Qatar.

Jumlah kunjungan turis dari Indonesia ke Jeju juga semakin meningkat. Tahun 2012, terdapat hampir 150 ribu turis ke Korea dan sekitar 24 ribu atau 15.9 persen berkunjung ke Jeju, meningkat dari tahun 2011 yang hanya 10.1 persen dan 2010 yang hanya 3.9 persen.

Kami sholat jamak dan qashar di sini seusai acara dengan memindah-mindahkan meja dan kursi yang sebelumnya digunakan untuk presentasi. Di ruangan tersebut sudah disediakan beberapa sajadah, Quran dan kompas kiblat. Kiai Masdar memimpin sholat jamaah ini.

Acara yang ditunggu-tunggu pun tiba. Setelah seharian capek bermain-main dengan di berbagai wahana, kini waktunya makan malam. JTO menjamu kami di Shangri La seafood buffet Jungmun Marine Park Pacific Land, sebuah restoran yang sangat populer di kawasan tersebut. Jungmun merupakan kawasan resort dan hotel terbaik di Jeju, seperti di Nusa Dua Bali. Disini juga dibangun sebuah convention center untuk menggelar berbagai acara besar.

Disini benar-benar makan besar, berbagai jenis makanan laut terhidang. Ada berbagai jenis sushi, makanan Jepang, biasanya daging ikan salmon yang diletakkan diatas kepalan kecil nasi yang dimakan sekali telan. Selain itu ada kerang, ikan, kepiting yang cukup besar juga udang yang merupakan hasil lain Jeju. Kami mencobanya sedikit-sedikit, menikmati petualangan rasa setelah sebelumnya menjalani petualangan fisik selama seharian. Harganya sih cukup menguras kantong rata-rata orang Indonesia, sekitar 500 ribu rupiah per kepala.

Setelah kenyang menikmati hidangan yang lezat, kini waktunya merebahkan tubuh. Kami menginap di The Suite Hotel, salah satu hotel terbaik di Jungmun, yang nyaman untuk istirahat. Kami menyiapkan energi untuk petualangan esok hari. (mukafi niam)

Dari (Internasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/48456/jeju-permata-wisata-korea

PonPes Al-Amin Pabuaran

Kamis, 07 April 2016

Islamic site near Mecca among few still preserved

Mecca, PonPes Al-Amin Pabuaran. Just outside the city of Mecca in Saudi Arabia lies one of Islams most important historical sites a cave where, according to tradition, the Prophet Muhammad spent time in seclusion, contemplation and self-reflection.

It was here, inside Hira Cave located near the top of a steep hill called Noor Mountain, where Muslims believe God revealed to the prophet the first verses of the Quran through the angel Jebril, or Gabriel as he is named in English.

Islamic site near Mecca among few still preserved (Sumber Gambar : Nu Online)
Islamic site near Mecca among few still preserved (Sumber Gambar : Nu Online)


Islamic site near Mecca among few still preserved

Today, the site is among few still preserved from the prophets time with help from Pakistani workers in the kingdom.

PonPes Al-Amin Pabuaran

Each year, observant Muslims deepen their prayers and supplication in the final 10 nights of the Islamic month of Ramadan, believing that it was during this time some 1,400 years ago that the miraculous revelation took place on Noor Mountain, also known as the "Hill of Light."

PonPes Al-Amin Pabuaran

The hill itself is not part of the annual hajj pilgrimage, but its location so close to the holy city of Mecca and its significance as a place of enlightenment draws thousands of pilgrims here every year.

But present-day visitors encounter a markedly different summit from the one the prophet experienced.

For starters, there are now more than 1,000 steps that guide pilgrims up the rocky hill to the secluded cave. Along the way, entrepreneurial Pakistanis sell bottled water, snacks and tea to pilgrims exhausted by the climb.

Unlike the quiet and seemingly endless stretch of nature the prophet would have seen from the cave, massive high-rises housing five-star hotels jut into the distant skyline just steps away from the cube-shaped Kaaba, Islams holiest site.

The Pakistani workers and beggars who live off the mountains draw say they play a key role in helping to preserve it.

Nizam Din, from the Pakistani city of Quetta, spends his days begging and fixing broken cement steps along the path up Noor Mountain. Jamal Khan, from Karachi, Pakistans largest city and main port, also earns a living by serving the pilgrims who make their way to the cave.

"Our lives here are better because we do not have jobs back home," he said. "What is a better place to be than here where the Prophet Muhammad received his first revelation from God?"

Meccas mayor, Osama al-Bar, says the municipality ensures the areas cleanliness. There are also plans, he said, for the development of a visitors center near the hill to explain to people its significance and history.

He said the area is watched over by the kingdoms religious police, known as the Commission for the Promotion of Virtue and Prevention of Vice, who ensure visitors do not turn it into a place of worship that venerates anything other than God.

Here is a selection of images by Associated Press photographer Nariman El-Mofty showing the Pakistanis who work on Noor Mountain. (AP/Masdar)

Dari (International) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/71254/islamic-site-near-mecca-among-few-still-preserved-

PonPes Al-Amin Pabuaran

Selasa, 09 Juni 2015

Ini Dalil Mahallul Qiyam Maulid

PonPes Al-Amin Pabuaran - Mahallul Qiyam atau berdiri ketika tengah membaca shalawat itu sangat-sangat dibolehkan. Jika ada yang membid'ahkan mahallul qiyam ketika kita sedang membaca sirah nabawiyah dalam bentuk syair berbait macam Al Barzanji, Diba', Burdah, SImtut Duror dan lainnya, maka ia sebetulnya sedang melarang kita untuk berdzikir, padahal, berdzikir kepada Allah dapat dilakukan dalam posisi apapun, sebagaimana dalam ayat berikut:

Ini Dalil Mahallul Qiyam Maulid
Ini Dalil Mahallul Qiyam Maulid


الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ ... (ال عمران ١٩١)

"(Ulul Albab yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring..." (Ali Imran: 191)

Dan kita ketahui bahwa shalawat adalah dzikir karena diperintahkan dalam Al-Quran dan banyak hadist. Dengan demikian, membaca shalawat tetap boleh, baik dengan cara duduk atau berdiri.

Amaliah di lingkungan kita berupa berdiri saat mengisahkan kelahiran Nabi Muhammad shalla Allahu alaihi wa sallama telah dilakukan sejak abad pertengahan Islam yang dilakukan seorang ulama yang bertaraf mujtahid di lingkungan Madzhab Syafiiyah, yaitu Imam As-Subki, sebagaimana disampaikan oleh ulama ahli sejarah Syekh Ali Al-Halabi dalam kitabnya "Insan al-Uyun Fi Sirat Al-Amin Al-Ma'mun":

ﻭﻗﺪ ﻭﺟﺪ اﻟﻘﻴﺎﻡ ﻋﻨﺪ ﺫﻛﺮ اﺳﻤﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻣﻦ ﻋﺎﻟﻢ اﻷﻣﺔ ﻭﻣﻘﺘﺪﻱ اﻷﺋﻤﺔ ﺩﻳﻨﺎ ﻭﻭﺭﻋﺎ اﻹﻣﺎﻡ ﺗﻘﻲ اﻟﺪﻳﻦ اﻟﺴﺒﻜﻲ، ﻭﺗﺎﺑﻌﻪ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﻣﺸﺎﻳﺦ اﻹﺳﻼﻡ ﻓﻲ ﻋﺼﺮﻩ، ﻓﻘﺪ ﺣﻜﻰ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﺃﻥ اﻹﻣﺎﻡ اﻟﺴﺒﻜﻲ اﺟﺘﻤﻊ ﻋﻨﺪﻩ ﺟﻤﻊ ﻛﺜﻴﺮ ﻣﻦ ﻋﻠﻤﺎء ﻋﺼﺮﻩ ﻓﺄﻧﺸﺪ ﻣﻨﺸﺪ ﻗﻮﻝ اﻟﺼﺮﺻﺮﻱ ﻓﻲ ﻣﺪﺣﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ:

"Bentuk berdiri semacam ini ketika menyebut nama Nabi shalla Allahu alaihi wa sallama (mahallul qiyam) sungguh telah ditemukan dari ulamanya umat Islam dan panutan para imam, dari segi agamisnya dan kewara'annya (menjauhi hal-hal yang haram dan syubhat), yaitu Imam As-Subki dan diikuti oleh para ulama di masanya.

Sebagian ulama menceritakan bahwa Imam Subki dan para ulama berkumpul, lalu seorang penyair melantunkan syair pujian karya Ash-Sharshari untuk Nabi shalla Allahu alaihi wa sallama [bahr thawil] :

ﻗﻠﻴﻞ ﻟﻤﺪﺡ اﻟﻤﺼﻄﻔﻰ اﻟﺨﻂ ﺑﺎﻟﺬﻫﺐ ... ﻋﻠﻰ ﻭﺭﻕ ﻣﻦ ﺧﻂ ﺃﺣﺴﻦ ﻣﻦ ﻛﺘﺐ ﻭﺃﻥ ﺗﻨﻬﺾ اﻷﺷﺮاﻑ ﻋﻨﺪ ﺳﻤﺎﻋﻪ ... ﻗﻴﺎﻣﺎ ﺻﻔﻮﻓﺎ ﺃﻭ ﺟﺜﻴﺎ ﻋﻠﻰ اﻟﺮﻛﺐ

Artinya: "Sedikit sekali tulisan yang memuji Nabi pilihan dengan tinta emas di atas lembaran perak dalam tulisan terbaik. Hendaklah orang-orang mulia berdiri ketika mendengarnya, berdiri bershaf-shaf, atau berlutut diatas kendaraan"

ﻓﻌﻨﺪ ﺫﻟﻚ ﻗﺎﻡ اﻹﻣﺎﻡ اﻟﺴﺒﻜﻲ ﺭﺣﻤﻪ اﻟﻠﻪ ﻭﺟﻤﻴﻊ ﻣﻦ ﻓﻲ اﻟﻤﺠﻠﺲ، ﻓﺤﺼﻞ ﺃﻧﺲ ﻛﺒﻴﺮ ﺑﺬﻟﻚ اﻟﻤﺠﻠﺲ، ﻭﻳﻜﻔﻲ ﻣﺜﻞ ﺫﻟﻚ ﻓﻲ اﻻﻗﺘﺪاء.

Saat itulah Imam As-Subki berdiri bersama orang yang hadir dalam majelis. Keharuan yang besar terdapat dalam mejelis tersebut. Hal semacam ini sudah cukup [boleh] untuk diikuti" (As-Sirah Al-Halabiyah, 1/123 dikutip oleh banyak para ulama termasuk pengarang kitab Ianah Ath-Thalibin). [PonPes Al-Amin Pabuaran]

Ma'ruf Khozin, Aswaja NU Center PWNU Jatim.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/ini-dalil-mahallul-qiyam-maulid.html

Minggu, 16 November 2014

Keren! Ansor Sulsel Raih Police Honorary Award

Jakarta, PonPes Al-Amin Pabuaran. Ketika media massa tertentu dan media sosial dewasa ini dipenuhi ujaran kebencian dan ruang yang seringkali dimanfaatkan pelaku intoleran, PW GP Ansor Sulawesi Selatan (Sulsel) justru mendapatkan penghargaan sebagai organisasi perdamaian.

Penghargaan Police Honorary Award sebagai organisasi penebar perdamaian tersebut diserahkan Kapolda Sulawesi Selatan Irjen Anton Charliyan kepada Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor Sulawesi Selatan Muh Tonang Cawidu, Senin (7/11).

Keren! Ansor Sulsel Raih Police Honorary Award (Sumber Gambar : Nu Online)
Keren! Ansor Sulsel Raih Police Honorary Award (Sumber Gambar : Nu Online)


Keren! Ansor Sulsel Raih Police Honorary Award

Penghargaan tersebut merupakan berkah ijtihad dan sikap komando tertinggi nasional GP Ansor dan Banser dalam memberi arahan pada seluruh Ansor Banser Indonesia, ujar Tonang melalui Bidang Kaderisasi Kebanseran Sulsel Masud Shaleh, saat dihubungi PonPes Al-Amin Pabuaran, Senin (7/11).

Atas penghargaan tersebut, Tonang selanjutnya menyampaikan selamat untuk Ketua Umum PP GP Ansor H Yaqut Cholil Qoumas dan Kasatkornas Banser H Alfa Isnaeni.

PonPes Al-Amin Pabuaran

PonPes Al-Amin Pabuaran

Selamat juga untuk sahabat Ansor seluruh Indonesia, imbuh Masud yang juga Kepala Satuan Khusus Protokoler Satkornas Banser itu pula.

Police Honorary Award diberikan bagi para tokoh masyarakat dan organisai massa dan kepemudaan yang selama ini memberikan dedikasi demi terciptanya perdamaian.

Penghargaan itu adalah penghargaan istimewa dari polisi kepada yang menerima penghargaan itu.

"Sehingga diberikan penghormatan Khusus oleh Kapolda sebelum penyerahan piagam perhargaan itu," kata dia.

Kasatkornas Banser H Alfa Isnaeni mengucapkan selamat dan bangga atas prestasi tersebut. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/72757/keren-ansor-sulsel-raih-police-honorary-award

PonPes Al-Amin Pabuaran

Senin, 13 Oktober 2014

KHR. Asad Syamsul Arifin, Mengomando Jawara di Kawasan Tapal Kuda

PonPes Al-Amin Pabuaran - Kiai Raden As'ad Syamsul Arifin lahir pada 1897 M/1315 H di Syi'ib Ali, Makkah dari pasangan Raden Ibrahim dan Siti Maemunah. Ketika As'ad kecil lahir, oleh ayahnya, bayi mungil itu langsung dipeluk untuk dibawa menuju Ka'bah. Jarak sejauh 200 meter antara Syi'ib Ali dan Ka'bah tidak menjadi halangan untuk membawa bayi ini mendekat ke pusaran suci umat muslim. Raden Ibrahim kemudian membisikkan adzan dan memberi bayi itu nama As'ad.

KHR. Asad Syamsul Arifin, Mengomando Jawara di Kawasan Tapal Kuda
KHR. Asad Syamsul Arifin, Mengomando Jawara di Kawasan Tapal Kuda


Ketika berusia 13 tahun, As'ad kecil mondok di Banyuanyar di bawah asuhan Kiai Abdul Majid dan KH. Abdul Hamid. Pada usia 16 tahun, As'ad dikirim ayahandanya mengaji ke Makkah, tanah suci di mana ia dilahirkan. Ia belajar di Madrasah Shaulatiyyah. Selain itu, ia juga berguru kepada Sayyid Abbas al-Maliki, Syekh Hasan al-Yamani, Syekh Hasan Masyath, Syekh Bakir dan Syekh Syarif asy-Syinqithi. Ketika belajar di Makkah, As'ad bersama kawan-kawannya yang berasal dari Nusantara, di antaranya: KH. Zaini Mun'im, KH. Ahmad Thoha, KH. Baidhawi Banyuanyar Pameksaan dan beberapa santri lainnya.

Pada tahun 1924, setelah bertahun-tahun belajar di Makkah, As'ad kembali ke kampung halaman. Ia merasa masih belum memiliki keilmuan yang cukup, meski keahlian ilmu agamanya sudah tidak diragukan. Sebagaimana tradisi santri Nusantara, As'ad kemudian meneruskan langkahnya untuk melakukan perjalanan ilmiah (rihlah ilmiyyah) sebagai santri petualang ilmu, dari pesantren satu ke pesantren lainnya. Kiai As'ad mengaji tabarrukan di beberapa pesantren di tanah Jawa dan Madura, antara lain: Pesantren Sidogiri Pasuruan (asuhan KH. Nawawi), pesantren Siwalan Panji Buduran Sidoarjo (asuhan KH. Khazin), Pesantren an-Nuqayah Guluk-Guluk Sumenep Madura, Pesantren Kademangan Bangkalan (KH. Muhammad Cholil) dan Pesantren Tebu Ireng Jombang.

Pengalaman mengaji di Makkah dan beberapa pesantren di Jawa-Madura membuat karakter pribadi serta keilmuan Kiai As'ad menjadi mendalam. Akan tetapi, Pesantren Tebu Ireng lah yang paling membentuk kepribadian Kiai As'ad. Ketika menyebut Kiai Hasyim As'ari (1875-1947) dan Pesantren Tebu Ireng, Kiai As'ad menunjukkan ta'dzim yang sangat tinggi.

Di bawah asuhan Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari, Kiai As'ad menemukan karakter, wawasan, perspektif hingga semangat perjuangan untuk kemerdekaan. Di Tebu Ireng, Kiai As'ad berkawan dengan para santri pejuang, yang kelak menjadi garda depan Nahdlatul Ulama dan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Di antaranya, yakni KH. Wahab Chasbullah (1888-1971), KH. Bisri Syansuri (1886-1980), KH. Abbas Buntet (1879-1946), KH. Wahid Hasyim, dan beberapa kiai lainnya.

Mediator Berdirinya NU

Dalam proses pendirian Nahdlatul Ulama, peran Kiai As'ad Syamsul Arifin sangat besar. Hal ini, karena beliaulah yang menjadi mediator antara Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari dan Syaichona Chalil Bangkalan. Pada masa menjelang berdirinya NU, Kiai Chalil Bangkalan mengutus Kiai As'ad ke Tebu Ireng, untuk menemui Kiai Hasyim Asy'ari.

Pesan Syaichona Chalil kepada Kiai Hasyim Asy'ari berwujud perlambang-perlambang yang menggambarkan konteks dan filosofi di balik pentingnya kesatuan ulama. Kiai As'ad diutus oleh Syaichona Chalil untuk menyampaikan sebuah tasbih dan ucapan surat Thaha (17-23), yang menceritakan mukjizat Nabi Musa dan tongkatnya—kepada Kiai Hasyim Asy'ari.

Kemudian, peristiwa ini terulang kembali, ketika Syaichona Chalil mengirim Kiai As'ad ke Tebu Ireng, untuk menyampaikan pesan berupa wirid "Ya Jabbar Ya Qahhar". Pesan simbolik berupa tasbih, surah Thaha dan wirid-wirid tersebut mengandung maksud bahwa Syaichona Chalil merestui pendirian Nahdlatul Ulama dan Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari menjadi pemimpin spritual ulama Nusantara. Peran penting Kiai As'ad, menjadikan beliau sering disebut sebagai mediator berdirinya Nahdlatul Ulama.

Kiai As'ad juga mengomando Laskar Sabilillah dan Hizbullah. Sosok Kiai As'ad sangat disegani oleh ketiga laskar di kawasan Tapal Kuda, yakni anggota Laskar Sabilillah, Hizbullah dan Pelopor. Kharisma Kiai As'ad menjadikan para kiai yang tergabung dalam barisan Laskar Sabilillah mendengarkan seluruh nasihat, wejangan dan komando Kiai As'ad.

Para santri dan pemuda yang tergabung dalam barisan Laskar Hizbullah juga setia pada strategi dan komando yang diberikan Kiai As'ad. Bahkan, para band1t yang bergerak dalam Barisan Laskar Pelopor juga sendika dawuh (tunduk) dengan perintah Kiai As'ad. Kombinasi ketiga laskar inilah yang menjadi senjata ampuh untuk melawan penjajah di kawasan Tapal Kuda.

Kiai As'ad bersama Kiai Abdus Shomad (sepupunya, pemimpin Seinin dan Keibodan), pada zaman Jepang, pernah mendapat kursus militer di Jember. Teknik dasar militer inilah yang menjadi pondasi strategi Kiai As'ad dan beberapa kiai lainnya, dalam menyusun rencana perjuangan militer yang dipadukan dengan kekuatan santri (Hasan, 2003: 82-84).

Berjuang Mengawal Negeri

Sosok Kiai As'ad Syamsul Arifin menjadi inspirasi bagi santri masa kini. Beliau memiliki keilmuan, kemampuan dan visi perjuangan yang lengkap. Kiai As'ad memiliki kedalaman ilmu agama yang tidak diragukan, mengusai ilmu militer dan bela diri, serta berhasil mengomando para b4ndit agar membantu perjuangan santri dalam mengawal kemerdekaan Indonesia.

Dalam catatan Syamsul A Hasan (2003), salah satu kecerdikan Kiai As'ad adalah kemampuannya dalam mengorganisir para jawara yang sebagian besar berasal dari kawasan Tapal Kuda. Para b4ndit dan jawara dari Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Probolinggo, Jember, Lumajang dan Pasuruan dikumpulkan untuk diajak berjuang melawan penjajah Belanda.

Barisan band!t ini, kemudian dihimpun sebagai dengan satu nama: "Pelopor". Barisan Pelopor ini, sering berpakaian serba hitam, mulai dari baju, celana, hingga tutup kepala. Mereka menggunakan senjata celurit, rotan dan keris. Uniknya, para jawara yang berada di barisan Pelopor ini, tunduk dan setia pada komando Kiai As'ad Syamsul Arifin.

Kiai As'ad memerintahkan para pejuang Pelopor bagian logistik untuk mengirim pejuang yang berada di hutan. Pasukan Pelopor, Sabilillah, Hizbullah, dan pasukan lain berjuang dengan strategi gerilya. Mereka masuk gunung dan keluar gunung, untuk menyerang pasukan Belanda, lalu mengamankan diri. Mereka menggunakan taktik: "serang dan lari"! Strategi ini dilakukan oleh para santri yang tergabung dalam pelbagai laskar, hingga Negara Republik Indonesia diakui kedaulatannya oleh Belanda, pada Desember 1949.

Kiai As'ad mengutus beberapa anggota pasukan Pelopor dan Sabilillah untuk mengambil senjata milik pasukan Belanda. Di kawasan Situbondo, tugas ini dikomando oleh Mawie dan Hamid, barisan Sabilillah. Menariknya, mereka merekrut para brandal yang siap berjuang untuk negara Indonesia. Pada malam hari, para brandal dan preman ini, mengambil senjata-senjata milik Belanda di beberapa Pabrik Gula (PG) kawasan Situbondo.

Pada masa penjajahan, Pabrik Gula memegang peran vital sebagai lumbung ekonomi Belanda, hingga mendapat akses langsung ke birokrasi pusat. Di PG, para pekerja keamanan diberi fasilitas senjata. Setelah senjata terkumpul, kemudian dibagikan kepada anggota Pelopor, Sabilillah, Hizbullah, dan pejuang-pejuang lainnya.

Jaringan pejuang di kawasan Bondowoso dan Jember juga melakukan hal yang sama, merebut senjata dari pasukan Belanda. Para anggota Pelopor mengirim senjata ke markas pejuang Kiai As'ad, dengan melewati hutan belantara. Strategi ini, agar misi ini tidak diketahui oleh pasukan Belanda. Setelah sampai di Sukorejo, senjata-senjata ini dikumpulkan, disimpan di bawah lumbung padi, dipendam di masjid, atau ditanam di kuburan (Hasan, 2003: 131-134).

Salah satu motivasi dan petuah penting Kiai As'ad tentang perjuangan adalah bagaimana niat menjadi utama: "Perang itu harus niat menegakkan agama dan 'arebbuk negere (merebut negara), jangan hanya 'arebbuk negere! Kalau hanya 'arebbuk negere, hanya mengejar dunia, akhiratnya hilang! Niatlah menegakkan agama dan membela negara sehingga kalau kalian mati, akan mati syahid dan masuk surga!" (Rahman, 2015: 138).

Pemikiran, strategi dan teladan yang diwariskan oleh Kiai As'ad Syamsul Arifin harus menjadi semangat bagi santri masa kini. Apa yang bisa dipetik dari kisah Kiai As'ad? Bahwa santri harus tetap menjaga jalur pengetahuan (sanad) dengan para kiai, mendalami ilmu-ilmu agama yang menjadi benteng kokohnya Islam, merawat Nahdlatul Ulama, serta membela negeri ini kelompok yang ingin merusaknya. Semangat KH. Raden As'ad Syamsul Arifin dapat menjadi pedoman bagi santri untuk menjaga negeri, mengawal kesatuan bangsa ini. [PonPes Al-Amin Pabuaran].

Munawir Aziz, periset Islam Nusantara, Wakil Sekretaris LTN PBNU

Referensi:

- Ahmad Sufiatur Rahman. KH. R. As'ad Syamsul Arifin, Ksatria Kuda Putih Pejuang Negeri. Solo: Tinta Medina. 2015.

- Syamsul A Hasan. Kharisma Kiai As'ad di Mata Umat. Yogyakarta: PP Salafiyyah Syafi'yyah dan LKIS. 2003.

- M. Hasan Basri dan Chairul Anam. KH.R As'ad Syamsul Arifin: Riwayat Hidup dan Perjuangannya. Sahabat Ilmu. 1994.

KH. Abdul Aziz Masyhuri. 99 Kiai Kharismatik Indonesia: Riwayat, Perjuangan dan Doa. Yogyakarta: Kutub. 2008.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/11/khr-asad-syamsul-arifin-mengomando-para-jawara-kawasan-tapal-kuda.html

Senin, 06 Oktober 2014

Kecewa: Demo 212 Bukan Soal Iman Tapi Kebencian

PonPes Al-Amin Pabuaran - Alhamdillah kita bersyukur aksi sholat Jumat bersama berjalan lancar. Sejujurnya, mungkin saya satu-satunya orang yang tidak bahagia dengan aksi demo oleh jutaan masa itu. Anda boleh menyayangkan pernyataan saya, boleh menyesalkan atau menganggap saya munafiq sekalipun.

Kecewa: Demo 212 Bukan Soal Iman Tapi Kebencian
Kecewa: Demo 212 Bukan Soal Iman Tapi Kebencian


Kawan-kawan, aksi 1-3 itu bukan soal Islam yang menyatukan, tapi soal berhasilnya upaya dan kucuran dana untuk pendangkalan ajaran dan pemahaman.

Aksi 1-3 itu bukan soal girah Islam yang tergugah tapi soal pemahaman agama yang salah arah dan salah kaprah.

Aksi 1-3 itu bukan soal aksi damai dan berjalan tertib tapi semata-mata kabinet yang solid dan presiden yang smart yang membuat pimpinan aksi tidak bisa berkutik.

Aksi 1-3 bukan soal jihad tapi soal ambisi dan kebencian yang terakumulasi.

Aksi 1-3 bukan soal membela ayat suci tapi soal umat yang sudah semakin jauh dari sentuhan dan keteladanan para kiai. Akhirnya mereka belajar Islam dari dai produk Saudi.

Aksi 1-3 akibat polarisasi Pendidikan Umum dan Islami, saat tumbuh interest terhadap Islam mereka sudah diapit dimbimbing wahabi.

Aksi 1-3 bukan soal aksi damai atau anarki tapi soal wahabi takfiri yang masih lemah di hadapan kuatnya NKRI.

Aksi 1-3 bukan soal kebangkitan mayoritas tapi hasil publisitas dengan dana tak terbatas, tv, radio, majalah, rohis-rohis kampus, terus menerus sampai mengikis habis identitas. Tak lagi jelas, demarkasi antara NU, Muhammadiyah, Persis, FUI, dan lain-lain ormas.

Aksi 1-3 ini kebangkitan kembali masyumi yang pernah terlibat makar permesta, dan menajamnya kembali simpul-simpul pembeda antar ormas agama dengan bahan-bahan perdebatan yang tak ada habisnya sebenarnya hampir saja di era kita itu semua mereda.

Aksi 1-3 adalah gambaran bagaimana ajaran yang benci negara, anti bhineka tunggal ika yang dahulu kita hawatirkan bersama, dan kita anggap musuh negara, kita lihat telah diturunkan, diwariskan, diajarkan pada putra-putri, murid kita dan pengikut mereka.

Aksi 1-3 adalah kuatnya hegemoni tirani ustadz minoritas yang membungkam para Kiai yang berintegritas, dahulu kita mintai fatwa kita ikuti perkataannya, kini entah karena apa diam membisu tanpa kata. Seolah Gus Mus, Mbah Moen, Buya Syafii, Habib Luthfi, Sanusi Baco, Mbah Yai Din - Mbah Yai da dan ratusan nama lainnya seolah sudah tiada dari kehidupan kita.

Aksi 1-3 adalah wajah dimana otoritas kalah dengan publisitas. Kiai kita yang dianggap tidak menaikan rating, tidak mampu membeli slot acara televisi, jikapun ada seperti Prof Quraish karena tidak sejalan dengan mereka para dai oportunis dengan paham agama minimalis pak Quraish tidak mereka gubris.

Aksi 1-3 adalah menunjukan semakin banyak kesadaran untuk menjalankan ajaran, cucu, anak, mantu, ayah, kakek nenek terbukti satu keluarga dengan beberapa wajah generasi turun ke jalan namun sayang apa tidak keterlaluan jika saya ngomong mereka salah jalan karena mereka salah mengambil sumber pengajaran.

Aksi 1-3 ini mengabarkan memang benar sejak "khalifah", raja-raja, sultan-sultan mereka bisa naik dan turun jabatan karena demonstran yang disulut oleh sentimen keagamaan.

Jika kini barat mengalami aneka fase peradaban dengan berbagai pencapaian yang mengagumkan, maka umat Islam dari dulu hingga kini masih sama, mereka bisa bangkit karena sentiman keagamaan dan sedikit saja hasutan.

Misalnya Ahok melakukan kekejian Al-Quran telah dinistakan Ayo, mari kita penjarakan atau kita bunuh supaya agama tidak terkalahkan. Pak, bu kalau begini bukan soal iman tapi soal kebencian yang dibalut ratapan dan doa kepada Tuhan.

Ada ribuan kata yang ingin saya tuliskan, tapi mungkin Anda tak akan membacanya, karena Anda lelah setelah terobsesi menonton berjam-jam siaran langsung para demonstran.

Saya akhiri saja dengan seruan, ayo tata organisasi kita dari PB hingga ranting. Biar urusan proyek dan bancaan sumbangan kita pikirkan belakangan.

Hidupkan pengajian dirumah dan di madrasah, kita ajarkan Islam ramah dengan datang ke persatu-satu tiap rumah. Buka wawasan, bangkitkan kewaspadaan jangan sampai, kampung, dusun, kecamatan, kota bahkan negara jangan sampai terjamah paham yang salah.

Ya Rasulallah tunjukan pada kami Islam ramat, Islam yang menyatukan kami, suku-suku bangsa, agama dan kepercayaan rakyat, sesuai wasiat para pendiri bangsa, agar kami teguh memegang amanat. [PonPes Al-Amin Pabuaran]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/kecewa-demo-212-bukan-soal-iman-tapi-kebencian.html

Kamis, 21 Agustus 2014

Siswa MI NU Sabet Medali Karate Nasional

Bojonegoro, PonPes Al-Amin Pabuaran. Syukur dan bangga. Mungkin dua kata itulah yang pantas diucapkan oleh segenap keluarga besar Madrasah Ibtidaiyah Nahdlotul Ulama (MINU) Wali Songo Sumuragung Sumberrejo Bojonegoro ketika Galuh Eka Fidyanti meraih Juara III Karate tingkat Usia Dini Nasional.

Raut muka sumringah tampak dari wajah pemangku kepentingan MINU Wali Songo ketika menyambut kedatangan pelatih karate Lemkari kecamatan Sumberrejo yang menyerahkan medali beserta atribut lainnya atas prestasi dari anak didiknya yang meraih medali perunggu dalam kejuaraan karate Lemkari tingkat Nasional di kantor MINU Wali Songo Rabu (20/2) pagi.

Siswa MI NU Sabet Medali Karate Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Siswa MI NU Sabet Medali Karate Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)


Siswa MI NU Sabet Medali Karate Nasional

Galuh Eka Yulianti siswi kelas III (tiga) ini meraih medali setelah melalui berbagai seleksi ketat dan bertahap. Siswa pendiam ketika kegiatan belajar mengajar (KBM) berlangsung ini menyabet medali kategori usia dini 30 kg putri.

PonPes Al-Amin Pabuaran

Sebagaimana diketahui siswi yang senangnya duduk di bangku deretan belakang ini beberapa hari terakhir sering izin melalui wali kelasnya untuk mengikuti seleksi kejuaraan karate Lemkari tingkat kabupaten kategori/kumite usia dini 30 kg putri.

PonPes Al-Amin Pabuaran

Kami maklum jikalau ini demi prestasi anak didik kami, ujar Mubarok Firdaus Wali kelas III.

Kegiatan kejuaraan karate Lemkari ini memperebutkan Piala ketua umum Lemkari dan Ronggolawe I (pertama) pada tanggal 15 s/d 17 Februari 2013 di Kota Tuban.

Redaktur: Mukafi Niam

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/42702/siswa-mi-nu-sabet-medali-karate-nasional

PonPes Al-Amin Pabuaran

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PonPes Al-Amin Pabuaran sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PonPes Al-Amin Pabuaran. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PonPes Al-Amin Pabuaran dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock