Tampilkan postingan dengan label Duta Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Duta Islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Januari 2017

Jeju, Permata Wisata Korea

Jakarta, PonPes Al-Amin Pabuaran. Jeju merupakan pulau terbesar di Korea Selatan yang memiliki otonomi khusus. Kini aktifitas utamanya adalah wisata dan pertanian. Setelah menjadi anggota salah satu tujuh keajaiban alam dunia bersama Komodo di Indonesia, pemerintah Jeju sangat aktif mempromosikannya untuk menarik turis datang ke pulau ini.

Sejak dahulu, tempat ini sudah dikenal sebagai pulau untuk bulan madu bagi warga Korea. Pada tahun 1970-an hanya ada satu penerbangan dari Seoul ke Jeju, kini setiap tahunnya, pulau ini dipadati oleh 10.5 juta turis, padahal penduduknya hanya 500 ribu jiwa. Pengelolaan tempat wisata secara profesional membuat wisatawan merasa nyaman dan puas dengan.

Jeju, Permata Wisata Korea (Sumber Gambar : Nu Online)
Jeju, Permata Wisata Korea (Sumber Gambar : Nu Online)


Jeju, Permata Wisata Korea

Dari bandara Gimpo, kami menggunakan pesawat Korean Air dengan waktu tempuh sekitar 1 jam penerbangan. Saya lihat tiketnya berharga 53.000 won. 1 won sekitar 10-11 rupiah, jadi kalau di rupiahkan harga tiket sekitar 550.000-600.000, sama dengan Indonesia, harga tersebut standar untuk penerbangan selama satu jam. Yang kami suka di bandara Korea, baik Incheon, Gimpo, atau Jeju, proses pengambilan bagasi sangat cepat. Begitu kami turun dari pesawat, hanya beberapa menit menunggu di tempat pengambilan bagasi, tas-tas bagasi sudah mulai muncul. Ini merupakan bagian dari tradisi kerja keras dan selalu ingin cepat orang Korea.

PonPes Al-Amin Pabuaran

Satu masalah yang kami hadapi di Korea adalah urusan toilet. Di bandara, hotel, atau tempat rekreasi, toilet selalu menggunakan sensor elektronik. Begitu selesai kencing, beberapa detik kemudian air akan mengucur membersihkan tempat buang air. Orang Indonesia yang terbiasa cebok agak susah dengan gaya toilet canggih ini. Akhirnya, kebiasaan kami ketika di toilet, yang semakin sering dari biasanya karena udara yang dingin, terpaksa geser kiri-geser kanan atau mundur dulu agar air mengucur dan kami bisa menampung sedikit air di tangan untuk cebok. Untuk temen-teman perempuan, mereka kemana-mana bahkan harus membawa botol aqua kosong kalau sedang di toilet. Secara berseloroh, kami menyebut toiletnya ngak Islami. Orang Indonesia dari kecil diajarkan membersihkan kelaminnya setelah kencing.

Kami terbang dari Gimpo pukul 12.30 waktu setempat dan tiba di Jeju satu jam kemudian. Selama di pesawat kami gunakan untuk sedikit terlelap menghilangkan kepenatan akibat perjalanan panjang. Begitu turun, kami kembali segar.

PonPes Al-Amin Pabuaran

Selamat datang Jeju, acara jalan-jalan dimulai. Dengan menggunakan bis, tujuan pertama adalah batu kepala naga yang dalam bahasa Korea dikenal dengan nama Yongduam (yong=naga), yang lokasinya tak jauh dari Bandara, kira-kira hanya memerlukan waktu 10 menit dari bandara.

Legenda menyatakan bahwa kurir raja naga dikirim ke Gunung Halla untuk mengumpulkan bullocho (herbal terkenal untuk memberikan hidup yang kekal). Utusan tersebut tewas oleh panah dari dewa gunung yang marah. Bagian tubuhnya tenggelam ke dalam air sementara kepala tetap di atas air ketika berusaha untuk kembali ke langit. Kalau menurut pendekatan ilmiah, batu berbentuk kepala naga ini merupakan hasil erupsi gunung berapi jutaan tahun lalu.

Masuk ke lokasi ini tidak di pungut tiket. Disini, kami belajar tentang tradisi dan kepercayaan orang Jeju. Banyak sekali rombongan wisatawan yang datang, terlihat dari seragam yang mereka kenakan. Tampaknya ada tradisi berwisata dengan baju seragam di Korea, beda dengan di Indonesia yang lebih memilih baju santai.

Kami hanya sebentar di lokasi ini, foto-foto. Saya sempat mengambil gambar Kiai Masdar, Prof Suwito, dan Prof Bambang Pranowo dengan latar belakang pantai dan gedung-gedung tinggi di seberangnya.

Kami selanjutnya bergerak ke Jalan Berhantu atau dalam bahasa lokal disebut Dokkaebi yang terletak di sebuah bukit di kaki gunung. Saya langsung terbayang Jabal Magnet di Arab Saudi yang katanya, karena tarikat magnet, mobil bisa jalan sendiri ke atas, melawan gravitasi. Jalan ini terkenal mulai tahun 1980-an ketika seorang sopir taksi mengantarkan satu pasangan yang sedang berbulan madu. Mereka berhenti di lokasi tersebut untuk foto-foto, tiba-tiba, mobil yang diparkir jalan sendiri, bukannya turun ke bawah, tapi malah naik ke atas dan mereka mengira ada hantu yang mengusiknya. Cerita tersebut akhirnya tersebar dari mulut ke mulut dan semakin banyak orang mencoba keajaiban tersebut. Karena semakin banyaknya orang mencoba, jalanan jadi macet dan pemerintah membuat jalan baru.

Pada titik yang ditentukan, sopir bis mematikan mesin, dan ajaib, bis seperti bergerak naik ke atas, pelan, pelan dan semakin lama semakin kencang sampai akhirnya sopir menghidupkan lagi mesinnya. Kami tidak ada yang turun dari bis untuk lokasi ini.

Bagaimana fenomena sesungguhnya dari kejadian ini. Sebenarnya, jalanan tersebut tidak menanjak, tetapi karena sekeliling jalan tersebut merupakan perbukitan, maka terjadi ilusi optik, seolah-olah jalan tersebut naik.

Kini tujuan selanjutnya adalah Sumokwon Theme Park yang didalamnya terdapat museum es, pertunjukan film lima dimensi.

Dengan tiket seharga 7.000 won atau USD 7, kami bisa masuk museum yang didalamnya dipenuhi dengan patung-patung yang dibuat dari es. Sebelum masuk, petugas memberi selimut. Begitu masuk dalam ruangan, patung-patung indah terpahat dari es. Bagi kami yang berasal dari daerah tropis, destinasi ini sangat menarik. Hanya dalam beberapa menit, tubuh sudah menggigil kedinginan. Untung saja sebelum berangkat, kami sudah siap dengan pakaian tebal dan kaos tangan, bisa sedikit membantu. Tangan terasa beku, sudah tidak bisa merasakan lagi sentuhan. Tapi, kesempatan ini tidak kami sia-siakan, semuanya segera jeprat-jepret memilih lokasi terbaik, bergaya dengan posisi terindah untuk kenang kenangan atau narsis-narsisan di media sosial. Ada yang dibentuk seperti gua dengan stalaktitnya yang runcing-runcing, seolah-olah akan patah dan menusuk, ngeri juga membayangkannya bagaimana kalau benar-benar patah esnya. Ada pula patung beruang dan patung tradisional Jeju, tapi yang paling menarik adalah berfoto di depan iglo, rumah dari salju berbentuk kubah khas orang Eskimo yang selama ini hanya bisa dilihat di foto dan video saja. Kami antri bergaya di depan pintu masuk berbentuk lengkung yang diatasnya dibuat patung beruang. profesor dan kiai juga turut ambil angle terbaiknya.

Untuk masuk harus sedikit merunduk. Saya masuk di dalam iglo tersebut dan didalamnya, tidak menjadi lebih dingin seperti bayangan saya semula. Didalamnya ada kursi dan ranjang yang terbuat dari es, kami bisa bergaya didalamnya, berfoto-foto sambil tiduran diatas es, he he he, dingiiiin.

Dalam museum, juga ada luncur-luncuran dari es. Beberapa anggota rombongan pun meluncur dari atas, sambil menjerit-jerit kecil sambil ketawa cekikikan diatas luncuran yang dingin, sementara kawan kami yang dibawah diminta mengambil fotonya. Yah, kami kembali ke masa kecil yang mengasyikkan.

Kami selanjutnya pindah ke lantai dua, untuk menyaksikan pertunjukan film lima dimensi, tentu saja dengan menggunakan kacamata khusus. Untuk nonton pertunjukan, tiketnya berharga 5.000 won atau USD 5.

Ruangan berbentuk melingkar dan ditangahnya kami duduk di bangku-bangku yang telah disediakan. Begitu lampu dimatikan, dunia bawah lain seolah-olah muncul di depan mata dengan ikan yang berseliweran. Inilah hasil teknologi dan kreatifitas manusia yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya, melampaui imajinasi.

Sebenarnya masih ada satu wahana lagi di lantai atas untuk berfoto-foto ria dengan background 3 dimensi, seolah olah kami sedang surfing, terkena seruduk banteng, ditengah-tengah panasnya lava, dan lainnya. Sayang, waktu sudah mepet karena ada jadual pertemuan dengan Jeju Tourism Organization (JTO).

Kami disambut oleh Jinki Hwang, Overseas Promotion Assistant Manager yang mempromosikan Jeju sebagai destinasi yang layak untuk dikunjungi. CNN menasbihkan Jeju sebagai Asias new best weekend gateway dengan julukan Hawaii of Korea. UNESCO menempatkan Jeju sebagai biosphere reserver (2002) World Natural Heritage (2007) dan Global Geoparks (2010).

Jeju juga sudah mulai membangun infrastruktur untuk wisatawan Muslim seperti layanan hotel untuk ruangan sholat dan penentuan arah kiblat serta makanan halal. Disini, sudah ada Cabang Federasi Muslim Korea, yang dipimpin oleh Shaikh Hji Bashir Kim Dae Yong, lulusan fakultas syariah Universitas Qatar.

Jumlah kunjungan turis dari Indonesia ke Jeju juga semakin meningkat. Tahun 2012, terdapat hampir 150 ribu turis ke Korea dan sekitar 24 ribu atau 15.9 persen berkunjung ke Jeju, meningkat dari tahun 2011 yang hanya 10.1 persen dan 2010 yang hanya 3.9 persen.

Kami sholat jamak dan qashar di sini seusai acara dengan memindah-mindahkan meja dan kursi yang sebelumnya digunakan untuk presentasi. Di ruangan tersebut sudah disediakan beberapa sajadah, Quran dan kompas kiblat. Kiai Masdar memimpin sholat jamaah ini.

Acara yang ditunggu-tunggu pun tiba. Setelah seharian capek bermain-main dengan di berbagai wahana, kini waktunya makan malam. JTO menjamu kami di Shangri La seafood buffet Jungmun Marine Park Pacific Land, sebuah restoran yang sangat populer di kawasan tersebut. Jungmun merupakan kawasan resort dan hotel terbaik di Jeju, seperti di Nusa Dua Bali. Disini juga dibangun sebuah convention center untuk menggelar berbagai acara besar.

Disini benar-benar makan besar, berbagai jenis makanan laut terhidang. Ada berbagai jenis sushi, makanan Jepang, biasanya daging ikan salmon yang diletakkan diatas kepalan kecil nasi yang dimakan sekali telan. Selain itu ada kerang, ikan, kepiting yang cukup besar juga udang yang merupakan hasil lain Jeju. Kami mencobanya sedikit-sedikit, menikmati petualangan rasa setelah sebelumnya menjalani petualangan fisik selama seharian. Harganya sih cukup menguras kantong rata-rata orang Indonesia, sekitar 500 ribu rupiah per kepala.

Setelah kenyang menikmati hidangan yang lezat, kini waktunya merebahkan tubuh. Kami menginap di The Suite Hotel, salah satu hotel terbaik di Jungmun, yang nyaman untuk istirahat. Kami menyiapkan energi untuk petualangan esok hari. (mukafi niam)

Dari (Internasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/48456/jeju-permata-wisata-korea

PonPes Al-Amin Pabuaran

Minggu, 08 Januari 2017

Komunitas Kreatif Demak Suarakan Kemelut KPK-Polri Berakhir

Demak, PonPes Al-Amin Pabuaran. Komunitas Perpustakaan Sastra Nusantara-Arafat Library Demak (PeSaN ALiD) memperingati 40 hari salah seorang di antara mereka, Vanera El-Arj di Gubuk Jetak Wedung, Demak, Kamis (5/2) malam. Mereka melakukan aksi teaterikal yang menyauarakan perdamaian dan kesejahteraan Indonesia. Dalam aksinya, mereka menunjukkan keprihatinan atas kemelut berkepanjangan KPK-Polri.

Mereka juga mengingatkan kembali akan kedamian, rasa persahabatan dan kemakmuran bagi rakyat Indonesia. Mereka juga kecewa atas sikap negara yang membiarkan asetnya dikuasai asing seperti Freepot.

Komunitas Kreatif Demak Suarakan Kemelut KPK-Polri Berakhir (Sumber Gambar : Nu Online)
Komunitas Kreatif Demak Suarakan Kemelut KPK-Polri Berakhir (Sumber Gambar : Nu Online)


Komunitas Kreatif Demak Suarakan Kemelut KPK-Polri Berakhir

Pengelola PeSaN ALiD Arafat Ahc mengatakan, mengenang persahabatan ini sebagai wujud untuk mengambil hikmah budaya. Komunitas ini mencoba mengambil nilai pesan yang telah ditorehkan sahabat Vanera El-Arj melalui karyanya.

Bagi generasi bangsa, marilah gelorakan semangat berkarya dan upayakan penguatan kebudayaan yang diikuti dengan hasil cipta, karya, dan menjaga kearifan lokal sebagai warisan yang tidak dapat dinilai dengan materi, lanjut Arafat.

PonPes Al-Amin Pabuaran

Kegiatan Kenduri Rindu PeSaN ALiD bekerja sama dengan berbagai komunitas di Jawa Tengah dan Banten seperti PR Rambak Fathimiyyah, Rumah Baca Bintang Al-Ikhlas Banten, Komunitas Jenang Kudus, Smaput Pati, LKM-Esa Semarang, dan Sciena Madani Semarang.

Semangat persaudaraan ini diisi dengan berbagai acara antara lain pembacaan maulid tresno, tahlil dan doa, testimoni, performance art, puisi, renungan dan puisi. Acara ini juga dihadiri berbagai komunitas dan warga yang turut serta memadati halaman.

PonPes Al-Amin Pabuaran

Menurut Muhammad Rois Reinaldi dari Banten, orang yang berkarya harus mampu dan siap bersaing. Kita harus tetap berkarya, jangan pantang menyerah, katanya. (Lukni Maulana/Alhafiz K)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/57460/komunitas-kreatif-demak-suarakan-kemelut-kpk-polri-berakhir

PonPes Al-Amin Pabuaran

Rabu, 17 Februari 2016

Singgung Banser, Ansor Riau Desak Moeldoko Minta Maaf

Pekanbaru, PonPes Al-Amin Pabuaran. Pernyataan Panglima TNI Jenderal Moeldoko saat Inspeksi Mendadak (Sidak) di Batalyon Infanteri (Yonif) 752/Vira Yudha Sakti di Jalan Basuki Rahmat KM 10, Kabupaten Sorong Papua Barat menuai kritikan PW Ansor Riau.

Dalam Sidak tanggal 29/12 itu, Jendral Moeldoko mengatakan, "Kalau prajurit TNI sudah tidak memiliki disiplin maka kamu sama saja dengan Banser, hal itu akan sangat membahayakan karena prajurit TNI dilengkapi senjata", kata Panglima TNI.

Singgung Banser, Ansor Riau Desak Moeldoko Minta Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)
Singgung Banser, Ansor Riau Desak Moeldoko Minta Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)


Singgung Banser, Ansor Riau Desak Moeldoko Minta Maaf

Pernyataan Panglima yang menyinggung Banser itu dianggap merendahkan satuan Barisan Ansor Serbaguna (Banser). Karena itu, Ketua PW Ansor Riau sekaligus Wakil Sekretaris PP GP Ansor H Hadi Musa Said mendesak Panglima TNI meminta maaf kepada Banser.

Menurut Hadi Musa, Banser tidak bisa dianggap sebagai para militer yang tidak disiplin. Banser sebagai bentengnya ulama NU dikenal sebagai pasukan terlatih yang disiplin dan ikhlas dalam menjalankan tugasnya.

PonPes Al-Amin Pabuaran

"Jangan disamakan dengan TNI, sebab Banser tidak menerima gaji dari negara, mereka ikhlas mengawal NKRI dan ulama," ketus Hadi Musa.

Moeldoko, kata Hadi Musa, harus tahu bahwa Banser adalah paramiliter NU yang berjasa karena ikut memerdekakan Indonesia dan mengawal NKRI sampai hari ini.

PonPes Al-Amin Pabuaran

"Banser itu punya ulama dan santri yang konsisten menjadi benteng NKRI dengan semboyannya, NKRI harga mati, Pancasila Jaya".

Hadi Musa menambahkan, jumlah pasukan Banser juga lebih banyak dari personel TNI. Banser bahkan diperhitungkan oleh ISIS sebagai satu kekuatan yang menjaga NKRI sama seperti TNI dan Polri.

"Jadi sangat disayangkan jika Panglima TNI malah merendahkan Banser, Dia harus meminta maaf kepada GP Ansor," tegas Hadi Musa Said. (Purwaji/Abdullah Alawi)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/56725/singgung-banser-ansor-riau-desak-moeldoko-minta-maaf

PonPes Al-Amin Pabuaran

Rabu, 10 Februari 2016

Jas Hijau, Jangan Hilangkan Jasa Ulama

Cirebon, PonPes Al-Amin Pabuaran. Pengorbanan ulama dan santri dalam mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak dapat diragukan lagi. Sebab, bagi ulama dan santri ibadah akan sulit dilaksanakan ketika negara tidak utuh dan genting. Mengenai hal ini, peristiwa yang paling menonjol bisa dilihat dalam pertempuran di Surabaya pada 10 November 1945.

Demikian disampaikan KH Tb Ahmad Rifqi Chowas saat menjadi narasumber seminar nasional yang diselenggarakan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cirebon yang digelar di Komando Resort Militer (Korem) Cirebon pada Ahad (13/11).

Jas Hijau, Jangan Hilangkan Jasa Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)
Jas Hijau, Jangan Hilangkan Jasa Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)


Jas Hijau, Jangan Hilangkan Jasa Ulama

"Resolusi Jihad NU adalah salah satu bukti bahwa umat Islam Indonesia selalu menjadi garda terdepan dalam menjaga kedaulatan NKRI. Tanpa adanya Resolusi Jihad ini bisa jadi kita masih dijajah Sekutu," papar Kiai yang akrab disapa Kang Entus itu.

Namun Pengasuh Pesantren Daarusalam Buntet Pesantren Cirebon ini menyayangkan adanya upaya sebagian kelompok yang ingin menghapus peran ulama dan santri dalam sejarah perjalanan Indonesia. Hal ini bisa dilihat misalnya dari buku-buku sejarah di sekolah yang menampilkan perang 10 November 1945 tanpa menceritakan peranan ulama dan santri.

PonPes Al-Amin Pabuaran

"Bung Karno punya Jas Merah yaitu Jangan Sekali-Kali Melupakan Sejarah, kita punya Jas Hijau, yaitu Jangan Sekali-kali Hilangkan Jasa Ulama," tambah Ketua LBM PCNU Cirebon tersebut.

PonPes Al-Amin Pabuaran

Untuk itu Kang Entus mendorong kepada kalangan muda, khususnya para mahasiswa, untuk terus belajar sehingga diharapkan bisa mendapatkan pengetahuan dengan komprehensif.

Pembicara lain yang turut hadir dalam kegiatan tersebut adalah Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru NU (Pergunu) KH Asep Saifuddin Chalim serta Komandan Korem Cirebon Kolonel Inf. Bahram. (Aiz Luthfi/Abdullah Alawi)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/72913/jas-hijau-jangan-hilangkan-jasa-ulama

Kamis, 17 April 2014

Tegaknya Masjid dan Robohnya Ukhuwwah Muslim Sebelah

PonPes Al-Amin Pabuaran - Bagaimana mengelola perbedaan di tubuh umat? Ini sebuah pekerjaan rumah yang belum selesai. Bahkan ini juga terjadi di Australia. Badan mereka saja yang pindah ke Australia, negara modern yang multikultural, tapi mindset dan cara mereka memahami Islam masih sama saat mereka tinggal di kampung kelahirannya.

Tegaknya Masjid dan Robohnya Ukhuwwah Muslim Sebelah - PonPes Al-Amin Pabuaran
Tegaknya Masjid dan Robohnya Ukhuwwah Muslim Sebelah - PonPes Al-Amin Pabuaran


Tegaknya Masjid dan Robohnya Ukhuwwah Muslim Sebelah

Beberapa masa silam di tanah air, ada joke yang beredar luas: "Kalau masjidnya dikelola sama NU, yang hilang cuma sandal. Kalau Muhammadiyah yang urus masjidnya, paling juga qunut yang hilang; tapi kalau masjidnya sudah dikelola oleh aktivis itu tuh, masjidnya pun hilang diklaim oleh mereka!" Entah darimana asal-muasalnya joke itu, tapi konon ada sebagian kelompok yang memang merasa surga hanya diperuntukkan khusus untuk mereka. Sedangkan orang lain yang tidak sejalan dengan manhaj mereka atau tidak sama ibadah ritualnya dengan mereka dan tidak sejalan dengan pilihan strategi dakwah mereka akan dianggap bukan bagian dari umat Islam atau minimal tidak akan diberi tempat dalam masjid yang mereka kelola.

Tegaknya Masjid dan Robohnya Ukhuwwah Muslim Sebelah - PonPes Al-Amin Pabuaran
Tegaknya Masjid dan Robohnya Ukhuwwah Muslim Sebelah - PonPes Al-Amin Pabuaran


Tegaknya Masjid dan Robohnya Ukhuwwah Muslim Sebelah

Masjid yang merupakan rumah Allah berubah menjadi rumah kelompok mereka saja. Masjid yang didirkan dengan menggunakan resources umat dari golongan apapun, ketika sudah dikuasai kelompok itu berubah hanya menjadi milik mereka. Ini yang diisyaratkan dalam joke di atas "masjidnya pun hilang".

Artinya masjidnya hilang bukan lagi rumah Allah atau rumah bersama semua kelompok. Masjid telah hilang menjadi rumah sebagian pihak saja. Alih alih memakmurkan masjid, mereka sebenarnya tengah mengedepankan ego kelompok mereka saja.

Kegiatan di masjid hanya sesuai dengan aliran kelompok pengurus masjid. Mulai dari program, penceramah atau Ustadz/ah, buku bacaan, semuanya diatur oleh pengurus masjid. Jangan harap di masjid "yang sudah hilang" itu ada acara tahlilan atau ratiban.

Kenapa? Karena mereka bukan hanya pengurus masjid, tapi merekalah pemegang kunci surga. Maka kegiatan yang beraroma bid'ah, pembicara yang dituduh liberal atau bahan bacaan dari ulama yang dianggap sesat, mutlak diharamkan memasuki masjid yang mereka kelola.

Dan kisah yang sangat familiar ini bukan hanya di tanah air, bahkan sampai di Australia pun mereka masih melakukan hal yang sama. Masjid tegak berdiri, tapi ukhuwah telah roboh berantakan. Padahal bisa saja kan di-manage perbedaan itu dengan baik.

Misalnya, yang mau tahlilan atau ratiban dipersilakan. Tinggal alokasi waktunya saja diatur. Yang mau mengundang pembicara dari pihak lain, tinggal diatur saja slotnya. Yang mau diskusi topik apapun, silakan. Pendek kata, pengurus masjid itu fungsinya memfasilitasi kegiatan semua pihak di Masjid, bukan malah membatasi atau melarang ini dan itu.

Selain merasa memegang kunci surga, seringkali pengurus menjadikan masjid sebagai sarana memperbanyak jamaahnya. Dalam kalkulasi politis, masjid berubah menjadi ruang untuk mempromosikan pahamnya sambil mengecam paham pihak lain. Maka bisa dimengerti jikalau mimbar diberikan kepada pihak yang tidak sejalan dengan mereka, nanti sebagian jamaah terpikat dengan Ustadz pihak lain. Ini dianggap berbahaya.

Begitulah, ternyata kavling surga pun sudah siap dibagi-bagikan oleh mereka. Dan anehnya mereka terus saja bicara ukhuwah Islamiyah tanpa melibatkan semua pihak untuk mengelola masjid. Yang ada adalah ukhuwah kelompokiyah semata.

Saya tutup dengan joke lainnya: Konon di pintu surga nanti Allah akan memerintahkan malaikat menyeleksi setiap golongan. Malaikat bertanya: "sampeyan dari kelompok mana mas/mbak?" Dijawab: "kami dari NU". "Baik, silahkan masuk surga, tapi nanti kalau melewati pintu warna hitam di pojok itu jangan berisik yah".

Golongan lainnya baik dari Muhammadiyah, Persis, jamaah tabligh, al-washliyah, dll semuanya dipersilahkan masuk surga dengan pesan yang sama: jangan berisik kalau melewati pintu berwarna hitam.

Ketika semua sudah lengkap masuk surga semua, maka mereka penasaran ada apa dengan pintu hitam itu dan siapa gerangan yang berada didalamnya, kok mereka gak boleh berisik saat melewatinya.

Malaikat menjawab: "pssstt...jangan keras-keras bertanya-nya. Kata Allah, pintu hitam itu diperuntukkan untuk kalangan itu tuh yang selalu merasa hanya mereka saja yang bakal masuk surga. Allah tidak mau mereka akan terkejut kalau mereka tahu bahwa selain golongan mereka juga masuk surga! Jadi sudah...kita gak usah ganggu mereka yah".

Begitulah kawan, biarkan saja sekelompok umat ini menyangka hanya mereka saja yang masuk surga. Allah hormati "kepercayaan" mereka itu, di surga nanti mereka dikumpulkan sendirian terpisah dari jamaah yang selama ini mereka sering kafir-kafirkan, dan mereka merasa akan puas.

Kasihan kan kalau mereka jadi kaget bukan kepalang kalau orang lain yang mereka sudah sesat-sesatkan dan dianggap bukan bagian dari umat Islam, eh ternyata masuk surga juga, bi idznillah. [PonPes Al-Amin Pabuaran]

Nadirsyah Hosen, Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/tegaknya-masjid-dan-robohnya-ukhuwwah-muslim-sebelah.html

Sabtu, 20 Juli 2013

Ramadhan, Masyarakat Serbu Pedagang Takjil

Probolinggo, PonPes Al-Amin Pabuaran. Datangnya bulan Ramadhan tidak bisa dilepaskan dari keberadaan pedagang takjil. Para pedagang ini memperoleh keuntungan yang berlipat dibandingkan dengan hari biasanya. Sebab, masyarakat yang sehari-harinya sibuk, cukup mencari pedagang takjil.

Demikian juga dengan alun-alun kota Kraksaan kabupaten Probolinggo, Selasa (1/7) sore. Para pedagang takjil ini sudah membeberkan dagangannya mulai pukul 14.00 WIB. Untuk menu berbuka puasa, tersedia banyak pilihan yang disiapkan mereka.

Ramadhan, Masyarakat Serbu Pedagang Takjil (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan, Masyarakat Serbu Pedagang Takjil (Sumber Gambar : Nu Online)


Ramadhan, Masyarakat Serbu Pedagang Takjil

Di sisi selatan alun-alun kota Kraksaan ini, para pedagang takjil ini sudah mulai menempati lokasi sejak sehari sebelum puasa. Mereka menyajikan berbagai aneka menu takjil mulai dari menu pembuka hingga penutup untuk buka puasa.

PonPes Al-Amin Pabuaran

Jumaati, seorang pedagang takjil asal desa Pajarakan Kulon kecamatan Pajarakan menyatakan, dirinya berjualan takjil setiap tahun sejak awal Ramadhan. Jika dibandingkan dengan har-hari biasanya, penghasilan yang diperolehnya terbilang meningkat drastis.

Menjelang berbuka puasa, masyarakat yang tidak sempat memasak banyak berbelanja di sini. Tetapi biasanya saya berjualan hingga habis Maghrib. Setelah itu saya pulang. Hasilnya lumayan untuk persiapan memenuhi kebutuhan hari raya, ujar Jumaati.

PonPes Al-Amin Pabuaran

Pemandangan serupa terlihat di sepanjang jalan Pahlawan kota Probolinggo. Di sini para pedagang takjil berjajar menyambut para pembeli yang melintas di jalan tersebut. Berbagai aneka masakan mulai dari rujak manis, mendol, pepes, dadar jagung, sayur asem hingga sayur bening dan berbagai masakan siap saji lainnya.

Yang dijual adalah menu untuk berbuka puasa. Masakan siap saji. Sehingga pembeli tinggal memakannya ketika sudah waktu berbuka tiba, terang Sulastri, salah satu pedagang takjil asal desa Kanigaran kota Probolinggo.

Menurut Sulastri, dagangannya sering habis ketika menjelang berbuka puasa. Begitu setelah Maghrib, dirinya sudah bisa bergegas pulang dan bersiap menjalankan ibadah sholat Taraweh bersama keluarganya.

Alhamdulillah hasilnya lumayan untuk menambah rizki di bulan puasa. Mungkin inilah barokahnya bulan Ramadhan, jelasnya.

Keramaian menjelang buka puasa juga terjadi di alun-alun kota Probolinggo. Bedanya, para pedagang di sini hanya menyediakan makanan pokok mulai dari pedagang nasi, soto, mie ayam dan bakso.

Kalau di sini, disediakan menu utama. Bulan Ramadhan benar-benar memberikan berkah luar biasa, ujar Effendi, salah satu pedagang. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/53015/ramadhan-masyarakat-serbu-pedagang-takjil

Sabtu, 05 Januari 2013

Pekan Depan, Muktamar Ke-33 NU Diluncurkan di Surabaya

Jakarta, PonPes Al-Amin Pabuaran. Muktamar Ke-33 NU secara resmi diluncurkan hari Sabtu pada 14 Maret di Surabaya. Peluncuran muktamar pekan depan itu sekaligus mengawali rangkaian agenda-agenda pra-muktamar NU yang akan diadakan di sejumlah daerah.

Panitia pusat dan panitia lokal setuju meluncurkan Muktamar Ke-33 NU pada pekan depan di Surabaya, ujar Ketua panitia Muktamar Ke-33 NU H Imam Aziz di Jakarta, Jumat (6/3) sore.

Pekan Depan, Muktamar Ke-33 NU Diluncurkan di Surabaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Pekan Depan, Muktamar Ke-33 NU Diluncurkan di Surabaya (Sumber Gambar : Nu Online)


Pekan Depan, Muktamar Ke-33 NU Diluncurkan di Surabaya

Peluncuran ini sekaligus menyempurnakan persiapan panitia dan kesiapan lokasi muktamar di empat pesantren di Jombang. Panitia juga sudah membuat jadwal diskusi pemantapan materi yang akan dibahas di forum muktamar.

PonPes Al-Amin Pabuaran

Alhamdulillah, dewan juri sayembara logo Muktamar Ke-33 NU sudah muttafaq alaih menyeleksi 349 logo yang masuk ke meja panitia. Mereka lalu menetapkan sebuah logo karya Zamzami Almakki yang dinilai mewakili semangat muktamar NU kali ini, kata H Imam yang menyebut H Slamet sebagai anggota dewan juri sayembara logo muktamar NU. (Alhafiz K)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/58030/pekan-depan-muktamar-ke-33-nu-diluncurkan-di-surabaya

PonPes Al-Amin Pabuaran

PonPes Al-Amin Pabuaran

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PonPes Al-Amin Pabuaran sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PonPes Al-Amin Pabuaran. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PonPes Al-Amin Pabuaran dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock