Tampilkan postingan dengan label Netizen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Netizen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Agustus 2016

Mengusir Nyamuk Dengan Doa

PonPes Al-Amin Pabuaran - Pengusir nyamuk sekarang bukan hanya obat nyamuk atau alat pengusir nyamuk. Doa ini insyallah bisa menjadi alat pengusir nyamuk tanpa biaya.

Untuk mengusir nyamuk tidak hanya menggunakan obat nyamuk. Karena masih ada hikmah dan rahasia lain yang lebih ampuh lagi dan sifatnya tidak membunuh, tapi cuma mengusir agar diri kita tidak digigit nyamuk. Nyamuk itu pun tidak terbunuh. Simak doa anti nyamuk ini:

" أيتها البراغيث السود ، إنكم فرقة من الجنود من عهد عاد وثمود ، أقسمت عليكم بالواحد المعبود ، تكونوا عن جلدي بعود أرسلت عليكم صاعقة مثل صاعقة عاد وثمود ، ولكم علي من العهود أن لا أقتل منكم والدا ولا مولودا ، انفروا فورا عاجلا". مرتين ، بارك الله فيكم

Bacan lisan: Ayyatuhal baraghits as suud, innakum firqotun minal junud min ahdi aadin wa tsamuud. Aqsamtu alaikum bil wahidid al-ma'bud, takuunu an jildii bi audin. Arsaltu alikum sho'iqotan mitsla sho'iqoti aadin wa tsamuud. Walakum alayya minal 'uhuudi an la aqtula minkum waalidan wala mauluudan. Infirru fauron aajilan.

Artinya: "Wahai nyamuk-nyamuk hitam, sesungguhnya kalian adalah satu golongan dari tentara dari zamannya Kaum 'Ad dan Tsamud. Aku bersumpah kepada kalian atas nama Allah Yang Maha Esa dan yang disembah, menjauhlah kalian dari kulitku! Aku utus kepada kalian satu teriakan seperti teriakan kepada Kaum 'Ad dan Tsamud. Bagi kalian terhadapku terdapat sebuah janji, yaitu aku tidak akan membunuh orang tua kalian tidak pula anak-anak kalian. Pergilah kalian saat ini juga secepatnya...!"

Bacalah dua kali ketika nyamuk mulai mengelilingi Anda, terutama ketika di daerah pegunungan atau sawah ladang. Bermanfaat sekali buat petani, pecinta naik gunung, pencari kayu di hutan, dan lainnya yang membutuhkan.

Jika kesulitan membaca, Anda bisa dengarkan audio doa anti nyamuk di atas di akun Soundcloud Duta Islam berikut ini. Dengarkan, hafalkan. Klik listen in browser (versi hape). Bisa didownload juga.

Diambil dari Kitab An-Nawadir hlm. 199.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/04/mengusir-nyamuk-dengan-doa.html

Rabu, 20 April 2016

PWNU Jawa Barat Gelar Konferwil ke XVI

Bandung, PonPes Al-Amin Pabuaran. Bertempat di pesantren Darul Falah Cihampelas, Cililin, Bandung Barat, pada 8 10 Juli 2011 berlangsung Konferensi Wilayah ke-XVI PWNU Jabar. Sekitar 3.000 jamaah nahdliyin diperkirakan memenuhi arena Konferwil. Jumat (08/11) jam 21.00.

Seluruh peserta Konferwil dari 26 cabang tercatat sudah mendaftarkan diri di sekretariat panitia. Setelah menyelesaikan pendaftaran, para peserta mengikuti istighotsah yang dibuka oleh Wakil Rais Syuriyah KH Moh Nuh Addawami.

PWNU Jawa Barat Gelar Konferwil ke XVI (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Jawa Barat Gelar Konferwil ke XVI (Sumber Gambar : Nu Online)


PWNU Jawa Barat Gelar Konferwil ke XVI

Konferwil secara resmi dibuka pada Sbatu, 9 Juli 2011, Jam 09.00 WIB, oleh Wakil Gubernur Jabar Dede Yusuf. Seusai pembukaan, sesuai jadwal dilangsungkan dialog dengan dua menteri yang berasal dari NU, yakni Mendiknas Muhammad Nuh dan Menakertrans Muhaimin Iskandar.

Konferwil kali ini mengambil tema Meningkatkan Khidmah Nahdliyyah Untuk Kemaslahatan Umat dan Keutuhan Bangsa.

PonPes Al-Amin Pabuaran

Redaktur : Mukafi Niam

PonPes Al-Amin Pabuaran

Kontributor: Iip D Yahya

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/32896/pwnu-jawa-barat-gelar-konferwil-ke-xvi

PonPes Al-Amin Pabuaran

Rabu, 17 Februari 2016

Kaum Pesantren Merespon Kelas Menengah Muslim

PonPes Al-Amin Pabuaran - Era perkembangan teknologi dan diplomasi politik kawasan menjadi tantangan sekaligus peluang bagi komunitas pesantren. Terlebih, pemerintah Indonesia bersama pemerintah negara-negara ASEAN bekerjasama dalam politik, ekonomi dan kebudayaan, lewat mekanisme Asean Free Trade Area (AFTA).

Kaum Pesantren Merespon Kelas Menengah Muslim
Kaum Pesantren Merespon Kelas Menengah Muslim


Hal ini, menjadi isu penting yang dibahas oleh Dr. Mohammad Murtadlo, Kepala Bidang Litbang Pendidikan Non-Formal Informal Kementrian Agama, dalam workshop Pemikiran Keagamaan di The Alana Hotel, Solo, Jumat (09/09/2016). Agenda ini dihadiri para pengasuh pesantren yang tergabung dalam Rabithah Maahid Islamiyyah (RMI-NU).

Murtadlo mengungkapkan bahwa saat ini pesantren harus siap menjadi alternatif pendidikan di kawasan Asean. "Perlu ada pesantren yang menjadi percontohan di tingkat Asia Tenggara. Di sisi lain, pesantren juga harus memiliki kekhasan, serta memaksimalkan modal sosialnya," terang Murtadlo.

Dalam penjelasannya, Murtadlo menegaskan bahwa tantangan pesantren saat ini semakin beragam. Untuk itu, komunitas pesantren perlu memaksimalkan potensi dan kekuatannya. Dalam hal ini, pesantren harus menemukan kekhasannya, agar bisa menjadi rujukan bagi banyak orang.

"Kami sedang monitoring beberapa model pesantren, misal pesantren yang menjadi rujukan di level ASEAN, pesantren maritim, atau bahkan pesantren yang menjadi benteng Islam dan NKRI di kawasan perbatasan Indonesia," terang Murtadlo, doktor antropologi lulusan Universitas Indonesia.

Murtadlo menegaskan tentang proyeksi dari timnya untuk fokus pada pemetaan modelling pesantren, sekaligus juga pendampingan. Pihaknya, juga berusaha untuk membentuk komunitas santri yang sadar media. "Kami juga ingin ada jurnalis santri dari 34 provinsi, yang siap mengawal informasi dan kreatifitas dari komunitas pesantren, hingga dapat diterima publik," ungkap Murtadlo.

Di sisi lain, tumbuhnya kelas menengah muslim juga menjadi tantangan sekaligus peluang tersendiri bagi komunitas pesantren. Ketua PP Rabithah Ma'ahid Islamiyyah (PP RMI-NU), KH. Abdul Ghoffar Rozien, M.Ed (Gus Rozien) mengingatkan tentang kelas menengah muslim yang perlu direspon kaum santri.

"Tumbuhnya kelas menengah muslim, perlu menjadi perhatian santri. Bagaimana tidak, sekarang ini kelas menengah muslim yang semakin meningkat jumlahnya, harus menjadi pemikiran tersendiri. Mereka yang ekspektasi lebih dalam proses pendidikan anak-anaknya," ungkap Gus Rozien.

Untuk merespon kelas menengah, Gus Rozien bersama tim RMI dan para kiai muda, mengkampanyekan Gerakan Ayo Mondok, serta membangun aplikasi #AyoMondok berbasis android, dengan platform media digital. [PonPes Al-Amin Pabuaran/ munawir].

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/kaum-pesantren-merespon-kelas-menengah-muslim.html

Senin, 13 Oktober 2014

KHR. Asad Syamsul Arifin, Mengomando Jawara di Kawasan Tapal Kuda

PonPes Al-Amin Pabuaran - Kiai Raden As'ad Syamsul Arifin lahir pada 1897 M/1315 H di Syi'ib Ali, Makkah dari pasangan Raden Ibrahim dan Siti Maemunah. Ketika As'ad kecil lahir, oleh ayahnya, bayi mungil itu langsung dipeluk untuk dibawa menuju Ka'bah. Jarak sejauh 200 meter antara Syi'ib Ali dan Ka'bah tidak menjadi halangan untuk membawa bayi ini mendekat ke pusaran suci umat muslim. Raden Ibrahim kemudian membisikkan adzan dan memberi bayi itu nama As'ad.

KHR. Asad Syamsul Arifin, Mengomando Jawara di Kawasan Tapal Kuda
KHR. Asad Syamsul Arifin, Mengomando Jawara di Kawasan Tapal Kuda


Ketika berusia 13 tahun, As'ad kecil mondok di Banyuanyar di bawah asuhan Kiai Abdul Majid dan KH. Abdul Hamid. Pada usia 16 tahun, As'ad dikirim ayahandanya mengaji ke Makkah, tanah suci di mana ia dilahirkan. Ia belajar di Madrasah Shaulatiyyah. Selain itu, ia juga berguru kepada Sayyid Abbas al-Maliki, Syekh Hasan al-Yamani, Syekh Hasan Masyath, Syekh Bakir dan Syekh Syarif asy-Syinqithi. Ketika belajar di Makkah, As'ad bersama kawan-kawannya yang berasal dari Nusantara, di antaranya: KH. Zaini Mun'im, KH. Ahmad Thoha, KH. Baidhawi Banyuanyar Pameksaan dan beberapa santri lainnya.

Pada tahun 1924, setelah bertahun-tahun belajar di Makkah, As'ad kembali ke kampung halaman. Ia merasa masih belum memiliki keilmuan yang cukup, meski keahlian ilmu agamanya sudah tidak diragukan. Sebagaimana tradisi santri Nusantara, As'ad kemudian meneruskan langkahnya untuk melakukan perjalanan ilmiah (rihlah ilmiyyah) sebagai santri petualang ilmu, dari pesantren satu ke pesantren lainnya. Kiai As'ad mengaji tabarrukan di beberapa pesantren di tanah Jawa dan Madura, antara lain: Pesantren Sidogiri Pasuruan (asuhan KH. Nawawi), pesantren Siwalan Panji Buduran Sidoarjo (asuhan KH. Khazin), Pesantren an-Nuqayah Guluk-Guluk Sumenep Madura, Pesantren Kademangan Bangkalan (KH. Muhammad Cholil) dan Pesantren Tebu Ireng Jombang.

Pengalaman mengaji di Makkah dan beberapa pesantren di Jawa-Madura membuat karakter pribadi serta keilmuan Kiai As'ad menjadi mendalam. Akan tetapi, Pesantren Tebu Ireng lah yang paling membentuk kepribadian Kiai As'ad. Ketika menyebut Kiai Hasyim As'ari (1875-1947) dan Pesantren Tebu Ireng, Kiai As'ad menunjukkan ta'dzim yang sangat tinggi.

Di bawah asuhan Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari, Kiai As'ad menemukan karakter, wawasan, perspektif hingga semangat perjuangan untuk kemerdekaan. Di Tebu Ireng, Kiai As'ad berkawan dengan para santri pejuang, yang kelak menjadi garda depan Nahdlatul Ulama dan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Di antaranya, yakni KH. Wahab Chasbullah (1888-1971), KH. Bisri Syansuri (1886-1980), KH. Abbas Buntet (1879-1946), KH. Wahid Hasyim, dan beberapa kiai lainnya.

Mediator Berdirinya NU

Dalam proses pendirian Nahdlatul Ulama, peran Kiai As'ad Syamsul Arifin sangat besar. Hal ini, karena beliaulah yang menjadi mediator antara Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari dan Syaichona Chalil Bangkalan. Pada masa menjelang berdirinya NU, Kiai Chalil Bangkalan mengutus Kiai As'ad ke Tebu Ireng, untuk menemui Kiai Hasyim Asy'ari.

Pesan Syaichona Chalil kepada Kiai Hasyim Asy'ari berwujud perlambang-perlambang yang menggambarkan konteks dan filosofi di balik pentingnya kesatuan ulama. Kiai As'ad diutus oleh Syaichona Chalil untuk menyampaikan sebuah tasbih dan ucapan surat Thaha (17-23), yang menceritakan mukjizat Nabi Musa dan tongkatnya—kepada Kiai Hasyim Asy'ari.

Kemudian, peristiwa ini terulang kembali, ketika Syaichona Chalil mengirim Kiai As'ad ke Tebu Ireng, untuk menyampaikan pesan berupa wirid "Ya Jabbar Ya Qahhar". Pesan simbolik berupa tasbih, surah Thaha dan wirid-wirid tersebut mengandung maksud bahwa Syaichona Chalil merestui pendirian Nahdlatul Ulama dan Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari menjadi pemimpin spritual ulama Nusantara. Peran penting Kiai As'ad, menjadikan beliau sering disebut sebagai mediator berdirinya Nahdlatul Ulama.

Kiai As'ad juga mengomando Laskar Sabilillah dan Hizbullah. Sosok Kiai As'ad sangat disegani oleh ketiga laskar di kawasan Tapal Kuda, yakni anggota Laskar Sabilillah, Hizbullah dan Pelopor. Kharisma Kiai As'ad menjadikan para kiai yang tergabung dalam barisan Laskar Sabilillah mendengarkan seluruh nasihat, wejangan dan komando Kiai As'ad.

Para santri dan pemuda yang tergabung dalam barisan Laskar Hizbullah juga setia pada strategi dan komando yang diberikan Kiai As'ad. Bahkan, para band1t yang bergerak dalam Barisan Laskar Pelopor juga sendika dawuh (tunduk) dengan perintah Kiai As'ad. Kombinasi ketiga laskar inilah yang menjadi senjata ampuh untuk melawan penjajah di kawasan Tapal Kuda.

Kiai As'ad bersama Kiai Abdus Shomad (sepupunya, pemimpin Seinin dan Keibodan), pada zaman Jepang, pernah mendapat kursus militer di Jember. Teknik dasar militer inilah yang menjadi pondasi strategi Kiai As'ad dan beberapa kiai lainnya, dalam menyusun rencana perjuangan militer yang dipadukan dengan kekuatan santri (Hasan, 2003: 82-84).

Berjuang Mengawal Negeri

Sosok Kiai As'ad Syamsul Arifin menjadi inspirasi bagi santri masa kini. Beliau memiliki keilmuan, kemampuan dan visi perjuangan yang lengkap. Kiai As'ad memiliki kedalaman ilmu agama yang tidak diragukan, mengusai ilmu militer dan bela diri, serta berhasil mengomando para b4ndit agar membantu perjuangan santri dalam mengawal kemerdekaan Indonesia.

Dalam catatan Syamsul A Hasan (2003), salah satu kecerdikan Kiai As'ad adalah kemampuannya dalam mengorganisir para jawara yang sebagian besar berasal dari kawasan Tapal Kuda. Para b4ndit dan jawara dari Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Probolinggo, Jember, Lumajang dan Pasuruan dikumpulkan untuk diajak berjuang melawan penjajah Belanda.

Barisan band!t ini, kemudian dihimpun sebagai dengan satu nama: "Pelopor". Barisan Pelopor ini, sering berpakaian serba hitam, mulai dari baju, celana, hingga tutup kepala. Mereka menggunakan senjata celurit, rotan dan keris. Uniknya, para jawara yang berada di barisan Pelopor ini, tunduk dan setia pada komando Kiai As'ad Syamsul Arifin.

Kiai As'ad memerintahkan para pejuang Pelopor bagian logistik untuk mengirim pejuang yang berada di hutan. Pasukan Pelopor, Sabilillah, Hizbullah, dan pasukan lain berjuang dengan strategi gerilya. Mereka masuk gunung dan keluar gunung, untuk menyerang pasukan Belanda, lalu mengamankan diri. Mereka menggunakan taktik: "serang dan lari"! Strategi ini dilakukan oleh para santri yang tergabung dalam pelbagai laskar, hingga Negara Republik Indonesia diakui kedaulatannya oleh Belanda, pada Desember 1949.

Kiai As'ad mengutus beberapa anggota pasukan Pelopor dan Sabilillah untuk mengambil senjata milik pasukan Belanda. Di kawasan Situbondo, tugas ini dikomando oleh Mawie dan Hamid, barisan Sabilillah. Menariknya, mereka merekrut para brandal yang siap berjuang untuk negara Indonesia. Pada malam hari, para brandal dan preman ini, mengambil senjata-senjata milik Belanda di beberapa Pabrik Gula (PG) kawasan Situbondo.

Pada masa penjajahan, Pabrik Gula memegang peran vital sebagai lumbung ekonomi Belanda, hingga mendapat akses langsung ke birokrasi pusat. Di PG, para pekerja keamanan diberi fasilitas senjata. Setelah senjata terkumpul, kemudian dibagikan kepada anggota Pelopor, Sabilillah, Hizbullah, dan pejuang-pejuang lainnya.

Jaringan pejuang di kawasan Bondowoso dan Jember juga melakukan hal yang sama, merebut senjata dari pasukan Belanda. Para anggota Pelopor mengirim senjata ke markas pejuang Kiai As'ad, dengan melewati hutan belantara. Strategi ini, agar misi ini tidak diketahui oleh pasukan Belanda. Setelah sampai di Sukorejo, senjata-senjata ini dikumpulkan, disimpan di bawah lumbung padi, dipendam di masjid, atau ditanam di kuburan (Hasan, 2003: 131-134).

Salah satu motivasi dan petuah penting Kiai As'ad tentang perjuangan adalah bagaimana niat menjadi utama: "Perang itu harus niat menegakkan agama dan 'arebbuk negere (merebut negara), jangan hanya 'arebbuk negere! Kalau hanya 'arebbuk negere, hanya mengejar dunia, akhiratnya hilang! Niatlah menegakkan agama dan membela negara sehingga kalau kalian mati, akan mati syahid dan masuk surga!" (Rahman, 2015: 138).

Pemikiran, strategi dan teladan yang diwariskan oleh Kiai As'ad Syamsul Arifin harus menjadi semangat bagi santri masa kini. Apa yang bisa dipetik dari kisah Kiai As'ad? Bahwa santri harus tetap menjaga jalur pengetahuan (sanad) dengan para kiai, mendalami ilmu-ilmu agama yang menjadi benteng kokohnya Islam, merawat Nahdlatul Ulama, serta membela negeri ini kelompok yang ingin merusaknya. Semangat KH. Raden As'ad Syamsul Arifin dapat menjadi pedoman bagi santri untuk menjaga negeri, mengawal kesatuan bangsa ini. [PonPes Al-Amin Pabuaran].

Munawir Aziz, periset Islam Nusantara, Wakil Sekretaris LTN PBNU

Referensi:

- Ahmad Sufiatur Rahman. KH. R. As'ad Syamsul Arifin, Ksatria Kuda Putih Pejuang Negeri. Solo: Tinta Medina. 2015.

- Syamsul A Hasan. Kharisma Kiai As'ad di Mata Umat. Yogyakarta: PP Salafiyyah Syafi'yyah dan LKIS. 2003.

- M. Hasan Basri dan Chairul Anam. KH.R As'ad Syamsul Arifin: Riwayat Hidup dan Perjuangannya. Sahabat Ilmu. 1994.

KH. Abdul Aziz Masyhuri. 99 Kiai Kharismatik Indonesia: Riwayat, Perjuangan dan Doa. Yogyakarta: Kutub. 2008.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/11/khr-asad-syamsul-arifin-mengomando-para-jawara-kawasan-tapal-kuda.html

Kamis, 12 September 2013

Masjid Nabawi Akan Dipadati 500 Ribu Jamaah

Jakarta, PonPes Al-Amin Pabuaran. Jumat ketiga bulan Ramadhan kota suci Madinah juga menjadi tumpuan peziarahyang ingin memperbanyak ibadah, diperkirakan sekitar 500.000 jemaah akan memenuhi Masjid Nabawi.

Gubernur Madinah Pangeran Muqrin bin Abdul Aziz, yang dikutip harian ukaz dan dikutip situs informasi haji, Jumat, mengharap warga Madinah agar menprioritaskan pendatang, terutama dari mancenegara, dalam melaksanakan ibadah.

Karena pada pertengahan Ramadhan dan kemudian diikuti sepuluh hari terakhir Ramadhan, Masjid Nabawi akan dipenuhi jemaah dari berbagai bangsa di dunia. Muqrin juga telah mengecek kesiapan kota suci Madinah dalam menyambut tamu-tamunya, terutama dalam kaitan kesediaan makanan, transportasi, perhotelan dan lain sebagainya.

Hotel, seperti dilaporkan, telah penuh hingga 100 persen, termasuk beberapa apartemen yang juga penuh disewa jemaah. Komandan Lalulintas kota Madinah, Kolonel Siraj Abdurrahman mengimbau kepada jemaah agar lebih dini menuju masjid untuk menghindari terjadinya desakan. Pengaturan lalu lintas mulai juga diberlakukan secara ketat terutama di sekitar Masjid Nabawi.

Masjid Nabawi Akan Dipadati 500 Ribu Jamaah (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid Nabawi Akan Dipadati 500 Ribu Jamaah (Sumber Gambar : Nu Online)


Masjid Nabawi Akan Dipadati 500 Ribu Jamaah

Sebelumnya awal Ramadhan di Masjidil Haram dilaporkan juga sangat ramai dipadati umat Islam yang akan melaksanakan shalat tarawih selain dipenuhi dua juta umat berkumpul untuk melakukan umroh. Shalat tarwih dari dua masjid suci itu juga sudah dilengkapi terjemahan ke bahasa asing, di Masjidil Haram pembacayaan ayat suci Al-Quran saat salat diterjemahkan langsung dalam bahasa Inggris, sementara dari Masjid Nabawi, Madinah, penerjemahan ayat suci Al-Quran diterjemahkan dalam Bahasa Prancis.

Siaran Langsung

Sementara itu, dari tanah air, umat Muslim masih bertanya-tanya mengapa siaran langsung Shalat Tarawih dari Masjidil Haram, Mekah di stasiun TV RCTI dan siaran langsung dari Masjid Nabawi, Madinah di TPI tidak ditayangkan lagi. "Kami ingin sekali menonton tayangan langsung dari tanah suci selama Ramadhan itu seperti tahun-tahun kemarin, tetapi anehnya mengapa tahun ini dihentikan," kata seorang karyawan swasta, Zuhairi. (atr/cih)

PonPes Al-Amin Pabuaran

PonPes Al-Amin Pabuaran

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/2300/masjid-nabawi-akan-dipadati-500-ribu-jamaah

PonPes Al-Amin Pabuaran

Minggu, 20 Januari 2013

Ratusan Juta Kotak Amal Makam Gus Dur untuk Dana Kemanusiaan

Jombang, PonPes Al-Amin Pabuaran. Keberadaan makam KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di komplek pemakaman pesantren Tebuireng terus menuai manfaat kepada masyarakat khususnya warga kurang mampu di daerah Jombang. Pasalnya, ribuan peziarah yang setiap hari datang ke makam Gus Dur selalu menyisakan infaqnya, yaitu berupa uang recehan sampai puluhan ribu yang disisihkan ke dalam kotak amal di situ.

Kotak amal tersebut sengaja disediakan oleh pesantren, yang dipercayakan kepada Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng (LSPT) untuk mengelolanya. Seperti diketahui LSPT merupakan Unit Pengelola Zakat (UPZ) Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Jawa Timur. Sehingga pengelolaan dana infaq itu berdasarkan manajemen lembaga zakat, yang penyalurannya melalui program-program sosial kemanusiaan untuk masyarakat kurang mampu di daerah Jombang.

Ratusan Juta Kotak Amal Makam Gus Dur untuk Dana Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Juta Kotak Amal Makam Gus Dur untuk Dana Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)


Ratusan Juta Kotak Amal Makam Gus Dur untuk Dana Kemanusiaan

Menurut bendahara LSPT Umi Anis Chaula, kotak amal itu rata-rata setiap bulannya memperoleh dana infaq senilai ratusan juta rupiah.

PonPes Al-Amin Pabuaran

yYa, biasanya yang meningkat signifikan itu pada bulan-bulan tertentu, seperti bulan Juni dan bulan Desember. Karena dua bulan itu adalah masa liburan, peziarah pasti bertambah pada bua bulan itu, jelas Anis kepada PonPes Al-Amin Pabuaran.

Selama tahun 2014 ini, perolehan infaq dari kotak amal peziarah makam presiden keempat RI itu sudah mencapai 1,7 miliar lebih. Dengan perincian mulai bulan Januari perolehannya sebesar Rp127.506.500, Februari Rp158.892.400, Maret Rp75.510.100, April Rp156. 519.100, Mei Rp139.920.500, dan bulan Juni sebesar Rp291.200.000.

Untuk enam bulan selanjutnya perolehannya adalah Rp97.799.600 pada bulan Juli, Agustus sebanyak Rp65.198.900, September Rp148. 770.300, Oktober Rp151.846.000, November Rp162.038.900, dan Rp222.083.00 untuk bulan Desember.

PonPes Al-Amin Pabuaran

Untuk bulan Desember ini, sebenarnya penghitungannya belum selesai. Sampai sekarang masih kami hitung. Yang tertulis itu tadi hanya perolehan kotak amal sampai tanggal 20 Desember kemarin, pungkas Anis. (romza/mukafi niam)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/56705/ratusan-juta-kotak-amal-makam-gus-dur-untuk-dana-kemanusiaan

PonPes Al-Amin Pabuaran

Kamis, 06 September 2012

Dari :

 - PonPes Al-Amin Pabuaran
- PonPes Al-Amin Pabuaran


Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PonPes Al-Amin Pabuaran sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PonPes Al-Amin Pabuaran. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PonPes Al-Amin Pabuaran dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock