Tampilkan postingan dengan label Risalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Risalah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 November 2016

Hadapi Popda, Pagar Nusa Kudus Seleksi Ketat 120 Pesilat

Kudus, PonPes Al-Amin Pabuaran. Menghadapi Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) bulan depan, Pimpinan Cabang Pagar Nusa Kudus mengadakan seleksi pesilatnya di SMP NU Al-Maruf Kudus Jumat (7/2) kemarin. Sebanyak 120 pesilat Pagar Nusa dari berbagai madrasah mengikuti seleksi ini.

Pengurus bidang Seni dan Budaya Pagar Nusa Kudus Rozikin menjelaskan, seleksi dimaksudkan mencari bibit-bibit atlet pesilat yang siap diterjunkan dalam Popda tahun ini. Dalam seleksi itu, para pesilat dari tingkat MTs/SMP maupun MA/SMA berkompetisi pada kategori seni dan laga tanding di semua kelas.

Hadapi Popda, Pagar Nusa Kudus Seleksi Ketat 120 Pesilat (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadapi Popda, Pagar Nusa Kudus Seleksi Ketat 120 Pesilat (Sumber Gambar : Nu Online)


Hadapi Popda, Pagar Nusa Kudus Seleksi Ketat 120 Pesilat

Mereka yang terbaik nanti dikirim menjadi peserta kontingen Pagar Nusa dalam Popda Kudus, katanya kepada PonPes Al-Amin Pabuaran Jumat (7/2).

Popda tahun ini akan mempertandingkan 7 kelas tingkat SMP dan 8 kelas tingkat SMA. Masing-masing perguruan pencak silat hanya bisa mengirimkan 2 atletnya di kelas seni dan tanding.

PonPes Al-Amin Pabuaran

Kita berusaha keras sehingga Pagar Nusa mampu berprestasi lebih baik dari Popda sebelumnya. Bahkan kalau bisa, tahun ini kita bisa juara umum, kata Rozikin penuh optimis.

PonPes Al-Amin Pabuaran

Setiap Popda, kata Rozikin, Pagar Nusa selalu mengirimkan atletnya untuk bersaing dengan 7 perguruan pencak silat lainnya. Tujuannya, menambah jam terbang para pesilat Pagar Nusa serta mempererat silatrurahmi antarperguruan silat di kabupaten Kudus.

Rozikin menyatakan rasa syukurnya atas keikutsertaan Pagar Nusa setiap tahunnya dalam kejuaraan bergengsi di Kudus. (Qomarul Adib/Alhafiz K)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/50041/hadapi-popda-pagar-nusa-kudus-seleksi-ketat-120-pesilat

PonPes Al-Amin Pabuaran

Rabu, 17 Februari 2016

Kaum Pesantren Merespon Kelas Menengah Muslim

PonPes Al-Amin Pabuaran - Era perkembangan teknologi dan diplomasi politik kawasan menjadi tantangan sekaligus peluang bagi komunitas pesantren. Terlebih, pemerintah Indonesia bersama pemerintah negara-negara ASEAN bekerjasama dalam politik, ekonomi dan kebudayaan, lewat mekanisme Asean Free Trade Area (AFTA).

Kaum Pesantren Merespon Kelas Menengah Muslim
Kaum Pesantren Merespon Kelas Menengah Muslim


Hal ini, menjadi isu penting yang dibahas oleh Dr. Mohammad Murtadlo, Kepala Bidang Litbang Pendidikan Non-Formal Informal Kementrian Agama, dalam workshop Pemikiran Keagamaan di The Alana Hotel, Solo, Jumat (09/09/2016). Agenda ini dihadiri para pengasuh pesantren yang tergabung dalam Rabithah Maahid Islamiyyah (RMI-NU).

Murtadlo mengungkapkan bahwa saat ini pesantren harus siap menjadi alternatif pendidikan di kawasan Asean. "Perlu ada pesantren yang menjadi percontohan di tingkat Asia Tenggara. Di sisi lain, pesantren juga harus memiliki kekhasan, serta memaksimalkan modal sosialnya," terang Murtadlo.

Dalam penjelasannya, Murtadlo menegaskan bahwa tantangan pesantren saat ini semakin beragam. Untuk itu, komunitas pesantren perlu memaksimalkan potensi dan kekuatannya. Dalam hal ini, pesantren harus menemukan kekhasannya, agar bisa menjadi rujukan bagi banyak orang.

"Kami sedang monitoring beberapa model pesantren, misal pesantren yang menjadi rujukan di level ASEAN, pesantren maritim, atau bahkan pesantren yang menjadi benteng Islam dan NKRI di kawasan perbatasan Indonesia," terang Murtadlo, doktor antropologi lulusan Universitas Indonesia.

Murtadlo menegaskan tentang proyeksi dari timnya untuk fokus pada pemetaan modelling pesantren, sekaligus juga pendampingan. Pihaknya, juga berusaha untuk membentuk komunitas santri yang sadar media. "Kami juga ingin ada jurnalis santri dari 34 provinsi, yang siap mengawal informasi dan kreatifitas dari komunitas pesantren, hingga dapat diterima publik," ungkap Murtadlo.

Di sisi lain, tumbuhnya kelas menengah muslim juga menjadi tantangan sekaligus peluang tersendiri bagi komunitas pesantren. Ketua PP Rabithah Ma'ahid Islamiyyah (PP RMI-NU), KH. Abdul Ghoffar Rozien, M.Ed (Gus Rozien) mengingatkan tentang kelas menengah muslim yang perlu direspon kaum santri.

"Tumbuhnya kelas menengah muslim, perlu menjadi perhatian santri. Bagaimana tidak, sekarang ini kelas menengah muslim yang semakin meningkat jumlahnya, harus menjadi pemikiran tersendiri. Mereka yang ekspektasi lebih dalam proses pendidikan anak-anaknya," ungkap Gus Rozien.

Untuk merespon kelas menengah, Gus Rozien bersama tim RMI dan para kiai muda, mengkampanyekan Gerakan Ayo Mondok, serta membangun aplikasi #AyoMondok berbasis android, dengan platform media digital. [PonPes Al-Amin Pabuaran/ munawir].

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/kaum-pesantren-merespon-kelas-menengah-muslim.html

Senin, 30 November 2015

Wirausaha, Muslimat Lampung Barat Akan Dirikan Pusat Oleh-oleh

Lampung Barat, PonPes Al-Amin Pabuaran. Pimpinan Pusat Muslimat NU memusatkan kegiatan pelatihan pengolahan kripik aneka rasa berbahan dasar umbi-umbian khas Lampung di kantor PCNU Lampung Barat. Kegiatan masih berlangsung dan akan berakhir pada 14 Desember besok.

Salah satu pengurus Muslimat NU, Mimin Nurhayati mengatakan, pihaknya memfasilitasi sebanyak 40 peserta untuk praktik khusus memproduksi makanan berbahan dasar pisang serta umbi-umbian, seperti singkong, ubi, dan sukun.

Wirausaha, Muslimat Lampung Barat Akan Dirikan Pusat Oleh-oleh (Sumber Gambar : Nu Online)
Wirausaha, Muslimat Lampung Barat Akan Dirikan Pusat Oleh-oleh (Sumber Gambar : Nu Online)


Wirausaha, Muslimat Lampung Barat Akan Dirikan Pusat Oleh-oleh

Dalam hal ini, Muslimat NU menghadirkan pelatih berpengalaman dari Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) setempat. Peserta dilatih membuat kripik dengan rasa bervariasi, seperti balado pedas manis, coklat, keju, original, dan lain-lain.

PonPes Al-Amin Pabuaran

Nurbaeti, salah satu peserta dari Kecamatan Balik Bukit, mengaku senang dapat mengikuti pelatihan ini. Menurut ibu rumah tangga, kegiatan tersebut memberinya keterampilan dan peluang usaha sehingga dapat menambah penghasilan keluarga.

Perempuan yang akrab dipanggil Bu Ketut ini bertekad akan membuka usaha dengan kelompok usaha Muslimat lainnya dan memasarkannya melalui sekolah-sekolah atau majlis taklim di lingkungannya.

PonPes Al-Amin Pabuaran

Saya tidak sabar mempraktikkan dan memasarkan hasil olahan kripik. Karena, kegiatan usaha ini merupakan solusi tepat untuk menambah atau membantu ekonomi keluarga, tetangga sekitar, dan umat, tutur Rahim, peserta lainnya.

Ketua PC Mulimat NU Lampung Barat Hj Heni mengatakan, pihaknya juga berencana akan membuka toko pusat oleh-oleh khas lampung di kantor PCNU. Posisi kantor yang terletak di Jalan Jendral Sudirman Kota Liwa Kecamatan Balik Bukit ini dinilai sangat strategis karena berada di pinggir jalan, tepat di lintas jalur Provinsi Sumatera. Gagasan ini mendapat dukungan dari ketua PCNU setempat.

Kegiatan ini dijadwalkan akan berlanjut dengan rencana tindak lanjut (RTL) pelatihan dan kegiatan usaha. Selain membuat terus mematangkan keteramplan, peserta akan dibina hingga memenuhi target. (Red: Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/56316/wirausaha-muslimat-lampung-barat-akan-dirikan-pusat-oleh-oleh

Kamis, 10 September 2015

Agenda Tersembunyi Annas: Adudomba Anti Syiah

PonPes Al-Amin Pabuaran - Sejak terbentuknya Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS), bulan April 2014 di masjid al-Fajr bandung, provokasi tentang akan meledaknya perseteruan Sunni-Syiah semakin gencar.

Sesudah deklarasi di Bandung, berturut-turut mereka mendeklarasikan cabang-cabangnya di Garut, Tasikmalaya hingga Kalimantan. Mungkin sudah puluhan jumlahnya cabang mereka. ANNAS sendiri dikomandani seorang mantan jenderal dibelakangnya dengan beberapa orang yang menyebut diri mereka ulama.

Satu kejadian pernah terjadi di Bogor, ketika seorang ustad terkenal dengan suara seraknya, berseru “Jihad” akibat ia diserang sekelompok orang tak dikenal yang merasa ter-provokasi oleh spanduk anti Syiah. Sayangnya seruan itu sangat prematur dan tidak terjadi gerakan seperti yang diharapkan. Tetapi itu menjadi sebuah pertanda bahwa kejadian serupa akan diulang ketika mereka sudah matang dengan propaganda-propaganda berupa seminar, pengajian, majelis taklim, spanduk dan lain-lain. Provokasi akan dilakukan seolah-olah mereka mendapat serangan, untuk selanjutnya mereka berdalih membela diri dengan seruan perang.

8 November kemarin di Surakarta, mereka mengeluarkan poin-poin seminar bahwa Syiah siap melakukan kudeta di NKRI. Menurut mereka, Syiah dari lebanon sudah siap sedia di negeri ini untuk menunggu perintah dari Iran untuk melakukan kudeta. Konsep brainwashing mereka terapkan dengan memutar balik fakta bahwa ISIS adalah Syiah, memanfaatkan momentum peringatan pemerintah bahwa ISIS adalah teroris.

Lalu kenapa selain Syiah, mereka juga menggemborkan bangkitnya komunis bersama Syiah dan akan lakukan kudeta di Indonesia? Ini tidak lepas dari keterlibatan Rusia di suriah. Mereka mendoktrin bahwa Rusia itu Komunis, padahal faktanya Presiden Rusia adalah seorang Katolik yang taat. Mereka menyembunyikan data kepada umat bahwa Rusia bukan lagi Uni Sovyet, yang dulu berhaluan komunis.

Pertanyaannya, untuk apa mereka bersusah payah melakukan propaganda ini ? Jika melihat pola-pola yang sama di Timur-Tengah terutama Libya dan Suriah, isu Sektarian selalu dimainkan untuk satu tujuan yaitu menjatuhkan pemerintahan yang sah. Pola propaganda dilakukan untuk mencuci otak rakyat dan pada saat kebohongan berulang-ulang itu akhirnya diterima sebagai kebenaran, maka mereka akan memulai dengan gerakan mengatas-namakan rakyat.

Fungsi propaganda itu adalah memunculkan gerakan pro dan kontra di tengah rakyat. Sesudah pro dan kontra semakin tajam, lalu dibuatlah peristiwa-peristiwa yang akan melemahkan pemerintah seperti kerusuhan-kerusuhan di beberapa daerah sehingga terkesan negara tidak aman. Selain itu mereka bermain di pelemahan ekonomi, sehingga banyak yang merasa lapar.

Ketika kepercayaan masyarakat yang menurun kepada pemerintah semakin lebar, mereka mulai membenturkan pro dan kontra tersebut. Aparat-aparat pemerintah disusupi supaya terbelah. Berita-berita dibangun simpang siur sehingga banyak yang lemah akal bingung mana yang salah dan yang benar.

Kerusuhan meluas, dan seperti kita tahu di Libya berakhir dengan kejatuhan Muammar Qaddafi, meski di Suriah mereka belum berhasil menjatuhkan Bashar Assad. Jika gerakan rakyat belum berhasil seperti di Suriah, maka mereka akan menyerukan jihad ke internasional sehingga masuklah sipil militan dari berbagai negara untuk membantu menekan. Bashar Assad sendiri di propagandakan sebagai Syiah padahal bukan.

Kembali ke negara kita, pola yang sama mereka terapkan. Membalik fakta melalui berita-berita supaya banyak orang kebingungan, meruncingkan perbedaan agama supaya terjadi kerusuhan, dan kita sudah melihat bagaimana Tolikara dan Singkil berhasil dibakar. Diharapkan situasi ini akan memancing daerah lain untuk membalas dendam.

Mereka memetakan dengan baik situasi di beberapa daerah. Yang mayoritas kristen, di provokasi dengan membakar tempat ibadah muslim dan juga sebaliknya. Untuk daerah seperti Jawa, isu agama tidak selaku di daerah maka di munculkanlah isu mazhab seperti sunni dan Syiah. Jaringan dibangun dulu, untuk kemudian digerakkan sesudah dimunculkan momen yang tepat. Perhatikan, Bogor melarang kegiatan Asyura sedangkan Purwakarta melarang kegiatan anti Syiah. Terus di peruncing.

Investasi untuk membangun kondisi ini sangat mahal, karena melibatkan sumber daya manusia yang banyak dan waktu yang panjang. Tetapi mereka juga tidak memberikan dana secara gratis. Namanya investasi pasti ada waktu kembalinya. Mereka berharap ketika negara ini rusuh, maka mereka akan menguasai penuh sumber daya alam di Indonesia yang kaya seperti emas di Freeport dan Migas. Mereka juga akan kembali menguasai Petral yang sudah dibubarkan yang selama ini menguntungkan mereka 250 milyar per hari. Belum lagi lahan pangan dan lahan hutan.

Jadi, meskipun isu yang dibangun tentang Sunni-Syiah, ini murni bukan masalah sektarian tetapi imperialisme yang dibangun atas nama Sektarian. Kewaspadaan ini bukan hanya untuk Sunni, untuk Syiah tetapi juga agama lain, karena yang akan diserang adalah keutuhan negara kita. Indonesia akan dipecah-pecah, masing-masing provinsi akan menyatakan merdeka. Ketika pecah, akan lebih mudah mereka menguasai daerah-daerah. Ingat anggota DPRD Riau yang pernah menyatakan akan keluar dari NKRI karena masalah asap?

Bagusnya pemerintah sangat tanggap akan hal ini. Dibangunnya infrastruktur-infrastruktur di luar Jawa menandakan bahwa pengembangan ekonomi akan diratakan di seluruh daerah sehingga tidak terkesan ekonomi terpusat ke Jawa yang membuat iri daerah.

Kita berpacu dengan waktu melawan pemikiran mereka. Indonesia akan menjadi Suriah ke 2 atau tidak, sepenuhnya tergantung kita.

Meski kita tertawa melihat begitu bodohnnya propaganda mereka, seperti Syiah sudah menyiapkan puluhan ribu pedang untuk kudeta atau puluhan ribu Syiah Lebanon sudah masuk Indonesia, tetapi jangan hilang waspada.

“Jangan pernah memandang remeh orang-orang bodoh dalam kelompok besar” kata George Calin. Ketika orang-orang dungu itu terprovokasi, maka mereka akan menjadi api yang membakar kemana-mana, tanpa memandang suku ataupun agama. Sebab mereka seperti Zombie yang tidak berakal dan di remote hanya untuk satu tujuan yaitu menghancurkan. Sudah terasa hambar kopinya? [PonPes Al-Amin Pabuaran]

Dari : http://www.dutaislam.com/2015/11/agenda-tersembunyi-annas-anti-syiah.html

Selasa, 18 Agustus 2015

Warga NU Diseru Doakan Anregurutta Harisah

Makassar, PonPes Al-Amin Pabuaran. Pendiri Pondok Pesantren An Nahdlah UP Makassar, Anregurutta Harisah AS masih berada dalam kondisi kritis di Private Care Centre (PCC) RS Wahidin Sudirohusodo, Tamalanrea, Makassar.

Gurutta sudah dirawat intensif, selang makanan terpaksa dimasukkan ke lambung. Beliau sementara tidak sadar sejak hari Sabtu (11/5), ujar menantu Anregurutta Harisah AS Dr. Firdaus Muhammad, di Makassar.

Warga NU Diseru Doakan Anregurutta Harisah (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga NU Diseru Doakan Anregurutta Harisah (Sumber Gambar : Nu Online)


Warga NU Diseru Doakan Anregurutta Harisah

Anregurutta Harisah AS dirawat hampir satu bulan di RS Awal Bross, Hari kamis (9/5) lalu, keluarga membawa alumnus Pesantren Asadiyah ini kembali ke kediaman pribadi di Komplek Ponpes Annahdlah akrena kondisinya sudah membaik.

Namun, tiba dirumah, Anregurutta Harisah AS tiba-tiba drop lagi sehingga keluarga melarikannya kembali ke Awal Bross sekitar pukul 04.00 wita dini hari (10/5). Dari Jakarta, Pendiri Lembaga Kajian Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) Nahdlatul Ulama (NU) Helmi Aliyafie, meminta seluruh warga Nahdliyyin mendoakan Anregurutta Harisah AS.

PonPes Al-Amin Pabuaran

PonPes Al-Amin Pabuaran

Takdir memang tidak bisa dilawan, tapi kita bisa dan diberi hak untuk berdoa. Semoga dengan doa kita semua, beliau segera sembuh, ujar Helmi yang juga putra mantan Rais Aam PBNU Anregurutta H. Prof. Alie Yafie.

Menurut Helmi, Anregurutta Harisah AS adalah ulama langka NU yang masih tersisa. Anregurutta Harisah AS mendirikan Annadhlah belasan tahun silam di kawasan Bontoala dengan tekun Anregurutta Harisah AS membawa santri yang awalnya hanya tujuh orang dengan metode pesantren klasik, mangngaji tudang.

Beliau tokoh yang sangat penting untuk kalangan NU. Saya kira untuk masa sekarang ini, beliau adalah harapan bagi warga dan kader NU. Beliau ini tokoh dengan karakter ulama NU sejati, rendah hati, tidak menonjolkan diri, hati-hati dan teguh; sangat konsisten dengan khittah dan nilai-nilai NU, serta berjuang tanpa pamrih meneggakkan ajaran ahlusunnah wal jamaah, ujar Helmi.

Menurut Helmi, Anregurutta Harisah AS pantas menjadi guru besar karena selain kedalam ilmunya, penguasaannya terhadap wacana Islam klasik khas ulama NU juga memberi contoh dengan perilakunya yang patut untuk diikuti.

Kita bisa melihat bagaimana selama ini beliau selalu menjaga jarak dengan kekuasaan, tidak tergoda dengan kekuasaan dan populeritas. Beliau lebih memilih berada di tengah warganya ketimbang berada di atas populeritas, lebih menjadi teman warganya ketimbang menjadi juru bicara kekuasaan yang menjanjikan poularitas, kata Helmi.

Tentu tidak ada yang sempurna, tetapi untuk saat sekarang ini beliaulah tokoh yang patut dijadikan guru, acuan, dan teladan. Beliau sangat berharga bagi kita semua, ujar Helmi menambahkan.

Dia mengaku sudah menyerukan kepada cabang-cabang NU, Muslimat NU, GP Ansor, Fatayat NU, IPNU, IPPNU, PMII, dan komunitas Nahdliyyin di Sulawesi Selatan untuk mendoakan Anregurutta Harisah AS.

Sedangkan menurut alumnus Annahlah UP Ahmad Baso intelektual muda NU, Anregurutta Harisah AS, selain dikenal sebagai ulama yang wara. Ia juga menyebutnya Sang Idelog Bontoala.

Dahulu kota Bontoala (yang sekarang menjadi salah satu kecamatan di Makassar) dikenal sebagai kota santri dan sebagai kota perlawanan pada masa penjajahan. Beliaulah yang meneruskan ide-ide santri bontoala dulu, ujarnya di akun faccebooknya.

Redaktur : A. Khoirul Anam

Kontributor: Andy Muhammad Idris

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/44510/warga-nu-diseru-doakan-anregurutta-harisah

PonPes Al-Amin Pabuaran

Kamis, 25 Juni 2015

Korban Narkoba Tak Boleh Disembunyikan, Tapi Harus Dirawat

Bekasi, PonPes Al-Amin Pabuaran. Sesi workshop Peningkatan Kapasitas Tokoh Agama dalam Penanggulangan Penyalahgunaan Napza yang digelar Direktorat RSKP Napza Kemensos RI, Jumat (4/11)berlangsung meriah dan dinamis.

Peserta tak hanya antusias mengikuti pemaparan narasumber, salah satunya Staf Ali Mensos, Prof M Masud Said PhD, tapi juga aktif mengajukan beragam pertanyaan seputar narkoba terutama terkait penyembuhan korban.

Korban Narkoba Tak Boleh Disembunyikan, Tapi Harus Dirawat (Sumber Gambar : Nu Online)
Korban Narkoba Tak Boleh Disembunyikan, Tapi Harus Dirawat (Sumber Gambar : Nu Online)


Korban Narkoba Tak Boleh Disembunyikan, Tapi Harus Dirawat

Ketua PCMNU Bojonegoro, Imroatul Azizah, menyoroti efektifitas terapi sosial yang dibutuhkan eks pengguna karena selama ini kehadiran mereka belum sepenuhnya diterima masyaraat. Hal sama ditanyakan Binti Muslikah dari PCMNU Way Kanan, Lampung serta Hj Munawaroh dari PCMNU Jakarta Utara seperti dikutip dari laman muslimat-nu.com.

PonPes Al-Amin Pabuaran

Menjawab pertanyaan peserta, Prof Masud menuturkan, mindset keluarga yang anggota keluarganya terkena narkoba harus diubah.

Harusnya korban disembuhkan, bukan malah disembunyikan. Ini memang agak berat, tetapi Kemensos sudah membuat SOP (Standart Operating Prosedure). Konsultasikan jika menemukan orang yang terpapar ke IPWL (Institusi Penerima Wajib Lapor), katanya.

PonPes Al-Amin Pabuaran

Kemensos, kata Prof Masud, memiliki 160 IPWL yang tersebar di 27 provinsi. Biaya operasional dibantu Kemensos dengan uang tenaga dan pelatihan, termasuk Abah Nyong (pemilik terapi metode rebus yang turut hadir dalam workshop).

Jika ada yang terpapar bisa dibawa ke IPWL dan dijamin gratis. Siapa yang membiayai? Pertama tentu pemilik terapi. Kedua dari Kemensos karena memang ada anggaran setiap tahun untuk rehabilitasi, tandasnya.

Menurut Prof Masud , terapi tidak hanya soal mental tapi juga fisik. Korban bakal disuruh lari, renang maupun TC (therapeutic community) agar badannya bergerak dan keluar keringat keluar.

Kalau keringat keluar maka zat-zat adiktif juga ikut keluar. Tapi kalau anak di kamar saja, mikirnya menjadi nggak karu-karuan dan bisa bunuh diri, ujarnya.

Menariknya, Kemensos tak membatasi metode penyembuhan ke-160 IPWL. Selain metode rebus, ada pula metode yang meminta korban mengembangkan potensi apapun kesukaannya asal positif.

Sebab, kata Prof Masud, anak-anak nakal bisa saja bohong tapi kalau disuruh main musik, olahraga atau seni hasilnya bagus. Mereka punya talenta yang perlu dikembangkan tanpa harus dimarahi setiap hari karena dampaknya si anak justru bisa lari.

Pendekatan Kemensos itu holistik. Tak hanya kasih ayat sama hadits saja. Tentu bukan salah ayat dan hadits-nya, tapi cara menyampaikan tidak tepat dan tak jelas, katanya. Red: Mukafi Niam

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/72698/korban-narkoba-tak-boleh-disembunyikan-tapi-harus-dirawat

PonPes Al-Amin Pabuaran

Selasa, 09 Desember 2014

Habib Luthfi: Ketika Baca Bismillah Untuk Toko Laris Tapi Lupa Allah

PonPes Al-Amin Pabuaran - Sebetulnya Bab wilayah atau kewalian dalam kitab Jami' Ushul fi al-Auliya adalah hanya untuk pengetahuan kita semua. Dari pelajaran itu kita ambil poin-poinnya saja. Adapun ahwal (perbuatan) dan amaliah para wali Allah sulit untuk bisa kita takar.

Habib Luthfi: Ketika Baca Bismillah Untuk Toko Laris Tapi Lupa Allah
Habib Luthfi: Ketika Baca Bismillah Untuk Toko Laris Tapi Lupa Allah


Jangan ingin menjadi wali. Tapi yang seharusnya kita lakukan adalah bertanya, apa sebab beliau diangkat oleh Allah Swt. menjadi waliNya? Sebabnya hanya satu, yang terdiri dari dua hal, yakni ketaatannya kepada dua orangtua dan gurunya. Ini yang perlu kita tiru.

Kalau orang awam melakukan mujahadah malam, ibadah malam, membaca dzikir, membaca ayat sekian, membaca tasbih sekian, (hal itu dilakukan) menunggu kalau utangnya banyak, mendapat musibah dan cobaan. Atau (mendapat) sesuatu yang menjadikan susah pada dirinya, baru dia mencari kuncinya untuk mendekat kepada Allah Swt. Saat sudah berhasil terkadang lupa lagi pada Allah. Wajar-wajar saja karena kita tingkatannya orang awam, allahumma ma'lum, salah 3 dapatnya 7, salah 5 dapat(nilai)nya masih 8.

Tapi kalau tingkatan para wali Allah, benar semua malah dapatnya nol. Kenapa, karena tidak merasa. Apa yang telah dikerjakan tidak ke pribadi, melainkan dikembalikan semua dari dan kepada Allah Swt. Tidak merasa memiliki. Kalau menghadap kepada Allah Swt., ia melupakan semua yang sudah dibacanya, sudah dapat sekian khataman setiap malamnya, berdzikir sekian ribu kali. Beliau (wali Allah) tidak pernah mengingat-ingatnya di hadapan Allah Swt. Itu semata-semata ketaatan kepada Allah Swt.

Saat mendapatkan ijazah 'Bismillah' (misalnya) dari seorang kiai, dibaca sekian kali agar usahanya lancar, tokonya laris, rejekinya banyak, untungnya banyak, dlsb. Ketika dibaca (diamalkan) yang dibayangkan adalah usaha lancar, toko laris, rejeki dan untung yang banyak, ia lupa kepada Allah Swt. karena yang diingat adalah khasiatnya Bismillah (bukan Allah). Akhirnya mampir dulu, sehingga pantas jika tidak diberi langsung. Jika hatinya lepas (dari hal tersebut) dan betul-betul hanya ingat Allah, maka pasti akan diberi langsung.

Para wali Allah akan malu jika melakukan hal demikian. Para wali di hadapan Allah Swt. itu faqir, tidak merasa punya amaliah kebaikan sedikit pun dan tidak pula merasa bisa begini dan begitu. Hatinya selalu dibersihkan, tashfiyatul qulub watazkiyatun nufus, terus berusaha (bermujahadah) setiap malamnya.

Nah kalau tingkatan kita (awam), boro-boro. Alhamdulillah ada hadits Baginda Nabi Saw., "Kelak manusia akan dikumpulkan dengan orang-orang yang dicintainya." Kita bisa berdoa, "Allahumma amin". Semoga dikumpulkan bersama beliau, setiap shalat kita membaca "Ihdinasshirathal mustaqim". Dan berdoa (QS. an-Nisa ayat 69-70):

مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا ذَٰلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللَّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ عَلِيمًا

Kunci yang pertama taat kepada dua orangtua, ini tangga/pintu yang paling luar biasa. Yang kedua adalah taat kepada guru. Taat kepada dua orangtua bukan sekadar taat-taat saja. Tapi ketaatan itu selalu menggugah kembali jasa-jasa orangtua kita pada diri kita. Kalau kita sering dzikrul walidain, mengingat dua orangtua, nasihatnya, bahkan jika sempat ditulis. Itu merupakan bagian dari dzikrul walidain, taat kepada dua orangtua. Karena dengan menceritakan kedua orangtua akan menambahkan kecintaan kepada mereka.

Nah bagaimana kalau Baginda Nabi Saw? Kalau kita sering membaca shalawat, otomatis akan semakin "dzikrun Nabiy" (mengingat Nabi), dan lama-lama akan muncul haya', malu kepada Baginda Nabi Saw.

Sifat manusiawi, timbul perasaan luar biasa jika cintanya kepada lawan jenis diterima. Dia akan menjaga cintanya betul-betul dan berusaha selalu jujur. Sangat takut putus cinta. Padahal diterimanya cinta tersebut dari lawan jenis tidak menjadi jaminan selamat dari siksa neraka. Tapi kepada dan dari Baginda Nabi Saw. itu menjadi jaminan, illa man aba (kecuali yang enggan/lari).

Ketika ayat turun, "Walasaufa yu'thika Rabbuka fatardha", Rasulullah tidak ridha kalau salah satu ummatnya masuk ke dalam api neraka, kecuali orang yang "aba", yang lari dari Baginda Nabi Saw. Jaminan bagi yang cinta kepada Nabi Saw., pasti akan mendapatkannya sebagaimana permintaan Nabi Saw. kepada Allah Swt. Anehnya, kita tidak pernah takut putus cinta kepada Baginda Nabi Saw.

Padahal saat seseorang putus cinta dengan lawan jenisnya, dia gandrung, bikin puisi sendiri, bikin sajak sendiri. Kalau dengar lagu-lagu yang berkenaan dengan waktu dia bercinta dengan seseorang masih terngiang sekalipun bagi orang lain tidak enak. Tapi orang ini senang karena lagu itu mempunyai kenangan, dingat-ingat terus. Masa' dengan Baginda Nabi Saw. tidak, aneh bin ajaib, mestinya kita harus takut putus cinta dengan Baginda Nabi Saw.

Berangkat dari birrul walidain tadi dan berangkat dari taat kepada para masyayikh (guru) kita, itulah kunci-kuncinya. Meskipun ilmunya sundul langit jika dengan dua orang tuanya tidak taat, jangan diharap ilmunya manfaat. Begitu juga kaya sekaya apapun tapi sama orangtua tidak taat, jangan diharap dunianya barokah, bagai air yang cepat habis.

Maka dari itu kita tadi mendengarkan keterangan bab wilayah (kewalian), kita hanya mengambil khulashah (ringkasan) orang-orang yang diangkat oleh Allah Swt. menjadi para waliNya, yakni dengan birrul walidain dan taat kepada gurunya.

Itulah yang menjadi sebab mengantar dirinya mendapat "Ridhallah fi ridhal walidain". Kita kembalikan juga "Ridhallah fi ridha rasulih", untuk ummat. Dan kita mengharapkan ridha Rasulullah Saw., karena apakah ridha orangtua lebih bernilai dari ridha Nabi Saw.? Untuk bisa menggapai keridhaan Nabi Saw. harus mencapai keridhaan orangtuanya. Baru kita akan mencapai ridha Allah Swt. [PonPes Al-Amin Pabuaran]

Keterangan: Ulasan di atas adalah transkip keterangan yang disampaikan oleh Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya pada Pengajian Rutin Jum'at Kliwon, 20 Januari 2017. 

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/habib-luthfi-ketika-baca-bismillah-untuk-toko-laris-tapi-lupa-allah.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PonPes Al-Amin Pabuaran sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PonPes Al-Amin Pabuaran. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PonPes Al-Amin Pabuaran dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock